Real Country Story: Sebuah Ladang di Banjar Paketan, Sukawana -Kintamani.

Standard
Real Country Story: Sebuah Ladang di Banjar Paketan, Sukawana -Kintamani.

Beberapa saat yang lalu saya & saudara-saudara saya mampir di lahan pertanian & peternakan milik seorang keluarga kami di banjar Paketan, desa Sukawana, Kintamani – Bangli. Kebetulan keluarga saya itu sedang sakit. Saat saya datang, beliau sedang berbaring di pembaringan dekat tungku menyala yang berfungsi ganda sekaligus sebagai perapian untuk mengusir hawa dingin Kintamani yang menusuk tulang.

Ladang jeruk dan kopi yang luas itu dilengkapi dengan rumah induk yang terdiri dari kamar tidur dan ruang duduk. Sebuah dapur yang hangat, bangunan tempat menyimpan pupuk dan alat-alat pertanian lainnya, ruangan tempat menyimpan hasil panen, empat blok kandang ayam, kandang sapi dan kandang babi. Lalu sumur untuk memastikan pasokan air di musim kemarau serta kamar mandi. Berada di rumah pertanian itu membuat saya teringat akan games Harvest Moon ataupun Country Story yang sangat digandrungi anak-anak. Keduanya mengambil latar belakang kehidupan di pedesaan. Di sebuah lahan pertanian dan peternakan, dimana anak-anak bermimpi bisa mengolah tanah, menanam sayuran, memelihara ternak, memanen hasil dan menjualnya. Mimpi akan sebuah kehidupan yang damai dan sangat menyenangkan.

Mimpi yang sama juga pernah saya miliki saat masih menjadi mahasiswa di fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Saya bermimpi untuk menghabiskan masa tua saya di lahan pertanian dan peternakan berpagar mawar rambat. Beternak ayam dan sapi, menanam sayuran dan tanaman hias. Namun sayangnya mewujudkan mimpi itu memang tidaklah pernah mudah.

Saat ini, ketika melihat dari dekat kehidupan di lahan pertanian di balik Gunung Batur, Kintamani  yang dingin ini, sungguh saya seperti melihat games Country Story  itu dalam dunia nyata. Dan saya seperti melihat kembali mimpi indah saya yang sempat hilang.

Paketan, adalah sebuah banjar yang terletak di sisi barat Gunung Batur, Kintamani Bangli di Bali. Untuk mencapainya, kita bisa melalui jalur Kintamani- Singaraja hingga di pertigaan Pura Puncak Penulisan. Dari sana kita mengambil arah ke kanan, menembus hutan pinus mengikuti jalan yang berliku turun ke bawah. Pemandangan di sepanjang jalan sungguh luar biasa. Kita bisa melihat sisi barat dari Gunung Batur. Sisi yang tidak umum dilihat oleh para turis.

Seperti umumnya ladang-ladang di Kintamani sebelah barat, jeruk dan kopi merupakan andalan utama. Beberapa jenis tanaman lain juga ditanam di lahan itu antara lain pisang, terung belanda, jeruk bali, delima dan tanaman sayuran untuk keperluan sehari-hari. Saat saya datang, bunga-bunga putih nan harum semerbak bermekaran dari cabang-cabang pohon kopi menebarkan wangi ke udara. Demikian juga tanaman jeruk. Mulai berbuah memenuhi cabang dan rantingnya, walaupun belum siap panen. Saya sempat berjalan di sekeliling ladang. Mampir di kandang ayam, kandang sapi dan kandang babi yang riuh berbunyi saat saya muncul di dekatnya.

Sepasang sepatu kandang teronggok di dekat kandang, mengingatkan diri saya sendiri ketika masih mahasiswa dan saat aktif menjalankan profesi saya sebagai dokter hewan. Saat itu saya sering beraktifitas dari kandang ke kandang dengan sepatu boot seperti itu. Seekor anjing Kintamani berwarna hitam (warna yang jarang) yang merupakan anjing penjaga ladang itu menyapa saya ketika saya kembali ke rumah pertanian itu. Di dekat rumah tanaman hias beraneka ragam juga sedang bermekaran. Ada kembang sepatu ungu, marigold, rose, african blood lily, anggrek dan sebagainya. Bunga-bunga itu seolah sangat menikmati udara dingin pegunungan. Benar-benar sebuah kehidupan yang damai di ladang. Real country story…

7 responses »

  1. Cerita yang menarik dan realitas anak bangsa (pahlawan pertanian) yg jauh dari keramaian namun rame dihati. Karena sesungguhnya mereka2 itulah yang merdeka sesungguhnya. Dia bekerja mengolah ladangnya sendiri, menyiangi, merawat bqagaikan memberikan kasih yg tak henti2nya lalu tumbuh dan matang dipetik sendiri bagaikan imbalan yg tiadataraNYA. Sesungguhnya inilah SWADESI, ….makasih tulisannya n teruslah menulis biar bisa berbagi.

    Salam

    D’tra

  2. Omswastyastu, kayaknya pengin berkunjung ke Banjar Paketan. Di kota sumpeg Bu, rata-ratu suhu di sana berapa ya Bu dokter. Sebenarnya banyak pertanyaan dalam benak saya untuk suasana pedesaan di sana.
    Matursuksma sudah baca pesan saya Bu.

  3. Terimakasih atas tulisannya yang bercerita tentang tanah kelahiran saya, kebetulan saya anak petani yang berasal dari Br, Paketan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s