I Nyoman Strawberry..

Standard

 

Saya terpana memandang nama yang tertera di layar telpon genggam saya saat berdering. I Nyoman Strawberry!!.  Siapa I Nyoman Strawberry? Saya tak pernah memiliki kerabat, teman maupun kenalan yang bernama itu. Sementara telpon terus berdering dan belum saya angkat juga. Saya berusaha memeras otak saya untuk mengingat kembali siapa gerangan orang yang bernama Nyoman Strawberry itu. Tetap tak mampu mengingat dan tidak saya angkat.  Akhirnya dering telpon itu berhenti.

Saya menggaruk-garuk kepala saya berusaha mengingatkan kembali otak saya agar segera mengeluarkan memori akan nama Nyoman Strawberry. Namun tetap juga tak keluar sepotongpun ingatan akan nama Nyoman Strawberry itu dari otak saya. Akhirnya beberapa menit kemudian, ketika telpon berdering lagi dengan nama Nyoman Strawberry tertera di layarnya, terpaksa saya angkat juga. Jika saya sampai menyimpan nomor seseorang di telpon saya, saya pikir tentulah minimal seharusnya saya mengenal orang itu. Siapapun dia, tentu tidak sopan untuk tidak menjawab panggilannya. Sama sekali tidak saya duga, ternyata saya mengenal suara pemilik nama Nyoman Strawberry itu. Yakni  adik saya sendiri yang kebetulan bernama depan Nyoman !. Tentu saja namanya bukan Nyoman Strawberry. Tapi Nyoman yang lain.  Ooooh…. ya ampuuun..

Sekarang saya ingat bagaimana asal muasal, mengapa saya memberi nama  I Nyoman Strawberry kepada adik saya di handphone. Beberapa waktu yang lalu, ketika saya bertemu dengannya,  ia memberi tahu bahwa ia memiliki nomor telpon genggam baru. Sementara nomer yang lama juga masih ia pakai. Ia menyarankan saya untuk menelpon ke nomor tersebut jika perlu berbicara dengannya. Saat itu saya melihat bahwa ia juga memiliki pesawat handphone baru yang mirip tampilannya dengan Blackberry. Saya tidak ingat merknya. Lalu dengan bergurau saya bilang “ Wah .. kok mirip Blackberry?.  Jadi namanya Strawberry saja!” kata saya.  Adik saya tertawa akan   gurauan saya.  Kami sepakat memang bentuk  handphone itu  sangat serupa dengan bentuk Blackberry. Setelah itu saya simpan nomernya. Dan sejak itu pula resmilah ia bernama I Nyoman Strawberry di daftar kontak saya di telpon genggam.

Banyak buku-buku yang membahas tentang kemampuan otak dalam  mengingat segala sesuatu. Dan banyak diantaranya yang menceritakan, jika kepada sesuatu yang perlu kita ingat itu dibubuhkan imajinasi, maka akan semakin mudah kita mengingatnya. Misalnya jika kita ingin menghapal 5 kata misalnya: Mangkok – Monyet- Sepatu- Ikan-Odol, maka kita bisa merangkainya menjadi kalimat yang lucu dan imajinatif untuk memudahkan kita mengingatnya , termasuk mengingat urutannya. Misalnya, kita bisa membuat kalimat imajinatif seperti ini: “Sebuah Mangkok ditaruh di  kandang Monyet,  dimana monyetnya pintar pakai Sepatu, lalu dikasih hadiah Ikan dengan saus Odol”. Nah, jika dirangkai menjadi kalimat imajinatif konyol begitu, tentu akan mudah untuk mengingatnya bukan? Saya pikir ada benarnya juga kata-kata para pakar otak itu.

Lalu sekarang mengapa saya bisa lupa bahwa nomor dengan kode I Nyoman  Strawberry adalah nomor adik saya? Padahal awalnya saya mengimajinasikan handphone adik saya sebagai Blackberry? Harusnya saya bisa mengingat dengan mudah. Namun faktanya saya gagal me’re-call’ memory tentang Nyoman Strawberry ke permukaan otak saya.  Gagal me’recall’ sesuatu yang sangat imajinatif!. Apanya yang salah? Cukup lama saya memikirkan hal itu.

Awalnya saya berpikir apakah saya mengalami gangguan ‘short memory disorder’ yang makin lama makin parah. Wah! Tentulah itu bukan berita baik buat saya. Tak ada orang yang mau menjadi cepat pikun, bukan?

Namun kemudian saya agak sedikit terhibur, ketika dalam usaha mencari-cari pembenaran atas ke’pikun’an saya itu, saya menemukan ada gap antara apa yang harusnya saya ingat dengan apa yang saya record pada saat melakukan proses imajinasi. Ketika saya ingin mengingat bahwa nomor itu adalah nomor baru adik saya,  saya sama sekali tidak melibatkan adik saya dalam proses imajinasi kreatif itu. Saya hanya menyambungkan kata: Handphone  – BlackberryStrawberry.  Yang saya bayangkan dalam imajinasi saya adalah sebuah Blackberry berwarna merah cerah dengan ornament strawberry. That’s it!.  Tidak ada sepotongpun bayangan wajah adik saya,  yang saya libatkan di sana. Walaupun dalam penulisan itu saya menaruh nama Nyoman yang memang merupakan nama panggilan adik saya, namun nama Nyoman bersifat sangat generic di Bali. Tidak spesifik. Ada beratus-ratus ribu orang bernama Nyoman di Bali.  Jadi, ketika kita memanggil “ Maan! Nyoman!” di tengah kerumunan pasar di Bali,  maka akan ada banyak orang yang merasa bernama Nyoman menoleh kepada kita.  Nama Nyoman tidak pernah mengacu exclusively pada adik saya yang bernama Nyoman itu. Ia memiliki nama lain yang lebih ekslusif , selain nama Nyoman sebagai nama generik untuk setiap anak ke-3 dalam keluarga Bali.

Ketika nama yang tidak spesifik  mengacu pada object tertentu kita masukkan ke dalam proses berpikir imajinatif, tentunya hal itu tidak akan membantu kita me-recall segala sesuatunya dengan baik. Jadi di dalam Creative Thinking Process yang hasilnya akan kita gunakan untuk mengingat segala hal dengan lebih baik dan mudah,  kita perlu  selalu memasukkan  element-element kunci yang relevant dan spesifik.  Jika itu tidak kita lakukan, tentu akan membuat pekerjaan mengingat meenjadi hal yang lebih sulit dilakukan. Harusnya saya memasukkan nama exclusif adik saya, bukan nama generiknya.

Ha ha! Akhirnya saya menemukan pembenaran diri dalam kasus kealpaan mengingat kata I Nyoman Strawberry…

15 responses »

  1. Paparan jeng Dani mengindikasikan sel pikir imajinatif analogis berkembang pesat nih, seiring ruwetnya tombol kita lupa menekan tombol pengingatnya ya. (Sst jadi penghibur saya bahwa menjadi makin pelupa hehe). Salam

    • He he he.. sel pikir imajinatif analogisnya sih berkembang pesat, Bu Prih… tapi memorynya barangkali harus segera diup-grade..ibarat flash disc jaman dulu, spacenya udah hampir habis karena skalanya kecil he he he… Tapi saling berteman,saling mendukung dan saling berbagi,kelihatannya akan banyak bisa memperbaiki grade kita nih Bu Prih.Thanks ya..

  2. Senior saya pernah memberi tips untuk mencegah kepikunan.

    1. Jika lupa sesuatu maka kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mengingatnya sampai ketemu. Jika kelupaan itu dibiarkan berlarut-larut dan seringkali terjadi maka lama-lama akan pikun. Misalnyambak Sri lupa nama blog saya, cari terus terus terus terus..sampai ingat.

    2. Mengisi TTS sesering mungkin, ini melatih otak kita mengigat sesuatu. Jadi belilah buku TTS seminggu sekali mbak.

    Lain halnya jika kita harus mengingat dua hal yang agak sulit, misalnya stalaktit dan stalakmit. Guru bahasa Inggris saya memberika tips :

    -Stalaktit _ ambil hurut T nya – lalu bentuk kata MANTHUR – manthur artinya air yang menetes dari atas. Nah stalaktit letaknya diatas.

    -Stalakmit-ambil huruf M nya- bentuk kata MUNCRAT- muncrat berarti air dari bawah- berarti stalakmit itu letaknya dibawah.

    Semoga bermanfaat.

    Salam hangat dari Surabaya

    • He he.. berarti institisinya Mbak Isnuansa ini tajam ya Mbak.. Thanks atas kebaikannya telah berkunjung ke blog saya. tadi saya sempat main-main ke blognya Mbak Isnuansa. Wah.. sudah piawai amat ya. nanti saya banyak belajar dari Mbak Isnuansa boleh ya.. Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s