Mengapa Miana Berdaun Coklat Jingga Tetap Hidup Subur?

Standard
Mengapa Miana Berdaun Coklat Jingga Tetap Hidup Subur?

Ketika sedang ceklak-ceklik ngebrowse blog para sahabat, tanpa sengaja saya menemukan sebuah pertanyaan yang menggelitik pikiran saya tentang “Bagaimana caranya tumbuhan Coleus  yang daunnya berwarna warni (tidak hijau) memproduksi makanannya?” Agaknya belum ada diantara teman-teman yang menjawab pertanyaan ini. Setidaknya di site tersebut.

Sebenarnya saya juga tidak tahu persis jawabannya. Namun pertanyaan itu membuat saya membongkar file-file lama untuk mencari foto berbagai jenis tanaman Coleus yang pernah saya miliki beberapa tahun yang lalu. Sayangnya pencarian terasa memakan sangat banyak waktu dan saya belum berhasil menemukannya juga.  Malah yang saya temukan adalah foto-foto dari tanaman Coleus alias Miana berdaun jingga hijau keriting di halaman rumah kakak saya di Bali beberapa saat lalu.

Untuk memudahkan saya lebih suka menyebut tanaman ini sebagai Miana. Karena begitulah setahu saya nama tanaman ini dalam bahasa Bali maupun dalam Bahasa Indonesia. Entah kenapa tukang tanaman sekarang mengenalnya dengan nama asing Coleus. Barangkali agar lebih keren dan laku.

Miana berdaun jingga hijau dan keriting ini sungguh sangat menarik. Tak lepas-lepas saya mengagumi keindahan designnya. Berukuran cukup lebar, bergerigi mirip sayap burung rajawali yang sedang dibentangkan dengan dominasi warna jingga (oranye). Di bagian tengah daun terlihat warna coklat gelap kehitaman yang kemudian tersapu warna hijau terang disepanjang tulang-tulang daunnya.

Nah jika saya lihat dari Miana ini tentu dengan mudah kita masih bisa menjawab pertanyaan rekan blogger tersebut, bahwa walaupun daun Miana berwarna warni, namun toh ia tetap memiliki sedikit bagian daun yang berwarna hijau ( mengandung Chlorophil) untuk membuat makanannya di bawah cahaya matahari. Saya ingat kebanyakan Miana sebenarnya masih mengandung sedikit warna hijau.

Tapi bagaimana dengan Miana yang sama sekali tidak memiliki warna daun hijau? Misalnya yang daunnya berwarna ungu sangat gelap, sangat pink, jingga maupun kuning? Tentu jumlah chlorophillnya sangat sedikit. Atau bahkan tidak ada?  Barangkali yang mendominasi malah Carotene, Anthocyanine dan sebagainya pigment-pigment yang lain. Wah, karena tidak memiliki penjelasan yang benar, maka saya mulai mereka-reka sendiri.

Kakak saya bercerita bahwa tanaman Miana ini disetek dari halaman rumah seorang kerabat. “Warnanya awalnya sebenarnya hanya coklat penuh, tapi entah kenapa kok berubah jadi begini sekarang” katanya. Kakak saya memiliki 2 rumpun tanaman ini di halamannya (satu di tengah halaman dan terpapar sinar matahari yang sangat terik; sementara satunya lagi di dekat pintu gerbang yang walaupun kena cahaya matahari tapi relatif lebih teduh). Saya perhatikan tanaman Miana yang didekat gerbang warnanya lebih hijau dibanding yang di halaman tengah. Yang digerbang – terutama yang kurang mendapatkan sinar matahari, hanya memiliki sedikit semburat warna jingga. Jadi, sebenarnya pigment tanaman ini sangat dipengaruhi oleh sinar matahari.Dan barangkali kandungan tanah tempatnya tumbuh (walaupun kecil kemungkinannya, karena lokasinya yang sangat dekat namun warna yang dihasilkannya berbeda).

Ada beberapa alternatif pikiran saya: pertama mungkin sebenarnya daun Miana ini memiliki bakal pigment aneka warna (Chlorophyll, Anthocyanine, Carotene, Xantophyll), yang barangkali dominansinya sangat dipengaruhi oleh sinar matahari. Jika jenis ini kena matahari, barangkali pigment Carotene lah yang mendominasi sehingga warna jingga cemerlang yang muncul banyak. Sebaliknya jika  sinar matahari kurang, pigment Chlorophill yang mendominasi sehingga kesulurahan warna daunnya terlihat hijau. Jadi, maksud saya – walaupun terlihat bahwa daun itu berwarna jingga, ungu, pink atau entah apa lagi, namun sebenarnya daun ini barangkali masih tetap memiliki pigment warna hijau (Chlorophyl) walaupun tidak dominan, sehingga masih tetap bisa memasak makanannya dengan baik. Ini jawaban yang ‘nyocok-nyocokin’ dari apa yang saya amati dari tanaman Miyana, baik di halaman rumah saya sendiri maupun di halaman rumah kakak saya.

Alternatif pikiran yang ke dua: Melihat fakta bahwa cukup banyak tanaman yang memiliki daun  bewarna  selain hijau (miana, kayu pucuk merah, bayam merah, kol ungu, sambang darah, dsb) – jangan-jangan pemahaman selama ini bahwa pigment yang berperanan melakukan fotosintesa pada daun adalah Chlorophill  – seperti yang diajarkan oleh guru kita waktu SD itu salah? Jangan-jangan pigment lainpun sebenarnya masih bisa ikut berperanan dalam proses fotosintesis?

Ha ha ha.. yang kedua ini adalah pemikiran sok tahu saya. Tapi menurut saya toh sah-sah saja mempertanyakan ‘status quo’ – segala sesuatu yang selama ini ter-established dalam pikiran kita, bukan? Toh tak pernah ada jaminan bahwa apa yang kita tahu adalah apa yang paling benar. Nah, marilah kita selalu mempertanyakan apa-apa saja tentang hal di sekeliling kita. Selagi kebebasan berpikir masih kita miliki. Jangan terlalu khawatir bahwa pendapat kita itu salah dan ditertawakan orang lain. Toh tak ada manusia yang mampu memahami segala titi teliti tentang alam ini. Saya pikir, mempertanyakan segala sesuatu dan memberi alternatif pikiran baru yang nyeleneh tidak akan membuat kita masuk penjara, bukan?

Saya hanya penggemar tanaman hias biasa, namun sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan tentang tanaman dan pertanian. Berharap seseorang yang lebih ahli, bisa membantu saya menjawab pertanyaan menggelitik  ini.

19 responses »

  1. Hahaha..aku suka yg ini mempertanyakan kemapanan sebuah teori yg kita terima dari pendahulu. Meragukan segala sesuatu ternyata bukan cuma milik para ilmuwan. Kalau gak baca tulisan ini aku gak kepiran terhadap daun-daun kayu manis yang selalu merah saat muda, hanya seiring berjalannya waktu baru mereka hijau. Apa selama bayi mereka gak perlu makanan? Good taste Mbak…

    • Ya. Miana atau ada juga yang melafalkannya dengan Miyana, itu adalah nama tanaman hias berdaun cantik. Karena namanya juga cantik, maka banyak juga anak perempuan yang diberi nama Miana. Thanks dah berkunjung ya..

  2. semua teori itu kayaknya masuk akal mbak, tapi aku kok lebih cenderung teori pertama ya

    nggak ada kenalan ahli botani juga yang bisa bantu jawab he..he..

  3. wah aku malah baru tahu lho mbak ttg Miana ini, cantik juga yach🙂
    kalau pas ke toko bahan bangunan yg ada floranya , terlihat juga banyak tanaman warna warni kayak Miana di atas, cuma di sini itu nggak boleh motret tanaman atau bunga yg ada di dalam di toko

    • Hi Mbak Elly.. wah pelit juga para pemiliki toko bunga itu ya Mbak. Masa motret bunga aja nggak boleh?
      Tapi nggak apa-apa juga. Kan Mbak Elly bisa potret potret object yang lain. Saya lihat foto-foto di blog MbakElly bagus-bagus. Mulai dari foto foto matahari sampai ke motor. Nanti kalau Mbak Elly pulang ke tanah air, bisa ambil foto-foto bunga di sini Mbak. Kalau tukang tanaman di sini kita motret bunganya malah senang. Ada juga yang bahkan pengen dipotret dan ikut mejeng bersama bunganya… he he..itulah ramahnya tanah air.

  4. Siip klorofilnya dijawab dg apik oleh Eda Monda, tak hanya tanaman beberapa bakteri juga berklorofil. Kolektor miana adalah pribadi2 yang sabar mengingat cepat sekali pertumbuhannya dan harus rajin memformat agar tetap cantik dan tidak terlalu rimbun tuk jadi host si kutu putih. Salam miana Jeng Ade

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s