Joged Bumbung, Kemeriahan Tarian Rakyat.

Standard
Joged Bumbung, Kemeriahan Tarian Rakyat.

Catatan tercecer dari acara Temu Alumni – Dies Natalis FKH UNUD. 

Salah satu tarian rakyat yang menarik dan banyak digunakan untuk memeriahkan suasana keakraban di Bali adalah Joged Bumbung. Tarian ini juga yang digelar untuk menyemarakkan Dies Natalis Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana beberapa waktu yang lalu. Acara ini mampu membuat semua hadirin tertawa riang penuh kegembiraan melihat kepiawaian penari Joged Bumbung dan kelucuan tingkah laku para pengibing yang di’jawat’ (ditunjuk) oleh penari.

Seperti namanya, Tarian Joged Bumbung mempergunakan iringan perangkat musik dari bambu (Bumbung) yang umumnya berlaras Slendro. Beda dengan banyak jenis tarian Bali lain yang bersifat formal ataupun sakral, tari joged bumbung biasanya sangat merakyat dan apa adanya. Tak banyak aturan main. Penari biasanya langsung terjun ke arena tanpa pakem tari yang resmi. Walaupun secara umum mengikuti alur standard sebuah tarian  yakni  Pembukaan lalu Ngelawang/Mapang dan Penutup, namun gerakan-gerakan tari di dalamnya sungguh merupakan gerakan suka-suka, sesuai dengan improvisasi masing-masing penari. Tak heran jika kita melihat ada penari Joged Bumbung yang menari dengan gaya “Shakira” ala Bali.

Tarian ini sangat menarik dan sangat seru,  terutama karena stelah usai dengan gerakan pembukaannya, penari (yang umumnya wanita) kemudian mulai mencari “incaran”  diantara para penonton. Tentu saja yang diincar oleh penari wanita ini adalah pria yang menurutnya menarik, atau yang direferensikan oleh para penonton. Jika penari menyentuhkan kipasnya ke tubuh seorang penonton pria, maka pria yang bersangkutan sebaiknya turun langsung ke arena untuk menari (mengibing). Banyak yang merasa malu dan menolak saat ditunjuk. Namun banyak juga yang nekat berani terjun ke arena. Ada yang mampu menari dengan baik, namun banyak juga yang menari dengan konyol. Tentu saja segala kekonyolan tingkah laku penari dan pengibing ini menjadi tontonan yang sangat ditunggu-tunggu. Derai canda tawa pun  bergemuruh. Apalagi para pengibing merupakan rekan-rekan yang dikenal dekat oleh para hadirin, para mahasiswa dan dosen –  tak ayal suara teriakan pemberi semangat, yel-yel dan suit-suit pun berseliweran.

Walaupun pengibing diharapkan menari bersama sang penari Joged, namun umumnya pengibing memahami batas-batas etika pergaulan. Lumayan, siang yang panas di kampus hari itu pun menjadi istimewa oleh pertunjukan Joged Bumbung.  Viva FKH UNUD!.

6 responses »

  1. Budaya Bali tak pernah sepi inspirasi ya Jeng Ade. Jiwa joged bumbung yang menari secara interaktif dengan penonton senada dengan tarian daerah lain, temanya berkomunikasi lewat tari ya. Selamat berhari minggu Jeng, salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s