Mengenai Kemalasan.

Standard
Mengenai Kemalasan.

Kemarin pagi saya membaca status seorang teman saya di facebook wall-nya sebagai berikut:

“If there was an award  for laziness…I’d probably request someone to pick it up for me…!!!”.

Saya membacanya  sambil nyengir tanpa meninggalkan komentar apapun di statusnya. Namun ternyata diam-diam kalimatnya itu menyelinap ke dalam pikiran saya lagi. Dan memaksa saya untuk memeriksa kembali kadar kemalasan dalam diri saya saat ini. Fuf!! Rasanya sudah lama saya tidak melakukan ‘check-up’ menyeluruh terhadap kesehatan tingkah laku dan kebiasaan saya sendiri.

Kemalasan! Tentu tidak ada yang pernah mendengar ada sebuah ‘award’ untuk sifat ‘negatif’ ini. Yang ada barangkali ‘punishment’. Sebab tidak ada orang yang senang melihat sifat ini ada pada diri orang lain. Namun sebenarya tak bisa dipungkiri bahwa banyak orang justru membiarkan sifat ini ada dalam dirinya. Malas, ataupun sifat malas dimiliki oleh hampir setiap orang dengan kadar yang berbeda-beda. Malas bangun pagi, malas berolahraga (tapi pengen sehat dan langsing), malas belajar, malas masuk ke kantor,  malas menyelesaikan pekerjaan (tapi gaji pengen naik terus), malas mengurus rumah, malas berusaha (tapi pengen sukses) dan sebagainya. Banyak sekali jenis kemalasan lainnya.   Ada orang yang memiliki kadar kemalasan yang tingi, sedang, atau rendah. Ada juga yang mampu mengendalikan atau bahkan menaklukkan sifat pemalasnya, namun ada juga yang justru dikuasai oleh sifat pemalas dan membiarkan dirinya dikuasai oleh sifat itu.

Di Bali kita mengenal istilah “Tamas” untuk kata malas. Tamas (Kemalasan/ Kelambanan/Kegelapan/Kecurangan/Ketidakjujuran/Tidak bertanggung-jawab), yang beserta Rajas (Aggresifitas/Nafsu/Kegairahan/Perubahan) dan  Satvam (Kemurnian/Kejernihan/Kejujuran /Kebaikan/Kedamaian),  menyusun konsep Tri Guna  yang mendasari segala sifat alam semesta beserta isinya. Demikian juga diri kita sebagai manusia. Tak luput dari pengaruh “Satvam – Rajas –Tamas” ini.

Tamas adalah yang paling buruk dan paling rendah kedudukannya diantara ketiganya. Jika sifat Tamas men’drive’ kita secara dominant, maka kita cenderung akan menjadi pribadi yang  pemalas dan dipenuhi kegelapan.  Rajas, walaupun banyak mengandung sifat-sifat yang baik – namun jika diri kita dipenuhi oleh sifat-sifat Rajas yang berlebihan, maka Rajas cenderung men’drive’ kita untuk menjadi sangat materialistik – penuh obsesi akan sifat-sifat ambisius dan penuh nafsu yang sifatnya  duniawi semata. Sifat Satvam-lah yang men”drive” kita untuk menemukan kedamaian yang abadi, kebenaran dan kebahagiaan yang hakiki serta penyatuan denganNYA.  Tentu saja yang disarankan adalah selalu berusaha meningkatkan nilai-nilai Satvam dalam kehidupan kita setinggi-tingginya. Dan sebaliknya dianjurkan untuk selalu membebaskan diri dari pengaruh Tamas – yang salah satunya adalah sifat pemalas alias “Laziness” itu.

Jadi dalam context-nya dengan “Laziness”,  memang tidak ada yang menganjurkan untuk membiarkan diri kita dikuasai oleh kemalasan. Apalagi mendapatkan ‘award’ untuk kemalasan itu – seperti gurauan teman saya di facebook itu. Dan saking malasnya, jikapun award seperti itu ada, ia barangkali akan meminta temannya mengambilkan untuk dirinya. Namun tentu saja kalimat itu mengandung sebuah nilai kesadaran akan betapa sebaiknya kita menjauhkan diri dari kemalasan. Karena kemalasan memang tidak akan pernah menghasilkan award apapun. Tidak dalam bentuk duniawi, apalagi spiritual.

Setelah saya pikir-pikir, sampai di titik ini saya menemukan fakta bahwa beberapa sifat malas masih mempengaruhi diri saya. Dan tentu saja itu tidak memberikan award apapun ke dalam hidup saya. Dan itulah barangkali sebagian dari penyebab, mengapa achievement saya hanya sampai di titik ini pada saat ini. Karena kemalasan!.  Seandainya saja saya sedikit lebih giat berusaha, barangkali hasilnya akan jauh berbeda. Saya tidak menerima ‘award’ kehidupan, sebesar yang saya harusnya bisa saya capai, karena ternyata memang saya sedikit agak malas (mengucapkan kalimat ini terasa agak kecut dan nggak mudah mengakuinya) .  Saya belum optimal dalam berusaha. Semakin dipikir ternyata semakin jelas, bahwa itulah penyebabnya.  Dan saya tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya.  Uff! Uff! Sebaiknya saya segera membuangnya jauh-jauh daripada mempertahankannya.

Wah, untunglah ada teman yang menulis kalimat itu di wallnya. Setidaknya saya jadi memikirkan sejenak arti dan peranan negatif dari kemalasan dalam hidup saya. “KEMALASAN TIDAK PERNAH MEMBERIKAN HADIAH UNTUK HIDUP KITA”. Untuk ke sekian kalinya saya merasa  hidup saya sangat beruntung dan sangat diberkati dengan memiliki keluarga dan teman-teman yang selalu memberi saya inspirasi,  baik di dunia nyata maupu di dunia virtual (facebook, twitter, blog).

4 responses »

  1. Keren banget ini tulisan mb Dani. Saya juga termasuk dalam barisan pemalas. Mungkin dengan terus menerus menaikan sifat satvam, tamas akan berkurang kali yah. Sejujurnya saya bahagia dan cukup puas dng hidup yg sekarang. Tp itu tdk mengurangi kesadaran, bila sy mau memacu diri lbh lagi mestinya banyak yg bisa sy dapatkan melebihi hari ini. Tks sdh berbagi Mb Dani🙂

  2. Indah sekali komposisi konsep ‘tri guna’ ini Jeng Ade. Dalam artian positif energi tamas digunakan untuk memanage rajas agar tercapai satvam, prinsip kehati-hatian tuk mengontrol agresivitas agar mendatangkan kedamaian. Bonus dari belajar di blog sahabat nih, salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s