“Bamboo Root Artcraft ” …Kul-Kul Berbias Wajah E=mc², Oleh-Oleh Dari Bangli.

Standard
“Bamboo Root Artcraft ” …Kul-Kul Berbias Wajah E=mc², Oleh-Oleh Dari Bangli.

Bangli, kota kecil di tengah-tengah pulau Bali bisa dikatakan adalah area penyangga pariwisata yang sangat penting di Bali. Walaupun tidak  memiliki tujuan wisata, hotel maupun restaurat sebanyak  kabupaten Gianyar maupun Badung dan Denpasar,  namun Bangli memiliki desa-desa penyokong industry pariwisata yang sangat baik. Kita bisa menemukan banyak sekali pengrajin emas & perak di Banjar Pande di Bangli, demikian juga pengrajin ukiran kayu, bamboo dan sebagainya di desa-desa lain di Bangli. Produk-produk hasil pengrajin di Bangli ini juga yang banyak dipasarkan di tempat-tempat pariwisata yang lebih terekspose di Bali.

(catatan : Bangli memiliki Kintamani – danau & gunung batur, desa-desa tua  spt misalnya Terunyan & Penglipuran, beberapa Pura besar & penting posisinya dalam sejarah Bali i.e Pura Kehen, Pura Puncak  Penulisan, Pura Ulundanu, Pura Dalem Balingkang, Pura Tampurhyang, dsb,  museum Vulkanologi, dsb).

Salah satunya, adalah ketika saya dan keluarga saya menyempatkan diri mampir di Art Center di Denpasar beberapa waktu yang lalu. Saya tertarik pada sebuah Kul-kul (kentongan tradisional yang terbuat dari bambu) yang dipamerkan di sana  untuk dibawa ke Jakarta dan mencoba untuk menawar. Setelah memilih dan memilah, mencoba suaranya saat dipukul dengan bilah bambu yang dijadikan sebagai tangannya, saya lalu menunjuk kepada sebuah Kulkul dengan wajah orangtua yang bijaksana. Sungguh wajah Kul-Kul itu agak aneh dengan rambut semrawut dan bertanduk karena terbuat dari akar bambu. Namun airmukanya sendiri terlihat baik dan berwawasan luas. Saya membayangkan wajah  Albert Einstein ketika memandang wajah Kul-Kul itu (tentu saja Albert Eisntein jauh  lebih cakep). Namun wajah kulkul ini juga terlihat pintar dan dipenuhi E=mc². Siapa sih senimanya?

Karena penasaran akan Kul-kul berbias wajah E=mc² itu, maka sayapun ngobrol dengan penjaga counter itu. Sang penjaga menjelaskan bahwa Kerajinan Akar Bamboo itu berasal dari desa Kayubihi, di Bangli. Penjaganya sendiri menjelaskan bahwa dirinya berasal dari Banjar Sidembunut, di Bangli juga. Oopss!. Bangli lagi!. Saya selalu bangga dengan kota kecil saya itu. Juga selalu percaya bahwa banyak hasil bumi yang penting, hasil kerajinan dan industri pariwisata yang menarik yang dihasilkan di daerah itu. Masalahnya hanya satu – saya kurang melihat bahwa baik pengrajin maupun petani memiliki akses ataupun pengetahuan pemasaran yang memadai untuk mempromosikan hasil karyanya dengan baik, sehingga secara signifikan bisa mengangkat nama Bangli ke dalam peta penting penyangga pariwisata.  Sehingga banyak hasil bumi dan kerajinan itu dilemparkan ke daerah lain tanpa sedikitpun meninggalkan jejak nama Bangli di belakangnya. Tentu saja tak banyak orang tahu tentang Bangli, aktifitas dan hasil karyanya -diluar pengetahuan standard bahwa Bangli adalah kota berhawa sejuk di mana terdapat Rumah Sakit Jiwa terbesar di kawasan Indonesia timur.

Kini Kul-Kul dari akar bambu itu dipasang dipojok bangunan Jineng di rumah saya. Terlihat menyatu dengan bangunan tradisional itu sendiri dan dedaunan hijau disekitarnya. Selalu terkenang akan Bangli, kota masa kecil saya. Dan berharap semoga para pengrajin dan petani di sana selalu sukses dan berjaya.

6 responses »

  1. Selain Kul – kul, lukisan Bali gaya Kamasan di Klungkung memang menakjubkan coraknya. Saya pernah bertandang ke sentra lukisan Kamasan. Anak-anak di desa ini banyak yang belajar melukis selepas mereka sekolah. Biasanya di sore hari. Kalau tidak di sanggar ya…di aula Banjar. Salam mbak…..

    • Ya. Saya juga penggemar lukisan Kamasan. Sangat classic dan traditional.
      Bale banjar selalu menjadi sentra aktifitas bagi warga di Bali. Untuk latihan menari, bermain musik tardisioanl,kegiatan upacara kemanusiaan, belajar melukis dll..

  2. Akar eh bonggol bambu untuk alat komunikasi kenthongan tradisional di Bali? tradisi daerah lain juga mengenalnya. Eksekusi ekspresinya yang sangat berbeda, wah si kul-kul benar2 keren, artistik imajinatifnya, sedang di Jateng relatif sederhana bentuk agak melengkung ala vibrio. Kekayaan budaya nusantara ya Jeng Ade. Bangli amat strategis lho, penghubung dengan Lombok via Padangbai. Salam

    • Ya.. kulkul serupa dengan kenthongan, digunakan sebagai alat komunikasi tradisional untuk memanggil warga. Nada dan irama serta temponya juga mengandung arti yang berbeda beda. Ya, saya lihat di Jawa juga ada kerajinan akar bambu ini. Sangat mirip ya.

  3. Hehehe..Kecuali benjolan di jidatnya yg lebih mirip Hitman, yang lain emang mirip Einstein Mbak. Duh kreatif banget nih otak yg merencanakan, terus tangan yg mengerat juga trampil. Pantas benar kalau Bali menyandang sebutan negeri dewata, gak habis-habis cerita yg bisa di gali di dalamnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s