Tas Kecil Dari Bandung…

Standard
Tas Kecil Dari Bandung…

Suatu hari setahun yang lalu, anak saya yang saat itu duduk di  bangku kelas V SD melakukan studi wisata ke kota Bandung bersama guru dan teman-teman sekolahnya. Pulangnya ia membawakan saya oleh-oleh tas kecil dari lidi kelapa yang dijalin. “Mama, ini tas untuk mama. Aku beli pakai uangku sendiri”. Kata anak saya dengan bangga.  Saya berterimakasih menerima oleh-olehnya. Sungguh terharu akan perhatiannya.  Ia selalu begitu. Baik, penuh perhatian dan sangat romantis. Saya ingat waktu masih kecil ia sering membawakan saya bunga rumput liar setiap kali habis jalan-jalan ke taman dekat perumahan bersama susternya. Ia juga sering menghadiahi saya lukisan tangannya ataupun perhiasan mainan hasil karyanya. Terkadang ia menulis surat untuk saya, berpesan agar saya bekerja dengan baik dan hati-hati di kantor. Tak terkira bersyukurnya saya memiliki anak sebaik dan sepenyayang itu. Tas itu pun saya letakkan di lemari.

Saya hampir melupakan soal tas kecil itu hingga kemarin sore, ketika saya sedang sibuk dengan lap-top saya, anak saya tiba-tiba masuk ke kamar dan membawa tas itu kembali.“Mum, I’ve never seen you, wearing this bag. Why?” Tanyanya. Wajahnya menyeruak. Oohh.. saya baru teringat kembali akan tas pemberiannya itu.

Ya, saya memang belum pernah memakai tas itu. Sejujurnya, saya hampir melupakannya.“Tas itu terlalu kecil untuk memuat barang bawaan mama ke kantor” jawab saya membela diri. Memang pada kenyataannya tas itu berukuran kecil. Tapi anak saya terlihat kepalang kecewa.

“Mum, tas ini aku belikan khusus untuk mama dari Bandung. Di gift-shop. Uang hasil tabunganku sendiri. Mengapa mama tidak mau memakainya? Terlalu murah ya menurut mama? Harganya dua puluh ribu”  tanya anak saya beruntun. Wajahnya terlihat sedih. Tentu saja sangat mengagetkan. Bukan karena dua puluh ribu rupiah. Saya bukan jenis ibu penggila barang-barang mahal maupun barang bermerk.  Saya akan memakai apa saja yang saya anggap perlu dan saya sukai.  Jadi bukan karena tas itu berharga dua puluh ribu rupiah. Benar-benar karena tas itu menyelip diantar tumpukan barang yang lain di lemari dan saya benar-benar tak terpikir untuk menggunakannya. Selain itu saya sangat jarang berganti tas.  Masalahnya barang bawaan saya kalau bepergian selalu sangat banyak dan saya membutuhkan tas besar. Tas hadiah anak saya terlihat terlalu kecil. Cocoknya untuk ABG atau anak remaja. Waduuuhhh..

“Aku ingin mama memakainya. Tidak usah untuk ke kantor.Pakai untuk kemana saja mama pergi yang bukan ke kantor”. Katanya lagi sembil mencium pipi saya. Ia mendengarkan janji saya bahwa saya akan memakainya, lalu ia pergi bermain ke rumah tetangga. Tinggallah saya seorang diri di kamar bersama tas kecil dari Bandung itu.

Ketika kita menerima pemberian sebagai bentuk dari kasih sayang & perhatian dari orang yang mencintai kita, sudah seharusnya kita menerimanya dengan penuh syukur dan terimakasih. Berusaha untuk menggunakan dan memanfaatkan sebaik-baiknya. Namun apa yang telah saya lakukan? Saya menjadi malu kepada diri saya sendiri. Alangkah tidak sopannya kelakuan saya terhadap orang yang mencintai saya dengan setulus hatinya. Anak saya sendiri. Saya telah mengabaikan perasaannya. Tidak menghargai upayanya menyisihkan uang seratus perak demi seratus perak dari uang jajannya, agar ada yang bisa ia gunakan untuk membelikan hadiah buat saya. Saya tidak menghargai usahanya berkeringat mencari hadiah dari sebuah Gift Shop nun jauh di kota Bandung sana, mencarinya di tumpukan barang-barang jualan yang lain hingga menemukan sesuatu yang ia pikir layak untuk diberikan kepada saya, wanita yang dikasihinya. Tanpa terasa airmata saya menetes. Penuh keharuan, kebahagiaan dan sekaligus  rasa bersalah. Betapa saya sangat mencintainya…

14 responses »

  1. Bu, memang dari anak, bahkan kalau saya setelah anak juga dari cucu selalu banyak yang bisa dipelajari, direnungkan, menjadi motivasi, bahkan mendatangkan inspirasi. Selamat, Ibu telah mendidik anak dengan kebaikan dan kasih sayang

  2. Terharu banget baca posting ini, mbak…betapa anak kelas V SD sudah bisa memberikan perhatian demikian besar pada ibunya. Betul mbak, barang menjadi tidak penting lagi harganya, bila cinta yang menyertai barang tersebut sedemikian besar…

    Salam sayang buat putrinya ya, pengen meluk deh!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s