Sarang Burung Di Tengah Ladang.

Standard
Sarang Burung Di Tengah Ladang.

Saya menghabiskan waktu untuk bermain di ladang bersama kedua anak saya. Cara menikmati liburan yang sangat menyenangkan. Menikmati angin dan wangi tanah  senja hari. Sambil memperlihatkan kepada anak-anak,  sisi lain kehidupan di luar hingar bingarnya kota yang penuh dengan mall dan pertokoan. Saya mengajaknya memetik cabai. Kebetulan banyak cabai yang ranum merah sore itu. Karena keasyikan  memilih dan memetik, tak terasa saya dan anak sayapun mulai terpisah sejauh beberapa blok tanaman.  Saat itulah anak saya yang lebih kecil berteriak memanggil saya. Rupanya ia  melihat sebuah sarang burung di tengah ladang.

Sayapun mendekat.  Sebuah sarang burung yang terbuat dari rumput kering terlihat rapi bertengger rendah di sebuah cabang pohon cabai. Paling banter hanya satu meter di atas permukaan tanah. Rendah sekali. Melihat dari bentuknya yang mirip cawan yang dalam serta bahan-bahan dan posisinya, saya menduga itu adalah sarang burung Kehicap Ranting (Hypothymis azurea). Burung periang yang lincah dan ceriwis, masih sekeluarga dengan burung Sikatan. “Ciii..Cwiiittt. Ciii Cwiiittt..” Biasanya ribut  beterbangan dari ranting ke ranting mencari serangga.

Tiga butir telor kecil tampak di dalamnya. Saling berdekatan seolah sedang saling berusaha menghangatkan dan melindungi diri dari udara dingin sore hari pegunungan itu. Saya membayangkan kehidupan yang hangat di dalam cangkang telor yang mungil itu. Kehidupan anak-anak burung.

“Boleh nggak aku ambil bawa pulang, Ma?” tanya anak saya. Tangan kecilnya berusaha meraih sarang burung itu. “Tidak!”  kata saya melarang. Wajahnya tampak kecewa.

“Mengapa?.” Tanya anak saya. “Karena sarang itu milik burung. Bukan milik kita. Jadi kita  tak punya hak untuk merampasnya” Saya mencoba menjelaskan. “Tapi aku pengen..” Rajuk anak saya.

Ingatan saya melayang kembali ke masa kecil. Ayah saya menanam berbagai pohon buah-buahan di halaman rumah. Karenanya, rumah sayapun rajin dikunjungi burung-burung. Saya sangat senang memanjat pohon untuk melihat sarang burung. Memeriksanya, apakah ada sarang baru; apakah ada burung yang bertelor; apakah ada telor yang menetas dan seterusnya.

Suatu hari saya mengambil sebuah sarang yang berisi  dua  ekor anak burung pipit di dalamnya dari sebuah pohon jambu dan menempatkannya di gudang. Saya tahu bagaimana induk burung pipit biasanya mengunyahkan padi dan melolohkan hasil kunyahannya ke mulut anaknya. Saya yakin saya bisa mengambil alih peranan induk burung itu mengasuh anak-anaknya. Hari pertama berjalan dengan mulus. Saya mengunyahkan beras, lalu saya suapkan ke mulut anak burung itu dengan bantuan sidu (sendok dari daun pisang). Anak burung itupun kelihatannya riang saja dan sibuk bercuit cuit dengan lucunya. Namun keesokan paginya, saya melihat seekor dari anak burung itu mati. Sedangkan yang lainnya terlihat lemah.

Saya sangat terkejut dan sedih. Tidak terlalu mengerti apa yang terjadi, tapi karena saya harus berangkat ke sekolah,  sayapun tak terlalu memikirkannya lagi. Sepulang sekolah, rupanya ayah saya telah menempatkan kembali sarang & anak burung itu di dahan pohon jambu. Banyak petuah yang disampaikan ayah saya sebagai akibat dari perbuatan buruk saya hari itu. Perbuatan yang mengakibatkan kematian seekor anak burung dan penderitaan bagi induk burung yang ditinggal mati anaknya. Ahimsa! jangan membunuh!. Itulah salah satunya diantaranya.

Hendaknya kita tidak melakukan suatu tindakan apapun yang mungkin menggangu keselamatan jiwa mahluk lain. Tidak membunuh. Mahluk apapun itu, karena semuanya adalah ciptaanNYA. Semuanya menempati posisi dan porsinya dalam keseimbangan alam semesta ini. Kalaupun kita terpaksa harus mengambilnya untuk makan, ambillah seperlunya sesuai dengan kebutuhan kita untuk menyambung kehidupan saja. Jangan mengambil sesuatu dari alam hanya untuk kita sia-siakan ataupun untuk memenuhi nafsu indria kita. Untuk memenuhi kesenangan kita, dan keinginan kemaruk kita. Dan jangan mengambilnya dengan cara yang tidak khidmat dan tanpa penghormatan kepada alam.

Saya merasa sangat bersalah dan sangat berdosa atas kejadian itu. Kini anak saya ingin mengulang kesalahan yang pernah saya lakukan saat saya seumurnya. Akhirnya, saya ceritakan kisah buruk saya itu kepadanya, dan menutupnya dengan kata yang sama seperti yang disampaikan ayah saya kepada saya.

“Ahimsa! Jangan membunuh!” Kata saya. Selain akan membuat induk burung itu menderita karena kehilangan sarang & telornya,  keteledoran kita juga akan sangat mungkin menyebabkan telor burung itu tidak menetas dan kehilangan kehidupannya. Itu sama dengan membunuh. Saya merasa tidaklah mudah untuk mengulang pesan beliau kepada generasi berikutnya yang tidak dibesarkan di lingkungan yang sama dengan tempat saya dibesarkan.

Tanpa saya duga, ternyata anak saya dengan cepat memahami apa intisari pesan yang ingin saya sampaikan padanya. Akhirnya ia memutuskan untuk tetap membiarkan sarang burung beserta telornya di ranting pohon cabe itu. Saya merasa sangat lega atas keputusannya. Senja yang sangat indah..

17 responses »

  1. Mbak Dani, asyik nih yg ini mengingatkan aku pada masa kecil di kampung sana. Saya juga sering melihat sarang burung dengan telur atau bayi-bayi burung merah di dalam. Waktu itu sih insting saya sama dengan anaknya Mbak Dani pengen memiliki. Namun karena gak ada orang dewasa yg melarang sarang itu saya bawa pulang dan di taruh di dapur. Tentu saja besoknya bayi2 burung itu mati karena saya lupa memberi makan dan minum..Masih ingat deh Mbak sampe sekarang gimana nyeselnya..

    Ngomong2 beruntung yah Mbak, hari gini masih bisa menemukan sarang burung di tengah ladang..Pasti kawasan itu masih asri sekali🙂

    • Kelihatannya semua anak kecil yang melihat sarang burung punya naluri yang sama ya Mbak Evi. Waktu kecil nggak ngerti dimana letak salahnya.
      Ya Mbak. Kawasan yang sementara ini masih asri, di daerah pegunungan di Sukabumi. Tak jauh dari Salabintana.

  2. Pembelajaran multi dimensi Jeng Ade, anak2 belajar lingkungan, welas asih, muatan moral dengan kemasan sesuai usia. Kagum dengan kearifan bu guru yang tukang kebun. Putra2 liburan sekolah ya Jeng, salam

    • Kalau dibawa ke alam bebas,banyak dimensi yang bersentuhan pada object yang sama ya Bu Prih. Jadi sekalian. Lumayan untuk penyeimbang thd apa yg telah didapatkannya dr bangku sekolah di kota. Anak-anak sudah libur, Bu. Bagaimana dengan RyNaRi – 3 jagoannya Bu Prih? Sudah mulai liburan Natal kan Bu?Semoga liburan ini memberi lebih banyak lagi kehangatan, kedekatan dan kasih sayang diantara keluarga..

    • Terimakasih atas kunjungan Pak Guru Biologi – Bayu. Senang banget. Rupanya Pak Bayu adalah penggagas pembelajaran luar kelas di sekolah. Setuju banget. Pembelajaran di alam bebas memberikan dimensi yang lebih kaya, walaupun memang tidak sefokus pembelajaran di dalam kelas.

  3. ahimsa salah satu doktrin dari ajaran Mahatma Gandhi ya mb….:🙂
    btw mb begitu familiar dgn burung2 ‘liar’ ya….pasti punya koleksinya dirumah ya?
    sukses slalu ya mb !

    • Ya, benar. Mahatma Gandhi yang banyak menyampaikannya ke dunia luar.Namun Ahimsa sebenarnya bukan doktrin sih ya, tapi lebih kepada pemahaman & cara pikir akan tatanan kehidupan dalam semesta yang direfleksikan dengan tindakan yang mengasihi sesama mahluk hidup. Sehingga membunuh adalah perbuatan yang sangat tidak dibenarkan.
      Kalau burung sih aku cuma suka ‘bird watching’ saja, Ben. Bukan kolektor. Suka pada binatang (salah satunya burung)lah yang membuatku terpanggil sekolah di Kedokteran Hewan.
      Thanks commentnya, Ben.

  4. Betul mbak, semua makhluk hidup punya habitat sendiri-sendiri…demikian juga dengan burung itu tadi…
    Biarpun sudah dikunyahkan beras oleh kita, tetap aja burung kecil itu mati, karena mungkin ada enzim-enzim di ludah ibunya yang menjadi vitamin bagi anak-anaknya.

    Seneng ya mbak, bisa liburan dengan suasana berbeda.
    Selingan tempat yang kreatif dan menyenangkan😀

  5. Ya, Mbak. Alam memang sudah mengatur sedemikian rupa..sehingga cara terbaik untuk membesarkan anak burung adalah dengan membiarkannya dibesarkan aoleh induknya sendiri.

    Thanks Mbak. Selamat menikmati liburan juga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s