Gerbera, Kembang Senter Dari Orde Lama.

Standard
Gerbera,  Kembang Senter Dari Orde Lama.

Ada yang ingat jenis tanaman yang banyak  dipelihara oleh orang tua kita jaman dulu?  Terlepas dari kota tempat tinggalnya, kebanyakan teman-teman saya menjawab serupa. Pasti salah satu dari jenis tanaman ini: Kuping Gajah, Supplir, Sri Rejeki (Dieffenbachia), Mawar, Melati, Gladiol dan Herbra (Gerbera). Saya menyebut tanaman-tanaman ini sebagai tanaman Orde Lama, karena tanaman-tanaman itu selalu tampak sebagai background foto-foto hitam putih jaman dulu. 

Diantara tanaman jaman orde lama yang dianggap mewah pada jaman itu adalah Gerbera, sejenis tanaman dari keluarga Asteraceae. Barangkali karena tempat tumbuhnya agak terfokus di area sejuk, sehingga dianggap jarang.  Susah di dapat dan dianggap mahal.  Sesungguhnya Gerbera masih bisa tumbuh di dataran rendah juga, walaupun tentunya tidak seproduktif di dataran tinggi.

Yang menarik tentang Gerbera adalah bunganya yang  berukuran sedang memancar keluar  tunggal dari tangkai bunganya yang panjang. Sangat mirip dengan pancaran cahaya, sehingga tidak heran bunga ini di Bali disebut dengan nama Kembang Senter. Karena memang mirip dengan lampu senter. Bunga tanaman ini terdiri atas  2 lapis barisan helai bunga, berjumlah kurang lebih 42 helai dengan sari bunga bulat di dalamnya. Lapisan helai bunganya berwarna indah dan terang. Beragam mulai dari kuning, jingga, merah, merah tua, pink, cream dan putih. Sedangkan apa yang terlihat sebagai sari bunga, jika kita perhatikan dari dekat juga sebenarnya merupakan helai-helai bunga kecil yang berbaris membentuk lingkaran mengelilingi sari di tengahnya. Karena kecantikannya, bunga Gerbera memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena banyak digunakan sebagai bunga potong untuk dirangkai.

Daun gerbera berbentuk indah bergerigi dengan warna hijau gelap. Daun muncul juga memancar dari batang yang rupanya berada di bonggolnya sehingga sama sekali tidak terlihat.  Baik batang maupun tangkai bunga yang baru muncul biasanya agak berbulu halus yang perlahan menghilang begitu tumbuh & membesar.

Membiakkan tanaman ini sangat mudah. Kita hanya perlu menyepih anakannya dengan menggunakan pisau tajam yang bersih. Pilihlah rumpun yang subur dengan beberapa anakan baru. Pastikan agar anakan yang tersepih  mengandung akar yang cukup untuk menjamin keberhasilan pembiakannya. Jika kita perlu memindahkan anakan bunga ini ke tempat yang cukup jauh, jaman dulu biasanya kita cukup memebungkusnya dengan pelepah batang pisang dan mengikatnya, untuk memastikan agar kelembaban yang dibutuhkan oleh tanaman ini terjaga dengan cukup baik.

Tanaman akan sangat cantik sekali jika di tanam di halaman depan rumah. Bunganya yang cerah berwarna-warni tentu akan sangat menghibur pejalan kaki yang melintas di depan rumah kita. Bisa juga digunakan sebagai penutup kaki tembok pagar. Pemeliharaannya juga cukup mudah. Biasanya saya hanya memberikan pupuk kandang dan memastikan agar tanaman ini mendapat siraman air dan sinar matahari yang cukup. Selebihnya ia hidup sendiri.Paling sekali-sekali kita perlu menyiangi rumpur liar yang tumbuh didekatnya. Daun-daun tuanya yang gugur dan mati , biasanya saya lepaskan, namun saya letakkan kembali di pangkal tanaman itu untuk meningkatkan kesuburannya. Sama sekali tidak saya buang.

18 responses »

  1. Kembang senter? wow imajinasi yang hebat, bagian tengah putik dan benangsari jadi bohlam dan helaian mahkota jadi pendar sinarnya. Varian warna juga banyak ya sebagai bunga potong pengalir rejeki petani dan florist, Salut jeng Ade, salam

  2. “Pasti salah satu dari jenis tanaman ini: Kuping Gajah, Supplir, Sri Rejeki (Dieffenbachia), Mawar, Melati, Gladiol dan Herbra (Gerbera)’
    Iya bener he he he …

  3. bisa aja ..ada tanaman Orde Lama he..he..
    di Medan dulu ada tanaman daun yang besar keriting hijau atau merah, dikasih nama daun Ali Sadikin dan daun Elizabeth, belum tau nama aslinya…
    dan disana itu rumah orang2 kaya dulu kulihat selalu ada pohon pisang kipas, atau pisang Manila

    • Wah..kalau nama tanamannya Ali Sadikin itu pasti jaman Orde Baru, Mbak Monda he he. Kalau dari namanya Ali Sadikin & Elizabeth pasti itu tanaman bergensi jaman dulu ya Mbak.
      Tapi apa ya itu yang daunnya besar keriting hijau atau merah, aku belum kebayang.Jadi penasaran juga.
      Sampai sekarang saya lihat kayanya masih ada pisang kipas di beberapa halaman rumah yang ukuran halamanya lebar di Medan ya Mbak?

  4. Saya ini laki-laki yang merasa malu mengatakan kalau saya suka bunga. Boleh nggak sih, laki-laki suka bunga? tapi saya lelaki tulen lho, udah punya anak dua😆

  5. Waktu kecil di kampung bunga ini, kalau gak salah, saya sebut kembang kertas Mbak Dani. Nah tiap ada pengantenan di kampung, gadis-gadis membuat imitasi bunga ini dari kertas krep, terus di pasang di dekat pengantin duduk. Saya pikir waktu itu karena itu bunga ini dinamai kembang kertas. Jadi namanya Gerbera, I see..:)

  6. hebat nich mb Ni….pengamat sejarah juga ya…..bunga dikaitkan dengan masanya…
    klo sya yang tahu hanya ‘kuping gajah’ trus ama suplir….(soalnya dirumah ada sich….)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s