Pelajaran Hidup Dari Kuncup Kembang Sepatu…

Standard
Pelajaran Hidup Dari Kuncup Kembang Sepatu…

Saya membeli dua buah tanaman Kembang Sepatu (Hibiscus) baru. Jingga & Merah bermahkota selapis dan berukuran besar. Tanamannya sehat dan keduanya memiliki kuncup bunga yang sebentar lagi akan mekar. Indikasi bahwa tukang tanaman telah merawatnya dengan baik. Setiap pagi saya periksa dan lihat perkembangannya.

Pada hari ke dua, sebuah kuncup yang berwarna merah mekar.  Indah sekali. Mahkota merah dengan semburat jingga. Ditengahnya muncul warna merah kehitaman yang membias merah darah. Saya menduga itu hasil silangan sukses dari beberapa jenis Hibiscus. Sayang yang  jingga belum mekar.

Keesokan harinya, dua kuncup Hibiscus merah mekar lagi. Yang jingga  belum mekar juga. Walaupun begitu, saya tetap merasa sangat senang. Hari berikutnya, yang merah mekar lagi. Yang jingga belum juga mekar. Saya heran. Perasaan saya yang jingga memiliki kuncup dengan ukuran yang sama dengan yang merah saat saya beli. Mengapa tiada kunjung mekar juga? Saya lalu memeriksanya kembali. Kuncupnya terlihat sehat dan baik-baik saja. Ukurannya cukup besar seolah besok akan mekar. Namun mengapa tidak mekar?

Esok harinya ke dua kembang sepatu tidak ada yang mekar. Namun keesokan harinya lagi, kembali yang mekar adalah yang merah. Yang jingga  tidak jua kunjung mekar. Sungguh aneh!. Saya mulai kecewa melihat yang jingga. Mengapa tiada kunjung mekar? Demikian terjadi berhari-hari selama dua minggu. Saya makin kecewa pada si jingga. Hingga suatu hari, akhirnya kuncup Hibiscus jingga  itu mekar juga. Pagi hari saat saya berangkat ke kantor, mekarnya belum begitu penuh. Indah sekali. Mahkotanya terlihat bersih dan tebal. Hati saya sangat senang. Malamnya  saya lihat ia mekar penuh dan esok harinya layu. Hmm.. benar-benar perjalanan hidup yang panjang sebuah kuncup bunga guna menunjukkan kecantikannya sehari untuk kemudian layu.

Setahu saya kuncup kembang sepatu rata-rata mekar dalam waktu tak lebih dari 5 hari sejak dia muncul. Mengapa jenis yang ini memakan waktu lebih dari 2 minggu?. Tidak ada yang terlihat aneh pada tanaman ini. Tidak ada penyakit serius yang memimpa kuncup bunganya. Bukan pula dari jenis yang sama sekali baru bagi saya. Tapi memang daunnya sedikit berbeda dari yang merah. Yang merah berdaun kecil dan cenderung datar. Yang jingga  berdaun besar dan cekung mirip mangkok. Lebih menarik sih. Saya juga memiliki jenis ini dari koleksi saya sebelumnya. Warnanya pink. Setelah saya ingat-ingat kembali, yang Pink  dengan daun seperti ini memang cenderung lambat & jarang menunjukkan bunganya. Tapi saat tidak berbunga, daunnya pun terlihat cukup menarik untuk dipandang. Nah, sekarang saya tahu jawabannya!

Kuncup kembang sepatu berdaun lebar mirip mangkok ini memang memiliki ‘lead time’  mekar yang lebih lambat dibanding kembang sepatu lainnya. Tapi jenis ini memiliki daun dan helai bunga yang relatif lebih tebal  dibanding yang lain. Yang merah adalah dari jenis yang lebih produktif, tapi relatif lebih tipis. Dua-duanya menarik. Jadi setiap species, setiap variant, setiap individu memang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ah!.

Teringat kembali pelajaran dari ibu saya tentang beras. Menurutnya, “Beras Sri Wedani (beras Bali) punya cita rasa yang lebih enak karena butuh tidak kurang dari 6 bulan bagi tanaman itu untuk menimbun sari-sari kehidupan terbaik dari alam ke dalam bijinya. Harganya lebih mahal, untungnya lebih besar tapi pembelinya sedikit. Sedangkan beras dari padi jenis IR36, cita rasanya tidak seenak Sri Wedani, karena hanya punya waktu 3 bulan untuk menimbun sari-sari kehidupan sedapatnya dari alam ke dalam bijinya. Cepat dipanen. Harganya lebih murah, untungnya sedikit tapi pembelinya lebih banyak. Sekarang pintar-pintarnya kita memilih sesuai dengan kebutuhan dan situasi”. Saat itu kalimat ibu saya hanya masuk lewat telinga kiri lalu keluar lagi lewat telinga kanan. Percakapannya selalu bernilai rangkap. Berita sekaligus nasihat. Sekarang setelah beliau tiada, saya baru mengerti sepotong demi sepotong maksud dari ibu saya. Alam adalah induk ilmu pengetahuan. Banyak sekali yang bisa kita pelajari dari alam.

Dan sekarang terbukti lagi bahwa pemahaman saya akan Kembang Sepatu memang belum mendalam, walaupun saya merasa telah bertahun-tahun menanamnya. Pemahaman yang kurang, tentu tidak baik digunakan untuk mengambil kesimpulan apalagi untuk men’judge’ sesuatu. Another lesson from mother nature!

Saya pikir, barangkali hal yang sama perlu saya terapkan juga dalam hidup saya, baik untuk pekerjaan maupun dalam keseharian saya.  Berusaha untuk lebih mengenal, mempelajari dan memahami segala permasalahan dan kejadian dengan lebih baik sebelum mengambil sebuah kesimpulan. Apalagi untuk buru-buru kecewa dan patah semangat.

Demikian juga di kantor. Saya harus selalu berusaha untuk lebih mengenal dan memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing individu di team kerja saya, mengapresiasi kelebihan mereka serta berusaha mencari akal untuk mengoptimalkan kekurangan mereka. Karena setiap orang dilahirkan dengan keunikan pribadi masing masing yang justru memperkaya khasanah kehidupan saya. Sungguh tidak baik buat saya untuk mengharapkan dua hal berbeda agar menunjukkan performance yang sama tanpa memahami latar belakang, kelebihan dan kekurangan mereka masing-masing. Semuanya terdiri atas satu paket.

Sebuah pagi yang sangat indah..

20 responses »

  1. Mb Dani, ada gak sih kemungkinan bahwa kembang sepatu jingga gak cukup dapat makanan dari daun? Jadi zat gizi yg tersedia lbh banyak digunakan oleh daun yg lbh lebar dan tebal sehingga bunga gak kebagiaan?

  2. Sore Mbak Andani.. Makasih share kembang sepatunya, cantik cantik fotonya. Jadi teringat aku mau membeli beberapa tanaman ini sebagai pengganti pagar hidup di rumah yang hanya berdaun hijau. Rencana mau beli hibiscus yang pink, karena terinspirasi halaman kantor suami yang penuh tanaman bunga, salah satunya kembang sepatu pink yang cantik. Baru tau kalau yang pink lebih lama berkembangnya. Lebih cantik lebih susah yah nunggunya ya Mbak Dani…Tapi jadi puas kalau mekar dengan indah ya Mbak..

    • Oohh jangan khawatir menanam yang pink, Mbak Sherry. Ada berjenis-jenis kembang sepatu yang berwarna pink. Kebanyakan berbunga cepat kok. Hanya jenis yang daunnya tebal lebar seperti mangkok itu saja yang agak sedikit lebih lambat. Yang lainnya normal.

  3. ‘Alam adalah induk ilmu pengetahuan’, juga sekaligus guru kehidupan (kehidupan secara biologi, budaya maupun spiritualnya). Terimakasih sharingnya jeng Ade. Salam

  4. Jika kita paham dengan Upanisad dan selalu menggunakan kaca matanya dalam beraktifitas, pasti banyak akan terkuak filosofi tentang filsafat apa yang ada di alam ini, termasuk Pohon jambu, bunga tunjung, air sungai, pohon bambu, lebah dan lainnya, mungkin mbok bisa menceritakannya salah satu🙂 ALAM ADALAH MEDIA KITA UNTUK MENGENAL HIDUP , salam hangat untuk keluarga mbak…

  5. link blog ibu udah saya pasang,cek segera ke ktp eh
    tkp maksudnya,yup.suka bunga ya bu,kalau saya bonsai bu!,keep sharing.

  6. wow .. kembangnya cantik cantik mbak, menyegarkan mata, kalau soal kembang … aku biasanya sibuk ntar kalau musim panas, nanam ratusan kembang di kebun, skrg masih nunggu musim semi tiba
    bener sekali mbak, dari kembang dan tanaman kita juga bisa belajar ttg hidup🙂

    • Thnaks Mbak Ely. ya,saya suka banget dan selalu kagum akan kebun-kebun/ taman di halaman rumah-rumah orang di eropa. Mana bunganya cantik-cantik dan rasanya warnanya juga jauh lebih cemerlang di badningkan di negara kita ya Mbak.. Wah.. ntar upload foto-foto musim seminya ya Mbak. Thanks

  7. filosofi tentang kehidupannya dalam juga nich mb Ni….
    kita mmg harus pandai dalam membaca alam ini….bila manusia itu mampu bersahabat dengan alam secara bijak, alampun akan memberikan kontribusinya yang baik juga buat kita….sebuah sinergi yang tentunya sangat ideal dan diidam-idamkan oleh kita semua tentunya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s