Tukang Ojek Dan Musim Hujan.

Standard

 Mengenai Service Excellence & Consumer Satisfaction.

Musim hujan! Seperti biasa jalanan macet. Banyak genangan air dan jika hujan lebih deras lagi, banjirpun datang. Itulah pemandangan Jakarta dan sekitarnya. Saya memandang dari balik jendela, seorang tukang ojek berteduh di pinggir jalan di bawah atap warung yang sedang tutup. Hingga saat ini, banjir belum melanda. Namun tak urung juga mengingatkan saya kembali akan kejadian yang silam.

Suatu sore,  setahun yang lalu di musim hujan yang sama. Saya berniat pulang kantor  lebih cepat dari biasanya. Tepat pukul 5 sore, saya buru-buru turun ke lobby. Memanggil penjemput saya lewat car call. Namun apes, penjemput saya rupanya sudah 2 jam terjebak macet di daerah Simprug. Wah! Kalau begitu, bisa-bisa ia baru sampai di Kuningan lewat tengah malam.

Saya telpon suami saya  barangkali ia bisa menjemput. Jarak kantornya lebih dekat, dibanding jika saya harus menunggu penjemput saya datang. Namun kemacetan parah justru terjadi di Rasuna Said. Suami saya tidak mungkin bisa masuk Kuningan dalam keadaan begini. Akhirnya saya memutuskan untuk naik ojek saja. Ia menunggu saya di ujung Jalan Tendean sekitar setengah jam lagi. Sementara itu saya minta penjemput saya untuk pulang saja.

Sore yang sangat gelap. Mendung yang murung menggantung di langit. Gerimis tersisa satu-satu. Sayapun pergi ke jalan. Satu-satunya tukang ojek yang ada di situ menyambut saya dengan senyum. Saya menjelaskan tujuan saya dan sepakat akan harga yang ia tawarkan. Karena Rasuna Said sangat macet, kami mengambil jalan belakang lewat jalan Denpasar. Macet juga. Walau naik motor, tetap saja lajunya pelan.  Hampir satu jam hanya untuk mencapai depan Kedubes Chili. Setelah itu, ternyata banyak kendaraan berbalik arah. Ada apa? Rupanya kemacetan semakin diperparah oleh banjir. Setinggi pinggul orang dewasa di dekat Kedubes Austria, hingga di depan Gedung Kartini. Waduh!. Tukang ojekpun mengajak saya untuk ikut berbalik arah juga. Berputar melalui Jl Prof Satrio, lalu ke Mega Kuningan dan keluar di Gatot Subroto.

Karena macet yang semakin parah, upaya memutar inipun menghabiskan waktu lebih dari sejam. Tiba-tiba hujan turun lagi dengan derasnya. Tukang ojek berhenti di bawah pohon di pinggir jalan. Ia mengambil jas hujan dari bagasi dan menyodorkannya kepada saya. “Ibu pakai saja yang ini” Katanya. “Untuk Bapak apa?” tanya saya. “Cuma satu, Bu. Ibu saja yang pakai. Saya cukup pakai ini saja” Katanya sambil menunjukkan jacket yang telah dipakainya. Saya jadi merasa tidak enak “Saya nggak apa-apa. Bapak saja yang pakai” Saran saya mengingat ia yang mengendarai motor dan berada di depan. Tentu butir hujan akan lebih parah menerpa tubuhnya. Saya sendiri bisa berlindung di balik tubuh bapak itu – pikir saya dalam hati. Namun ia tetap menolak.  Tanpa  banyak berkata-kata lagi saya pakai jas hujan itu. Lalu kamipun bergerak kembali. Tak ada gunanya menunda perjalanan karena kami tak tahu kapan hujan ini akan berakhir. Saat itu,  jam di pergelangan tangan saya menunjukkan pukul delapan malam. Rupanya saya telah ada di kemacetan selama 3 jam tanpa sadar.

Hujan turun semakin lama semakin deras. Butirannya semakin besar menetes di jas hujan yang saya pakai. Sebagian menetes dan mengalir  ke badan saya melalui pipi saya yang basah. Dingin menggigit tulang. Saya menggigil di atas sepeda motor yang berusaha melaju dengan susah payah. Walau dengan jas hujan, tetap saja tubuh saya basah. Malam terasa panjang. Merayap dalam kebisingan asap knalpot.

Pukul sembilan malam, akhirnya kami berhasil keluar ke Gatot Subroto. Genangan air semakin meningkat. Banjir mencapai ketinggian lutut orang dewasa.  Tampak asap yang mengepul keluar dari knalpot motor ditimpa sorot lampu pengendara motor yang lain. Di telinga saya suara motor menderu dengan aneh & sumbang. Sungguh berat dan melelahkan bagi motor itu, jika harus berjuang menyeberangi genangan air yang panjang mirip sungai di tengah Jakarta ini.

Sekarang lalu lintas seolah terkunci di tempat. Stuck! Sedikitpun tidak bisa bergerak. Saya terpaku mirip patung di atas sadle di belakang sang tukang ojek. Didepan kanan saya sebuah Bajaj menyemprotkan gas pembuangannya persis ke wajah saya. Saya berusaha menahan nafas saya, untuk mengurangi polusi yang masuk. Tidak tahan,saya lempar wajah saya ke kiri. Namun nasib saya tidak lebih baik juga. Di depan kiri saya asap pembuangan dari knalpot sebuah sepeda motor yang digas berkali-kali oleh pengendaranya gantian menyemprot ke arah hidung saya. Saya terbatuk-batuk menahan nafas. Tak ada lagi tempat persembunyian bagi hidung saya kali ini.  Inilah Jakarta! Welcome, Bung! Dan saya hidup di dalamnya. Saya benafas di dalam polusinya.

Pukul sepuluh malam kami memasuki  jalan Kapten Tendean. Sungguh malam yang sangat gila. Sepeda motor bergerak sangat lambat. Jalanan terang benderang oleh ratusan atau mungkin ribuan lampu sepeda motor, mobil dan bajaj yang parkir kelelahan di jalanan. Setengah terendam. Orang-orang berhenti dan merokok. Menyemburkan asap nikotin sekuatnya ke udara. Baru kali ini saya tahu akan kemacetan super yang dimiliki Jakarta. Bahkan sebuah sepeda motorpun tak mampu lolos darinya. What a story!

Setelah hampir setengah dari jalan Kapten Tendean berhasil kami lewati, tersebar berita bahwa di depan kami banjir besar menutup jalan itu. Tidak bisa dilewati. Air kali meluap tinggi menggenangi jalan hingga setinggi kepala orang dewasa. Saat itu sudah pukul setengah dua belas malam.  Sesungguhnya ujung Jalan Tendean tinggal sedikit lagi. Namun banjir tidak memungkinkan saya untuk menyeberangi aliran sungai itu. Saat memikirkan itu, suami saya menelpon. Mengatakan ia terkena macet parah sehingga tidak bisa mencapai ujung Jalan Tendean. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali dan menunggu saya di kantornya di Dharmawangsa. Huwaaa!! Sedihnya!

Saya menceritakan hal itu kepada tukang ojek yang tampak kelelahan. Namun tanpa diduga ia menawarkan untuk tetap mengantar saya ke Dharmawangsa. Tujuan yang berbeda dan lebih jauh dari kesepakatan awal. Hujan mulai reda, namun menyisakan kemacetan yang tak terperikan. Namun arah sebaliknya, jalanan terlihat agak lebih lengang karena melawan arus. Ia menyarankan kami untuk berbalik arah dan memutar kembali lewat gatot Subroto.  Saya setuju dan merasa sangat berterimakasih atas kebaikan tukang ojek itu.  Namun baru beberapa meter, tiba-tiba motor kami ngadat dan tidak bisa dihidupkan kembali. Bensinnya habis! Benar-benar habis, bis, bis! Ya ampuunn!. Untunglah di jalur itu ada sebuah pompa bensin. Namun kami harus berjalan kaki ke sana. Tukang ojek berjalan menuntun motornya. Sementara saya mengikutinya dari belakang dengan langkah pedih karena harus berjalan dengan sepatu kantor yang berhak 5 cm. Ouchh!! Masih untung bukan 7 cm.

Setelah mengisi bensin secukupnya, kami melanjutkan kembali perjalanan.  Perjalanan yang panjang melewati Kompleks Menteri dan seterusnya. Gerimis dan hujan deras  turun lagi. Syukurnya di jalur ini, kemacetan tidak terlalu parah. Genangan airpun tidak terlalu banyak. Setidaknya pengendara motor masih bisa melaju.  Akhirnya pukul  satu malam , sampailah saya di kantor suami saya.

Saya mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya ke tukang ojek. Sangat terkesan dan terharu akan kesetiaannya kepada saya, pengguna jasanya. Tukang ojek yang tak pernah saya kenal sebelumnya. Ia memberikan saya penawaran harga yang masuk akal, bahkan rendah. Ia juga memberikan saya jas hujannya untuk saya pakai,  sementara ia sendiri mengorbankan dirinya tidak terlindungi.  Ia mengantarkan saya tanpa mengeluh, walaupun memakan waktu yang luar biasa panjangnya. Dari pukul 5 sore hingga pukul  satu malam. Ia pun meladeni perubahan tujuan saya tanpa mengeluh. Service Excellence!. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri saya di kekisruhan malam itu jika tidak bersamanya.

Mengingat apa yang telah ia lakukan kepada saya dan jam kerja yang panjang untuk mengantar saya sampai di tujuan dengan selamat, akhirnya saya memutuskan membayarnya beberapa kali lipat lebih dari harga yang telah kami sepakati.Plus pengganti harga bensin yang ia beli malam itu. Tukang ojek itu sangat girang dan mengucapkan terimakasih berkali-kali kepada saya.

Jika ada award untuk “Consumer Satisfaction” malam itu, sudah pasti akan saya berikan kepada tukang ojek ini. Seorang penjual jasa, yang memperlakukan pelanggannya dengan cara yang sangat baik dan tulus. Banyak training dan seminar yang dilakukan di hotel-hotel berbintang lima bagi para pemasar untuk belajar mengenai Service Excellence dan Customer/Consumer Satisfaction ini dengan biaya jutaan rupiah. Namun Tukang Ojek ini telah memberikan saya training gratis tentang makna dari Service Excellence & Kepuasan Pelanggan. Sungguh saya berhutang budi kepadanya.

20 responses »

  1. Peh, baik banget tukang ojekne, bu Made. Mesti dikasi tip tuh. Jarang lho ada ojek sebaik itu.

    Btw, kalau ujan-ujan gini, ojek yang paling laris itu ojek payung, bu Made, he he he😆

    • Ya.. memang Tukang Ojek yang mengantar saya waktu itu baik sekali. Dia melakukan pekerjaannya sepenuh hati.
      Ojek Payung – saya kadang takjub jika hujan turun deras..soalnya entah darimana tiba-tiba tukang Ojek payung suka muncul di perkantoran ..

  2. Bersyukur ya bu, masih bisa menemukan orang sebaik tukang ojek itu. Mengutamakan pelayanan daripada meminta bayarannya dulu. Bersyukur lagi, Bu Made bisa selamat sampai di rumah dan bertemu dengan keluarga.
    Salam kenal ..🙂

  3. Backgroundnya Veterinary Medicine, tp bahasa ekonominya, 4 jempol buat Ibu Made 😀
    Saya mudah menyerap ilmunya justru yg bukan berangkat dari ekonom hehehe …
    Tks atas pencerahannya …

    • Nah..itulah gara-gara mencari rejeki serabutan..Mas. Kagak nyambung antara background pendidikan dengan pekerjaan sebagai pemasar.. he he. karena keadaan, akhirnya jadi belajar ini itu serba sedikit, tapi nggak pernah jadi ahli. Tapi hidup untuk dijalani dengan sepenuh hati, apapun dan bagaimanapun keadaannya – ya,saya nikmati saja..he he.

      thanks ya Mas supportnya..

  4. Ya Allah Mba Dani, aku ikutan kedinginan dan capek membaca kisah dirimu dalam macet, hujan dan tukang ojek ini. Begitu sengsara tinggal di Jakarta yg sedang banjir ya Mbak, tapi kita tetap bertahan disini karena sumber kehidupan kita ada disini. Aku juga pernah mengalami kejadian yg kurang lebih sama. Yah, semoga semakin banyak lagi tukang ojek dan Mbak Dani di jakarta ini. Sebab kesulitan akan terasa lebih ringan jika orang2 yg terlibat di dalamnya memiliki hati welas asih..:)

  5. Kacamata ‘kejernihan dan kebaikan hati’ yang Jeng Ade ‘kenakan’, menjadikan segala yang dilihat dan diperjumpakan jadi terimbas kejernihan dan kebaikan. Trimakasih ya sharingnya. Salam kami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s