Jika Musim Harus Berganti…

Standard
Jika Musim Harus Berganti…

Saya sering berjalan-jalan ke toko-toko yang menjual biji bibit bunga. Ada Daisy, Petunia, Marigold, Zinnia, Torrenia, dan sebagainya. Kebanyakan yang imported, dikemas dengan cukup baik, diberi label. Saya sering membacanya. Misalnya – “Daisy. Golitah mixed. Big double daises for spring colour.  A hardy biennial, flowers the year after sowing. Large, long lasting mainly double flowers. Perfect for spring bedding, containers and edging. “ Dan  bla bla.. seterusnya. Lalu ada petunjuk detail mengenai ketinggian tanaman,waktu tanam, bagaimana cara menyemai dan menumbuhkannya.  Harganya lumayan mahal. Bahkan kadang-kadang terlalu mahal untuk ukuran kantong saya. Kadang-kadang biji bunga itu sudah saya pegang dan masukkan ke keranjang belanjaan saya, namun sambil berjalan saya mikir ulang lagi mengingat harganya yang kemahalan.  Lalu saya balikkan kembali ke tempatnya semula. Urung membeli!.

Mengapa saya harus membeli biji bunga berulangkali? Untuk jenis bunga yang tidak umum tumbuh di Indonesia,mungkin masuk akal lah  jika saya harus membeli. Tapi untuk bunga-bunga yang umum tumbuh di tanah air?  Misalnya  Zinnia, Aster, Cosmos, Marigold dan sebagainya – semuanya ada di Indonesia. Untuk awal, kita mungkin perlu membeli anakan bunga dari tukang kembang ataupun meminta anakannya dari teman maupun kerabat yang memilikinya. Namun untuk berikutnya, saya tak perlu meminta atau membelinya lagi. Karena sebenarnya saya bisa memiliki biji-bijinya tanpa harus membeli berulang. Asalkan saja saya sedikit rajin.

Kebanyakan diantaranya adalah bunga semusim. Hidup hanya beberapa bulan. Tumbuh dan berbunga memeriahkan kehidupan kita dengan keindahan warnanya, bentuknya dan wanginya. Untuk kemudian meranggas, layu dan akhirnya mati. Demikian cepatnya  mengikuti siklus kehidupan. Musim berganti. Kehidupanpun berganti.

Ketika, melihat tanaman ini mulai meranggas, jangan terburu-buru mencabut dan membuangnya. Hal terbaik yang bisa kita lakukan sebelum mencabutnya adalah memanen bunga-bunganya yang sudah layu dan kering. Dimana di dalamnya sekarang terkandung biji-bij kecil yang siap kita tanam  kembali di musim berikutnya.

1. Pilih sisa-sisa bunga yang sudah kering dan belum jatuh dari pohonnya. Biasanya berwarna coklat kehitaman.  Gunakan gunting yang bersih untuk memotong dari tangkainya. Setelah bunga-bunga kering dipanen secukupnya, tanaman yang telah meranggas sekarang boleh dicabut dan dibuang.

2. Uraikan bunga kering pada nampan. Selain mengandung biji-biji kecil didalamnya, umumnya bunga kering juga mengandung remah-remah bunga. Remah-remah ini  biasanya ringan dan jumlahnya cukup banyak, berguna sekaligus sebagai pelindung biji saat masih belum kering.

3. Kita bisa memurnikan biji-biji bunga ini dengan cara meremas, memisahkan dan meniup remah-remah yang biasanya sangat ringan ini,sehingga  yang tertinggal di nampan hanya biji-biji kering saja.  Tapi jika kita tak ingin memurnikannya juga tidak menjadi masalah. Kita bisa menyimpan biji-biji sekaligus dengan remah-remahnya.

4. Jemur biji-biji bunga di bawah terik matahari hingga benar-benar kering untuk menghindari kelembaban yang berlebihan. Biji yang masih lembab ( terutama dengan remah-remah yang lembab) dapat mengundang pertumbuhan jamur.

5. Setelah kering, simpan biji biji bunga di dalam kantong plastik kecil-kecil atau dalam stoples kaca dan letakkan di tempat yang kering. Biji sekarang siap untuk disemaikan kembali.

Jikapun  musim harus berganti, kita tak pernah kehabisan bibit bunga yang kita sukai untuk kita tanam di musim berikutnya.

8 responses »

  1. Bu Made ini memang perhatian sekali dengan tanaman hias. Lumayan lho tips penyimpanan bibit untuk musim berikutnya ini…

    Selain penyayang binatang, Bu Made juga penyayang tumbuh-tumbuhan… Lengkap sudah. Tri Hita Karana-nya semua jalan…. Mantap.

    Salam dari Negara, Bali.

  2. Sekalipun meranggas lalu mati, bunga-bunga tak lenyap begitu saja. Meninggalkan biji untuk diteruskan kehidupan berikutnya oleh genesari berikut. Analoginya persis dalam kehidupan manusia juga ya Mbak Dani. Kita meninggalkan delegasi pada generasi di bawah, entah berupa buay pikir atau kebiasaan hidup. Merugilah kehidupan jika yg kita wariskan adalah hal-hal buruk..

  3. Tips yang sangat cantik Jeng Ade, selama jenisnya bukan hibrida kita masih bisa menanam biji keturunannya dengan sifat tanaman yang sama dengan induknya. Namun bila jenisnya hibrida, penanaman biji keturunan akan menghasilkan sifat yang kurang secantik induknya. semoga bermanfaat. Selamat menyimpan benih, salam

    • Ooh.. gitu ya Bu Prih? Saya baru tahu tentang qualitas biji dari hibrida. Selama ini sih memang kebetulan yang saya semaikan selalu yang dari tanaman kampung – kecil kemungkinannya itu hibrida. Thanks informasinya Bu ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s