Will You Still Need Me, When I’m Sixty Six?

Standard

Perjalanan Seorang Salesman Sejati.

Baru saja bubar meeting dengan sebuah agency, telpon genggam saya berdering. Sambil merapikan kabel laptop, saya melirik ke layarnya. Nomor yang tak saya kenal. Belakangan saya sering tidak mengangkat dering telpon yang tak  saya kenal nomornya. Terlalu banyak penawaran kredit bank, asuransi dan sebagainya yang sangat menyita waktu di jam kerja. Namun entah kenapa, sekali ini dorongan rasa ingin mengangkat dering itu cukup besar.

“ Nduk.. Pak Yo sedang sakit. Kenapa ndak njenguk?” Suara di seberang itu rupanya milik Pak Yohanes Sutarjo. Saya mengenalnya sebagai National Sales Manager di PT Ristra Indolab di sekitar tahun 1995-an.  Walaupun Pak Yo bukan atasan saya langsung, namun saya merasa sangat banyak belajar dari beliau. Sangat kebapakan dan tidak pelit ilmu. Sehingga kepada sayapun bahkan bukan memanggil nama, tapi memanggil “Nduk!”. Konon dalam bahasa Jawanya itu adalah panggilan untuk anak perempuan. Jadi saya setuju saja dipanggil “Nduk”.

Beliau menceritakan dirinya bahwa saat ini sedang sakit parah dan menanyakan mengapa saya tidak menengoknya? Tentu saja saya kaget. Saya tidak mendengar bahwa beliau sakit. Setahun yang lalu beliau masih sempat mengunjungi saya saat jam makan siang di kantor.  Setelah itu kami tidak saling ngobrol lagi.

Mencoba mengingat-ingat kembali posisi rumahnya di daerah Cawang, akhirnya sore itu saya ke sana seusai jam kantor. Sudah lama tidak pernah ke daerah itu. Jalanan sepi, hanya ada kendaraan yang sibuk melintas. Tak ada pejalan kaki. Yang ada hanya 2 -3 orang pemuda yang duduk di tepi jalan, menyulut api rokoknya dan sebotol minuman ditangannya. Saya pura-pura tidak peduli untuk meredam kekhawatiran saya. Walaupun sebenarnya hati saya dag dig dug. Setelah celingak-celinguk dan agak ketakutan oleh suasana jalan di area Cawang malam itu, akhirnya saya berhasil menemukan rumahnya yang terletak di sebuah gang sempit.

Saya menemukan beliau terbaring lemah di pembaringan di  rumahnya. Sebuah tabung oksigen tampak berdiri siap sedia di ruangan itu. Rasanya hati saya miris sekali. Sudah sangat banyak sekali biaya yang beliau keluarkan demi kesembuhannya. Bahkan hingga terpaksa harus menjual sebuah rumahnya, namun kesembuhan sulit sekali datang. Akhirnya beliau terpaksa dirawat di rumah.

Dalam keadaan sakitnya, sambil tersengal-sengal beliau bercerita tentang kesuksesan peningkatan penjualan setiap perusahaan tempatnya berkarir. Mengisahkan dengan detail hal-hal yang dilakukannya untuk meningkatkan penetrasi pasar dari setiap merk yang ditanganinya. Aktifitas distribusi, penjualan, promosi, display  dan hubungan personal dengan tiap outlet yang menjadi pelanggannya.  Saya sebenarnya tidak tega melihatnya kecapean mengatur nafas  karena beliau terlalu semangat bercerita kepada saya. Tapi ketika saya larang beliau agar jangan terlalu banyak mengeluarkan energy, beliau tetap meminta saya untuk mendengarkan kisahnya saja. Hanya mendengarkan!

Tentu saja saya tidak ingin mematikan nyala api semangat yang tetap berkobar dalam dirinya. Saya ingin beliau senang dan bisa tertawa bahagia. Berharap kedatangan saya tidak membuatnya menjadi surut dan putus asa. Akhirnya saya mengambil alih pembicaraan. Saya menceritakan kembali saat-saat menyenangkan dan seru di jaman dulu. Melakukan travelling dengan mobil kantor dari kota ke kota di pulau Jawa selama berminggu-minggu demi menggelar Trade Gathering. Bersama dengan 3 orang  rekan marketing & sales yang lain, kami bertemu dan menjamu para distributors di setiap kota dan membujuk mereka untuk membelanjakan uangnya sedikit lebih, agar target penjualan kami tercapai. Wah, kalau saya ibaratkan itu mirip banget dengan perjalanan rombongan  Sirkus Keliling (maklum saat itu dana support untuk pemasaran sangatlah kecil dan kami harus memanfaatkannya se-efektif mungkin untuk mendapatkan penjualan setingi-tingginya). Tentu saja perjalanan itu penuh dengan hal-hal konyol, lucu, menyenangkan dan juga ada yang menyedihkan. Sampai di kota terakhir (Surabaya) saya terkapar sakit dan tidak sanggup lagi pulang ke Jakarta on time. Untunglah akhirnya bos kami mengerti, prihatin akan kondisi saya  dan mengijinkan saya pulang naik pesawat.  Pak Yo tertawa  senang dan terbahak-bahak saya ingatkan kembali tentang kisah itu.

Pak Yohanes Sutarjo. Menurut penuturannya sendiri, beliau memulai karirnya sebagai seorang Salesman di perusahaan distribusi dari Group Tempo Scan Pacific. Selama 10 tahun di Tempo, kemudian beliau melanjutkan karirnya di PT Unilever Indonesia,untuk kemudian menempati posisi sebagai National Sales Manager di PT Ristra Indolab. Keluar dari PT Ristra Indolab, beliau kemudian dipercaya untuk menjadi pentolan Sales Department di Bless yang juga memproduksi kosmetika  lokal dan kemudian terakhir di Tresnojoyo, perusahaan lokal yang kuat dengan Minyak Telon dan Minyak Kayu Putihnya. Sebuah perjalanan yang panjang dari seorang Salesman hingga ke penghujung karirnya.

Mungkin Pak Yo bukanlah generasi Saleman masa kini yang fasih dengan Territory Management, Trade Marketing, DAVM, ARO system dan istilah –istilah lain dalam penjualan dan distribusi jaman sekarang, karena beliau berasal dari generasi jaman dulu yang melakukan pendekatan tradisional dalam penjualan – namun di mata saya, beliau adalah seorang Salesman sejati. Seorang penjual yang banyak menggunakan pendekatan personal dan ketekunan dalam mewujudkan kesuksesannya. Beliau mengajarkan kepedulian dan tanggung jawab yang tinggi kepada seluruh teamnya.  Saya ingat kalimat beliau selalu kepada saya saat itu. Tujuh belas tahun yang lalu – dimana sebagai manager pemula saat itu saya diserahi tanggung jawab untuk mengelola para Beauty Consultants dan Promoters yang melakukan promosi penjualan diseluruh Indonesia.

Kendali armada penjualan sekarang ada ditanganmu, Nduk. Mesti dipastikan agar target itu tercapai. Karena keberhasilan itulah yang menentukan kesejahteraan team kita. Keberhasilanmu memimpin dan memotivasi akan menentukan periuk nasi banyak orang. Sama dengan  Pak Yo. Kelihatannya hanya beberapa ratus orang salesmen secara kasat mata. Tapi dibalik setiap seorang salesman ada seorang istri dan seorang-dua orang anak yang bergantung padanya. Kalau sampai gagal, sekian banyak orang yang akan terlantar. Jadi pastikan, jangan sampai perusahaan bangkrut hanya karena kita tak mampu memimpin dan memotivasi dengan baik. Kamu harus kuat, Nduk!. Pak Yo tahu kamu pasti kuat.”. Begitu kalimatnya selalu jaman dulu. Dan pesan  yang serupa tetap diulangnya kembali untuk saya malam itu.  Saya hanya bisa mengangguk walaupun tak pernah persis tahu apa yang harus saya lakukan untuk memenuhi pesannya itu.

Ketika pamit pulang dan kembali berada di perjalan ke rumah, tak terasa air mata saya meleleh diam-diam di pipi. Betapa saya telah berhutang budi padanya atas kesediaannya membimbing saya tanpa hitung-hitungan. Pak Yohanes Sutarjo – seorang Salesman sejati yang memotivasi banyak orang, termasuk saya sendiri. Seorang yang sederhana dan pekerja keras. Saya banyak belajar dari beliau. Banyak perusahaan dan merk telah disukseskannya, namun ketika beliau tua dan sakit mungkin tak ada yang mengingatnya dan mengenang jasanya itu. Adakah orang yang peduli?. Adakah orang yang mau membantu  meringankan bebannya?. Sekarang umurnya 66 tahun. Entah berapa lama beliau akan menanggung sakit itu. Adakah orang yang masih akan memperhatikan dan membutuhkan kita di saat kita berumur 66 tahun? Sebuah lagu jadulnya The Beatles – When I’m 64 – tiba-tiba  terasa seperti diputar di telinga saya. Entah apa hubungannya… .

When I get older losing my hair/Many years from now/ Will you still be sending me a Valentine/Birthday greetings bottle of wine.

If I’d been out till quarter to three/Would you lock the door/Will you still need me, will you still feed me/When i’m sixty-four.

35 responses »

  1. Sy tak mengenal pak yo, tp membaca tulisan mb ini, sy bs merasakan beliau org yg sgt baik hati.
    Membaca tulisan ini tak terasa air mata sy mengalir mb…
    Mengingatkan kembali pd sosok seorang bpk yg menolong sy saat kecopetan di sby dan beliau menampung sy. tp sy bahkan tak tahu hrs mencari bpk itu kmn utk membalas budi baiknya😦

    • Ya. Pak Yo itu sangat baik hati.
      Memang kalau kita merasa pernah berhutang budi pada seseorang dan belum mampu membalas kebaikan budinya rasanya sedih ya. Namun jika kita telah berusah, dan tetap juga belumberhasil menemukannya – sebaiknya kita serahkan semua padaNYA. Biarkan beliau yang mengatur semuanya, Gung. Semoga beliau mendapatkan kebahagiaan dan kebaikan yang setimpal dengan apa yang telah dikarmakannya..

  2. Alkisah ini akan menginspirasi banyak orang terutama pekerja partikelir kayak kita2 ini, makanya harus lebih giat lagi semasih mempunyai nilai ekonomis, hemat dan rajin menabung tuk masa pensiun nanti.

    Salam ;

    Detra

  3. Benar-benar guru sejati beliau itu…
    Guru yang selalu bersedia membimbing muridnya, kapan pun, di mana pun dan dalam keadaan apapun. Guru yang tak kenal pamrih, guru yang memberikan ilmunya tanpa memperhitungkan apapun selain kesuksesan muridnya..

    Sungguh, saya sangat terinspirasi. Beruntunglah Mbak Made memiliki orang sebijak beliau…

  4. semoga pak yo lekas sembuh dan beraktifitas seperti semula.. walaupun dalam keadaan sakit, beliau masih tetap semangat…
    setiap hari pekerjaan menuntut saya selalu berinteraksi dengan team sales sebuah perusahaan distribusi… sayang banyak diantara mereka hanya bisa jual barang yang sudah laku, sementara merek lain tak bisa mereka jual. bahkan pendekatan personal dengan toko juga sangat minim…

    • Terimaaksih banyak atas doanya untuk Pak Yo, Pak Gusti.
      Memang tak banyak orang yang memiliki kwalitas bagus dari dalam dirinya sendiri untuk mendorong penjualan. Training yang memadai sangat dibutuhkan. Mudah-mudahan dengan bantuan Pak Gusti, team salesnya semakin sukses Pak..

  5. guru paling berharga adalah pengalaman, kata orang bijak..
    Pak Yo mengajarkan dan membingbing berdasarkan ilmu dan pengalaman sungguh sangat mulia beliau..pantang menyerah terus berusaha dan tetap semangat modal menuju kesuksesan…
    semoga beliau cepat sembuh….

  6. Banyak hikmah yang bisa dipetik, ketika kita membezuk orang sakit ya Bu Made …. Membuat kita perlu mawas diri, khususnya menghadapi hari-hari mendatang … di saat usia tidak lagi muda. Saya kira ini pelajaran berharga buat saya juga.

  7. Menabung tentang hal-hal yang bijak juga membuat kita damai mbok yach…Jangan angkuh dan sok kuasa ketika muda, saat kita tua ngak ada yang ngelihat…

    terima kasih mbok…makna tulisan ini

  8. Semoga Pak Yo cepat sembuh, bu Made. Dari membaca tulisan ini, saya membayangkan beliau itu seorang pembimbing sekaligus sebagai orang tua yang luar biasa. Dengan tanpa pamrih mengajarkan generasinya semangat berjuang yang tinggi, khususnya di dunia marketing.

    Kepribadian Pak Yo ini patut diteladani dan ditularkan.

  9. Beliau berprinsip berbagi ilmu tak jadi rugi ya, keteladanan beliau jadi inspirasi pembelajaran bagi kita. Jeng Ade tengah belajar menerapkannya melalui blog ini. Salam

  10. Semoga kesembuhan adalah yang terbaik untuk Pak Yo ya mba
    sungguh berbudi orang2 yg masih mau mengingat orang2 yg berjasa di dalam hidupnya sampai pencapaian yang sekarang, karena kita tidak mungkin bisa maju dari kemampuan diri sendiri.

  11. Berarti beliau meniti karier dari bawah ya nduk (niru Pak Yo)
    Pengalaman dalam tugas tentu sudah banyak sehingga menjadi sumber ilmu.
    I’m 61 now. when I’m 64 could I be able to visit this blog again?

    Warm regards

    • Ya Pak De, memang meniti karirnya dari salesman. Ha ha.. saya senang juag dipanggil nduk. Asalkan Nduk Jawa. kalau Nduk Bali nggak mau (soalnya kalau di Bali nduk atau enduk itu sebenarnya berarti loyo /kurang tenaga Pak De). Jadi Nduk Jawa itu lebih semangat ketimbang Nduk Bali he he.

      Yes, definetely you could, Pak De. terimakasih

  12. Terima kasih infonya mbak Dani, dan penghargaan untuk mbak Dani atas kepedulian serta perhatian yg dalam atas rekan lama P. Yohannes Soetardjo. Maaf baru merespon (alasannya macem2 …). Semoga Allah memberikan yg terbaik buat “Pak Yo” dan permohonan maaf saya juga buat Pak Yo sekeluarga bila hingga saat ini saya belum sempat menengok (dan belum tahu rumahnya).

    • Sama-sama, Pak Bambang. Saya cuma ditelpon Pak Yo, Pak. kebetulan nomor telpon saya masih disimpan beliau. Jadi tahu kondisi Pak Yo.
      Semoga Pak Bambang juga selalu diberkahi kesehatan dan kebahagiaan ya Pak.

  13. Semoga pak Jo diberi kesembuhan dan keringanan dalam mena\ghadapi hidup yang semakin susah Saya sendiri tidak tahu bagaimana saat usia sudah memasuki kapala 6. Atau setidaknya setelah usai tidak produktif lagi. Apa masih bisa saya menulis uneg2 di kepala dengan tenag tanpa diribetkan dengan urusan yang lain. Tapi saya percaya pada yang di atas sana kaena Beliau lah yang akan memberi rejeki dan kemudahan pada hambanya😉

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  14. mbak Dani….maaf ya baru respon, sy sgt2 terharu mba…dengar kbrnya P’Yo,.andai sy msh tnggal di Jakarta mgkn sy lgsng jenguk ke rumahnya. teringat masa lalu beliau yang sgt kebapaan, lembut, ramah, santun, bijak semoga beliau di berika
    n kesabaran dlm menjalankan ujian ini dan semoga semua yg mengenal beliau mau perduli akan keadaannya saat ini, amin….salam buat P’Yo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s