Sea Shells, Treasures Hide In Sand…

Standard
Sea Shells, Treasures Hide In Sand…

Laut dan pantai, adalah tempat yang sangat memikat hati saya. Ketika masih tinggal di Bali, dimana pantai rasanya ada di semua penjuru, pantai tak pernah lepas dari kunjungan saya. Terlebih ketika saya berkesempatan tinggal beberapa saat di daerah Pratama, di Nusa Dua. Setiap hari saya bermain di pantai seorang diri. Pagi hari ketika matahari akan terbit. Sore hari ketika matahari meninggalkan bayangan-bayangan panjang di pepohonan. Pantai, dengan desau anginnya adalah tempat berkeluh. Sementara laut, dengan hempasan gelombangnya adalah irama penghibur jiwa.

Hingga kini, setiap kali saya mengunjungi kota-kota pantai di wilayah Indonesia, saya selalu berusaha menyempatkan diri melihat pantainya.  Tetap terkagum-kagum akan keindahannya. Terkagum-kagum akan pasir dan berbagai bentuk dan warna cangkang siput, kulit kerang dan tiramnya – benda limbah hewan laut yang tersapu ombak dan menyingkir diantara pasir dan bebatuan laut. Terkadang saya juga mengumpulkannya. Biasanya ukurannya kecil-kecil. Setiap kali melihatnya, saya merasa seperti menemukan harta karun yang tersembunyi di dalam pasir pantai. Ketika melihat pedagang di tepi pantai menjual yang berukuran besar, sayapun terkadang tergiur ingin membelinya juga. Bukan untuk apa, hanya  buat saya simpan dan pandangi saja keindahan warna dan bentuknya. Lumayan mengobati kerinduan akan pantai.

Saya pikir ini kan sebenarnya kulit binatang yang sudah mati. Jadi sebenarnya saya tidak sedang melakukan kejahatan apapun juga. Hanya mengumpulkannya dari alam. Atau membelinya dari pedagang di tepi pantai. Jadi saya tidak membunuhnya untuk mendapatkan cangkangnya. Karena saat saya temukan, binatang itu memang sudah mati.

Walaupun terkadang sempat juga terpikir, apakah dengan perbuatan orang-orang seperti saya ini yang membeli cangkang siput dan kerang , justru akan mempercepat perusakan terumbu karang dan kepunahan biota laut. Karena jika ada yang membeli, maka orang-orang jadi menangkapinya dan memperjualbelikannya. Waduuh!!. Tetap salah juga. Setelah memikirkan ini, maka saya urungkan kembali niat saya untuk membeli dan menambah koleksi saya. Tidak pernah membeli lagi!Daripada saya menjadi semakin merasa bersalah.

Cukuplah apa yang sudah kepalang saya miliki…


16 responses »

  1. bagus-bagus koleksinya bu made… saya juga tinggal di pantai, tapi belum pernah nemu kerang seperti itu.. ;D bagus bu made, mendingan gak usah nerusin ngoleksi, sebab bakal merangsang penjualnnya untuk mengambil kembali karena laku..

  2. Wah ternyata kepedulian anda dgn habitat laut telah mengalahkan nafsu yang hnya ingin menyenangkan hati sendiri (mengoleksi cangkang siput),,!!
    Jempol buat mbak made,,

  3. Menurut saya tidak masalah, justru ke pantai kan memang tujuannya untuk ini salah satunya. Banyak orang sepertinya sedang mencari-cari permata nya yang hilang di pantai ini. Kemudian dikoleksi, sekedar untuk menambah pengetahuan, mengidentifikasi, siapa tahu menemukan species baru … 🙂
    Kecuali memang kalau sudah dijadikan skala komersial, termasuk kita membeli kepada pedagang, tentu mereka mendepatkannya dengan skala besar, dan akan merusak.
    Kira-kira begitu menurut saya …. 🙂

    • iya.. saya pikir begitu juga. Kalau cuma mengumpulkan kerang kerang dari tepi pantai sih nggak apa-apa. Yang mulai saya pikirkan jika saya ikut-ikut membeli kulit kerang yang besar-besar itu dari pedagang (jangan-jangan itu hasil hunting serius ke laut)..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s