Jejak Kaki Di Pantai.

Standard
Jejak Kaki Di Pantai.

Setelah seharian bermain di tepi pantai Nusa Lembongan, saya bersama teman-teman kembali ke daratan pulau Bali dengan menumpang kapal Cruise yang sebelumnya mengantarkan kami ke sana. Sungguh hari yang sangat menyenangkan. Berjalan di bibir pantai dengan kaki telanjang. Saat itulah seorang teman berkata kepada saya “…ternyata jejak kaki mencerminkan kondisi si pemiliknya“. Karena kalimatnya itu, maka sayapun memperhatikan jejak-jejak kaki yang tertinggal di pasir. Ada yang telanjang, ada yang bersepatu. Berbeda-beda. Jenis, bentuk, panjang maupun lebarnya, serta jarak langkah  antar kaki satu sama lainnya  dan antar kaki kanan –kaki kiri.  Dan …..kedalamannya!

Bentuk jejak kaki di pasir menunjukkan bentuk dan ukuran kaki pemiliknya (panjang lebar, jari kaki lancip atau jeber). Jarak langkah antar satu kaki dengan kaki yang lainnya menentukan seberapa tinggi orang itu (asumsi: orang yang berbadan tinggi memiliki kaki yang panjang, sehingga otomatis jarak atar satu langkah ke langkah yang lainnya lebih jauh ketimbang yang berbadan pendek. Lebar jarak kaki kiri dan kanan menentukan diameter paha seseorang, sedangkan kedalaman jejak kaki mencerminkan berat badan pemiliknya. Saya tertawa geli memikirkan pikiran yang saya kembangkan sendiri  dari kalimat teman saya itu.

Namun point penting yang serasa diingatkan kembali kepada saya di sini adalah – bahwa banyak sekali hal-hal yang tak kasat oleh mata kita, sesungguhnya bisa ditangkap dari jejak-jejak yang tertinggal. Di banyak kejadian. Demikianlah polisi bekerja mengidentifiaksi pelaku dari sidik jari yang tertinggal, demikian juga dokter bekerja mengidentifikasi adanya serangan virus dari jejak imunoglobulin yang ditinggalkan dan sebagainya. Semua hal yang exist di dunia ini meninggalkan jejak yang bisa diendus di masa berikutnya – walaupun  hal exist itu sudah tidak terlihat lagi di sana.

Hal ini juga berlaku bagi perbuatan dan sikap kita sehari-hari. Tanpa kita sadari, setiap tingkah laku, perkataan dan perbuatan kita sesungguhnya terekam oleh alam.Jika kita  berkata kasar terhadap seseorang, walaupun kalimat kita sudah hilang diterbangkan angin, namun jejaknya tetap membekas di hati orang itu. Mirip jejak kaki. Kakinya sudah tidak di situ, tapi jejaknya tetap bisa bercerita tentang betapa beratnya atau ringannya tubuh kita. Demikian juga kalimat kita yang kasar. Walaupun telah tidak terdengar lagi oleh telinga, namun jejaknya dihati tetap menceritakan betapa kasarnya kita.

Memikirkan hal itu, tiba-tiba kalimat teman saya itu seolah berubah menjadi ajakan  kepada saya Marilah kita tinggalkan jejak yang sebaik-baiknya dalam hidup kita!!!!”.

29 responses »

  1. Salut dengan analisa bu Made, bahwa semua yang kita lakukan memang terekam oleh Alam. Mengibaskan tangan saja sudah terekam oleh Alam. Kalau kamera bisa merekam gambar dan video, Alam pastilah bisa. Karena dari dulu manusia juga belajar dari Alam.

    Baik buruk perbuatan manusia, jika tidak ada yang melihat kecuali dirinya. Alam pastilah merekamnya ya Bu Made? Tercatat rapi dan terekam rapi sebagai arsip untuk peradilan kita nanti setelah kematian.

  2. Renungan yang pas sebelum melepas penat nih … cukup untuk bekal menuju lelapnya malam ini.
    Sepakat dan sepaham, Mbak Made … filosofinya dapat sekali🙂
    Mari kita tinggalkan jejak-jejak baik untuk alam dan semua penghuninya🙂

  3. ya bu made betapa hatilah tempat kita bercermin. bila hati kita sakit apa yang bisa kita perbuat? yanh mengheran kita adalah amal baik membuat hati kita dan orang lain senang namun terkadang kita masih ingin memilih yang buruk.

    • iya.. bener banget, Bu Min.Terkadang kok kita masih memilih yang buruk ya..
      Perenungan dan refleksi diri, seringkali membantu kita untuk mengingatkan kembali jika kita menunjukkan gejala salah mengambil langkah..

  4. Jejak langkahku

    Itu semua bagian dari Cerita dalam hidup mbok yach….tak ada perbuatan yang tak luput dari pandanganNYA meskipun kita telah meninggalkan sesuatu, namun jejaknya selalu ada, itu bukti kalau kita tidak bisa melawan takdir.

  5. Ingat waktu baca buku seorang sufi dari India, yang bercerita kalau kita melemparkan batu ke kolam, gelombang akibat lemparan batu tersebut lama-lama akan hilang. Tapi sebenarnya gelombang tak pernah hilang, hanya mata kita saja yg tak mampu melihat. Apa2 yg pernah kita ucapkan juga tak pernah hilang, mereka bergema di alam semesta, mengisi jagad untuk sewaktu-waktu muncul kembali ke hadapan kita..Weeehhh Posting Mbak Dani mengingatkan aku pada gelombang yg bervibrasi yang pernah aku baca bertahun-tahun lalu🙂

  6. Saya jadi ingat kisa ini.
    “ketika ada 2 jejak kaki … saya bertanya, kenapa ada 2 jejak kaki? padahal saya sedang berjalan sendiri? Oh … itu jejak kaki kamu, dan yang satunya jejak kaki “Aku” karena kemanapun kamu melangkah “Aku” selalu menyertai kamu”. Begitu kata yang diatas.

    Ketika gelombang datang, dan menghepaskan jejak satunya lagi, sehingga tinggal satu jejak kaki. Lalu saya bertanya lagi, kenapa jejaknya tinggal satu, kenapa Tuhan meninggalkan saya?. Kata Tuhan, “oh bukan “Aku” yang meninggalkan kamu, tetapi kamu yang meninggalkan “Aku” itu jejak kaki “Aku” karena kamulah yang meninggalkan aku, karena kuatnya gelombang arus dunia ini, seolah kamu mampu menghadapi dunia ini, sehingga kamu yang meninggalkan Aku”

  7. jadi merenung, sudahkah saya meninggalkan jejak yang baik sepanjang kehidupan sya sampai hari ini? Hiks … padahal usia mau bertambah, janganlah sampai terbuang percuma. Buat apa hidup berlama2, tapi tak ada kebaikan yang ditinggalkan …😦

  8. Pingback: Jejak Kaki Kucing. | nimadesriandani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s