Pohon Buah Naga Dan Pelajaran Kedua.

Standard
Pohon Buah Naga  Dan Pelajaran Kedua.

Minggu yang lalu, saya kembali pulang kampung. Menengok kembali adik-adik, kakak-kakak dan kerabat saya yang lain. Juga sekalian menengok kembali rumah dan tanaman-tanaman di halaman, termasuk di dalamnya pohon Buah Naga (Pitaya) atau Hylocereus,  yang merambat bersandar pada batang pohon rambutan. Rupanya adik saya mencurahkan perhatiannya pada tanaman itu. Tampak sehat dan bersemi kembali.

Setelah meletakkan koper saya di kamar, maka sayapun ke halaman  ikut menemani adik saya melihat-lihat tanaman itu. Wow! Ada beberapa cabang yang tumbuh memanjang dari batang utamanya. Dan ada beberapa calon bunga muncul pada cabangnya. Diantara cabang-cabang yang berbunga itu, saya melihat sebuah cabang yang menarik perhatian saya. Pada cabang itu muncul 7 buah calon bunga.Tiga besar dan empat kecil. Yang tiga besar berwarna hijau terang dengan kelopak-kelopak sehat berbias merah tua pada tepinya. Yang empat kecil berwarna kemerahan. Terlihat lucu dan cantik juga.

Wah, cabang ini sungguh hebat!. Kuncup bunga yang besar belum mekar,kuncup kecil sudah muncul lagi” Kata saya sok tahu, mengambil kesimpulan. Adik saya tertawa. “Bukan!” katanya. “Cabang ini menghasilkan kuncup bunga sekaligus 7 buah pada saat yang bersamaan. Tapi yang sukses membesar hanya  tiga kuncup. Sedangkan yang empat kuncup sisanya, tidak sukses membesar”. Jelas adik saya. Ooh, jadi begitu. Adik saya lalu menunjukkan lebih dekat kuncup-kuncup kecil itu yang sekarang saya baru ngeh ternyata  memang menguning. Jadi warna sebenarnya adalah dasarnya kuning dengan kelopak kemerahan. Itulah kuncup bunga Buah Naga yang layu. Tidak sukses. Ha ha! Saya jadi agak malu pada adik saya atas ke’sok-tahu’an saya itu.  Saya merasa belakangan ini kadang-kadang saya memang agak sok tahu (nyadarnya belakangan). Dan tentu saja itu tidak baik untuk diri saya.

Tidak semua kuncup yang ditumbuhkan oleh pohon Buah Naga itu akan sukses menjadi buah. Beberapa diantaranya mati dan layu”. Oh!. Tentu dengan berbagai sebab musababnya. Barangkali ada yang karena kekurangan nutrisi, tersenggol mahluk lain, hujan, penyakit dan lain sebagainya. Tapi Buah Naga itu seolah tahu, bahwa tidak semua kuncup bunganya akan sukses menjadi buah. Sejak pertama kali ia belajar berbunga, ia terus produktif mengeluarkan kuncup-kuncup bunga baru yang tidak semuanya sukses menjadi buah. Tanpa mengenal lelah dan tanpa henti. Namun dari sekian usahanya mengeluarkan kuncup-kuncup bunga, beberapa diantaranya sukses menjadi buah.

Jadi, …”Kata adik saya sambil melihat ke arah saya sambil tertawa. Sayapun ikut tertawa. Karena tahu apa yang akan ia katakan berikutnya.

Janganlah berhenti bila gagal. Bangunlah! Coba dan coba lagi serta terus berusaha hingga kita berhasil. Karena kegagalan  adalah batu loncatan untuk kesuksesan.” .

Ya! Pohon Buah Naga tidak berhenti mengeluarkan kuncup-kuncupnya. Meski entah berapa diantara kuncupnya yang telah gagal, menguning, layu dan gugur ke tanah. Ia tetap berusaha dan berusaha hingga akhirnya sukses mengembangkan beberapa kuncup bunganya menjadi buah. Keluarkan tiga kuncup, satu sukses dan dua gagal. Keluarkan tujuh kuncup, tiga sukses dan empat gagal. Demikian seterusnya. Pohon itu seolah tahu, dengan meningkatkan kreativitas dan produktifitasnya ia sebenarnya meningkatkan peluang untuk sukses. Salah satu cara jitu untuk mengantisipasi kegagalan. Perbesar peluang! Serupa dengan usaha kita, manusia.

Usaha yang konsisten, kreatifitas dan produktifitas yang tinggi akan meningkatkan peluang kita untuk lebih sukses.”

Lalu jika buah Naga bisa sukses, mengapa kita tidak bisa sukses?

 Hm! Pelajaran kedua dari Pohon Buah Naga.  Jangan takut akan kegagalan. Apalagi dibuat mati oleh kegagalan. Anggap saja sebagai latihan.  Sukses adalah jika kita berani unuk terus berusaha dan bangkit kembali dengan lebih bersemangat.

Memikirkan ini, saya jadi terkenang kembali akan pelajaran pertama dari pohon ini kepada saya,  yang saya tuliskan sebelumnya pada Kisah Pohon Buah Naga Yang Terkejut.

21 responses »

  1. benar made kita jangan pernah menyerah harus terus berusaha..

    buah naga,, saya pernah menanamnya di belakang rumah tapi malah mati…
    apa mungkin karena tanahnya terlalu lembab ya made…??

  2. dikami istilahnya probabilitas atau juga daya reproduksi yang pasti tidak akan sampai 100%, karena banyak faktor yang mempengaruhinya,
    eh saya pingin pulkam juga, semoga bisa segera terwujud

  3. HHmmm …
    betul juga ya filosofi yang diajarkan oleh pohon buah naga ini …

    BTW …
    buah naga itukan yang buahnya berwarna putih … pinggirnya agak ungu … trus ada bintik-bintik putih seperti wijen itu kan ya ?

    Salam saya Bu

  4. Untungnya kita manusia tak berproduksi seperti buah naga mb Dani. Kalau ya coba bayangkan gimana nahan sakit dan patah hatinya melihat calon2 anak kita gagal ada yg gagal tumbuh. Dan bunga naga juga membawa kita pd pelajaran Darwin survive of the fittes. Hanya mereka yg paling memenuhi syaratlah yang akan bertahan hidup dan melanjutkan kehidupan. Untung lagi kita bukan buah naga, yg tetpaksa membiarkan sebagian bunganya mati dan memproduksi bunga baru lagi. Kita manusia selalu punya pilihan agar fittest di setiap bentuk kehidupan. Kita selalu punya plihan utk mencoba lagi bila sesuatu gagal.
    Tulisan yg keren Mbak🙂

    • ha ha..nggak lah kita ikuti si pohon buah naga itu pada bagian reproduksinya yang gagal. Gemporlah kita jadi wanita kalau begitu hi hi..Jangan pula kita ambil bagian yang % gagalnya banyak itu he he.
      Setiap mahluk ataupun kejadian yg melintas didepan mata kita selalu memiliki pelajaran sisi positif dan sisi negatif. Kita selalu bisa ambil pelajaran positifnya saja dari apa yang telah dibentangkan oleh alam didepan mata kita dan bebas membuang hal yg kita lihat tidak positif. Terimakasih Mbak Evi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s