Ketika Conrad Sakit Perut…

Standard

Saya ingin menceritakan pengalaman saya di sebuah perjalanan pulang seorang diri ke Bali. Setelah check in di counter sebuah maskapai penerbangan, sayapun akhirnya masuk ke pesawat dan  mencari tempat duduk saya sesuai dengan yang tertera  di boarding pass. Hmm.. kebetulan!. Dekat jendela. Kalau siang hari dan udara cerah,  memang saya lebih senang duduk dekat jendela. Karena  bisa melihat langit yang biru, awan-awan putih, hutan, sawah, gunung, pantai atau lautan saat pesawat melintas di atasnya.

Seorang pria rupanya telah menduduki bangku saya. Pria itu agak memaksa untuk tukeran tempat duduk dengan saya. Menurut saya sih sebenarnya agak kurang sopan. Namun saya kemudian merasa perlu menyetujui permintaannya. Pikir saya, barangkali ia memang jarang bepergian atau jarang duduk di dekat jendela. Jadi apa salahnya kalau saya mengalah dan memberi kesempatan bagi orang lain untuk menikmati pemandangan indah. Belakangan saya tahu dari obrolannya, bahwa pria itu adalah seorang anggota legislatif yang akan melakukan study banding ke salah satu kota di Bali. Serombongan.Oh!

Beberapa saat kemudian seorang anak kecil diantarkan pramugari duduk di seat antara saya dengan pria itu. Anak lelaki, berumur kurang lebih 9 tahun. Wah! Mengingatkan saya akan anak saya yang umurnya tak jauh beda. Saya menyapanya dengan riang. Awalnya sedikit pemalu dan tampak murung. Namun setelah saya ajak ngobrol, makin lama makin banyak celotehnya. Namanya Conrad. Ia bercerita bahwa  ia tinggal dan sekolah di Bali. Saat itu sedang dalam perjalanan pulang seorang diri habis berlibur di Jakarta atas undangan seorang temannya.  Papa temannya itu hanya mengantarkan sampai bandara di Jakarta dan selanjutnya ia hanya dititipkan ke petugas bandara. “Wah! Hebat! Conrad berani bepergian sendiri” Puji saya kepadanya.

Tak berapa lama pramugari membagikan makan siang. Saya membantu Conrad untuk mengatur tatakan makannya dan memesankan minuman untuknya. Namun tiba-tiba Conrad tidak mau makan dan mengatakan bahwa ia sedang tidak nafsu makan. Saya melihat mukanya pucat dan murung kembali. Tentu saja saya khawatir dan segera menanyakan keluhannya. Ia hanya mengatakan sedang tidak enak badan. Tidak ada keluhan yang spesifik.  Saya memeriksa keningnya. Tidak panas. Lalu saya menyarankan ia untuk tetap makan sedikit dan jika memang tidak sanggup lagi, jangan terlalu dipaksakan. Conrad tampak minum sedikit. Saya tetap memperhatikannya dengan ekor mata saya.

Tiba-tiba ia memegang  perut bagian atasnya. Sekarang saya mengerti. Anak ini mungkin sedang sakit perut dan ingin ke belakang sejak tadi, cuma tak enak mengatakannya. “Conrad sakit perut ya? Mau ke toilet?” tanya saya. Conrad mengangguk. Lalu saya menyuruh Conrad ke toilet dan meminta ijin kepada pramugari yang sedang membagikan makanan untuk membiarkan Conrad lewat. Ternyata Conrad tidak bisa lewat. Pramugari masih sibuk dan menyarankan Conrad untuk kembali ke tempat duduk. Saya bertanya kepada Conrad, apakah ia masih bisa menahankan sakit perutnya sebentar. Conrad mengangguk dan mengatakan masih bisa. Iapun duduk kembali. Dan saya juga meneruskan makan siang saya.

Beberapa saat kemudian saya lihat ia memegang perutnya kembali. Lalu saya menanyakan kembali ke pramugari apakah sekarang sudah memungkinkan untuk dia mundur sebentar dan membiarkan Conrad lewat. Pramugari itu kembali tidak mengijinkan. Saya benar-benar kasihan pada Conrad. Keringat mulai mengucur di wajahnya yang pucat.  Menahan sakit perut.

Akhirnya kami bertanya, apakah tidak memungkinkan bagi Conrad untuk menggunakan toilet yang di  Business Class? Kali ini saja. Perkecualian darurat. Untuk seorang anak kecil yang kesakitan menahan mulas perut. Pramugari itu mengatakan tidak. Ia tidak bisa mengijinkan seorang penumpang dari Economy Class untuk masuk ke toilet di Business Class. Rasa jengkel saya memuncak!.Betapa dunia ini memang telah disetir oleh uang!. Manusia kehilangan kemanusiaannya!!. Dimana letak nuranimu? Mana perhatianmu terhadap kesulitan penumpang? Rrrrgggghhh!!!

Akhirnya pramugari dan troleynya itu mundur juga.  Conrad pun akhirnya bisa lewat. Sang pramugari memberi saya penjelasan seolah-olah saya tidak mengerti bahwa ia sedang sibuk. Dan bahwa troley makan itu membuat gang menjadi sempit. Ia malah memberi saya kuliah dengan wajah kurang bersahabat ”Makanya Bu, kalau sakit perut dan perlu ke toilet harus sebelum atau setelah troley lewat”.  Ya ampuuun!!!! Sungguh saya tidak mengerti akan pramugari ini. Barangkali  ia belum pernah punya anak atau keponakan. Namanya anak kecil sakit perut. Dan tidak tahu pula kapan troley akan lewat dan mundur. Tentu ia belum bisa mengatur. Kapan ia mau sakit perut dan kapan mau tidak sakit perut.  Masih sukur ia tidak pup di celana. Kalau saja saya tidak ingat akan tekanan darah saya yang meninggi, tentu saya akan meledak marah saat itu. Akhirnya saya pikir tidak ada gunanya juga saya membiarkan diri saya dikuasai oleh nafsu kemarahan. Toh saat itu Conrad juga sudah berhasil  ke toilet.

Syukur setelah itu akhirnya Conrad kembali duduk di bangkunya. Kembali berceloteh riang dan menceritakan pengalamannya yang lain kepada saya.  Dan setelah memastikan seseorang telah menanganinya dengan baik di bandara di Denpasar, kamipun berpisah. Conrad segera memanggul ransel punggungnya dan melambaikan tangannya ke arah saya.

Seorang pria di belakang saya tiba-tiba menyapa “ Loh, itu tadi bukan putranya toh Bu? Kok tadi ibu tampak sewot sekali waktu anak itu mau ke toilet? “ tanyanya tersenyum. Saya hanya tersenyum dan menggeleng. Serta tak punya selera untuk menjelaskan lagi duduk perkaranya. Conrad memang bukan anak saya. Saya baru mengenalnya dua jam yang lalu. Namun di dalam diri setiap anak adalah jiwa-jiwa murni ciptaanNYA, dimana kita para orang dewasa sebaiknya memberikan ruang baginya untuk tumbuh dan berkembang dalam kedamaian dan kasih sayang.

Saya memandang langit Denpasar yang tampak biru cerah. Memutuskan untuk tidak membawa kejengkelan saya lebih panjang lagi hari itu. Dan  segera menebar senyum saya ke udara yang hangat. Warm welcome home!.

36 responses »

  1. HUHH dasar pamugari gak punya perasaan Hmmmmmm – tapi syukurlah tidak terjadi apa apa ya mbak hehhehe

    cerita yang menarik mbak – saya sampaikan salam pada conrad dari jakarta ” dimanapun ia berada sekarang heheheh d(^o^”) “

  2. Yah itu pramugari beruntung ketemu orang Bali yang santun. Kalau ketemu saya yang berwajah perang ini, mungkin sdh terjadi keributan. Saya pasti akan ngomong begini: ” Mbak emang situ mau nanti membersihkan kalau anak ini sampai e’e di bangku?!”

    Huh, ikut gemas..Kok gak ramah amat pada penumpang. Dia pasti tahu Condrad jalan sendiri. Dan anak kecil gak berhak mendapat kenyamanan sementara dia bertugas. Kalau dia adalah crew pesawat yg ada dalam foto, itu pasti pramugari G.. yah Mbak Dani?

    • ha ha ha.. iya emang. Nyebelin banget, Mbak. Saya sudah nahan emosi saja, masih sempat ribut juga.
      ya betul. Pramugari maskapai itulah.Kalau bosnya denger kejadian ini, mungkin ia malu barangkali. Justru itulah ‘moment of truth’nya apakah sebuah perusahaan jasa mampu menghandle client-nya dengan professional atau tidak, ya Mbak.

  3. Bilang aja ke Pramugarinya Mbak “Silahkan mbak duduk di sini! saya tungguin ampe mau brojol.” klo udah kebelet tuh pramugari jangan pindahin trolinya. Salah ndiri bilangnya ”Makanya Bu, kalau sakit perut dan perlu ke toilet harus sebelum atau setelah troley lewat”.
    Kejem bener tuh pramugari.
    Nggak coba tuntut aj Mbak?

  4. Perjalanan udara yang tidak murah untuk ukuran wong cilik seharusnya juga diikuti rasa nyaman hati para penumpang akan mutu pelayanan yang diberikan awak pesawat. Memandang awan berserakan di langit tentunya menyenangkan. Namun tidak untuk Conrad yang mendadak sakit perut. Jika menghadapi ketidaknyamanan karena sikap judes pramugari, saya jadi mikir…..apakah sikap ramah dalam melayani penumpang sudah tidak ada ya?
    Salam…..

  5. salam kenal mba, kunjungan pertama hehe🙂
    ngomong2 soal bali, saya punya banyak kenangan disana,, dari mulai kenangan manis ampe pahit jd satu, hehe,, EVERYDAY IS SUNDAY IN BALI

    • Wah..terimakasih banyak atas kunjungannya. Gimana saya harus memangilnya?Mas Wahyu ya?
      ha ha..ya Everyday Is Sunday In Bali. Mudah-mudahan yang dikenang hanya yang manis-manis saja Mas. Nggak ada gunanya membawa yang pahit.
      Salam kenal kembali.

  6. yah lagi lagi uang yang jadi hilangnya rasa prikemanusiaan…
    menurut saya kalau keadaan darurat apa saja bisa di perbolehkan apalagi ini hanya toilet…alasanya jelas kalau sampai Conrad tidak bisa menahan panggilan ke toilet karena sakit perutnya dan itu sangat di mungkinkan… yang berabe siapa ya tentu pramugari dan mungkin semua penumpang yang berada dekat situ jadi merasa kurang nyaman…
    seharusnya c pramugari itu memberi izin bila perlu mengantarnya sebagai bentuk pelayanan yang maksimal..

  7. Dalam penerbangan seperti itu, seharusnya penumpang adalah raja. Dan anak kecil dan wanita wajib didahulukan. Itu maskapainya apa bu made (*rahasia ya?*). Itu para pramugarinya perlu di-briefing lagi. Saya jadi ikut sewot nih….😆

    • Saya nggak enak menyebutkan maskapainya, Pak Tu. Karena belum tentu semua pramugari di maskapai itu bersikap sekaku itu dlm keadaan darurat. Soalnya saat Conrad berhasil melewati troley pramugari yang satu itu, sesungguhnya saat itu di lorong masih ada satu troley lagi yg melayani penumpang di barisan belakang, tapi pramugarinya mau mundur kok. yah.. mungkin memang lebih tepatnya, dia perlu diberikan briefing ulang lagi ttg kepuasan pelanggan.

  8. Mbaaak, seneng ya kalau kita bisa sedikit saja meringankan kesulitan orang lain, apalagi ini seorang anak yang pergi sendirian…ah, ah…jadi malu maskapai kita memiliki kualitas pramugari seperti ini. Hati nurani dan kesantunan, dimanakah engkau berada?😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s