Are You With Me?

Standard

Seorang teman bercerita di telpon kepada saya tentang pekerjaan barunya.  Wah! Tempat kerja baru. Atasan  baru. Teman baru. Bawahan baru.  Suasana kerja juga baru. Semuanya sangat menyenangkan. Namun disela-sela ceritanya yang sangat menyenangkan itu, ia ada mengeluhkan kepada saya tentang rekan kerjanya yang menurutnya agak sulit ditebak. Apakah rekannya itu sebenarnya memahami  apa yang ia sampaikan atau tidak, ia tidak tahu. Karena menurutnya, ia curiga bahwa  rekannya itu sebenarnya tidak terlalu paham  dan sering tidak menyimak percakapan mereka  dengan baik .  Tentu saya tidak bisa memberikan advise yang baik atas keluhan ini, karena saya tidak mengenal rekan teman saya itu.  Selain seperti biasanya hanya merenung dan mencoba merefleksikan kembali hal-hal yang pernah saya alami sebelumnya  yang memiliki situasi  serupa dengan kejadian yang diceritakan rekan saya itu. Barangkali ada hal-hal yang bisa saya pelajari darinya dalam usaha saya untuk  membantu meringankan massalah teman saya itu.

Beberapa tahun yang lalu saya memiliki seorang atasan di tempat kerja yang menurut saya sangat pintar. Saya sangat menyukai cara berpikirnya. Bukan hanya sangat strategis,  tetapi juga sangat cepat. Hal itu membuat saya sangat senang tiap kali mendapatkan kesempatan berdiskusi dengannya. Satu hal yang saya perhatikan, adalah beliau itu sering sekali menutup penjelasannya dengan kalimat “Are You With Me?”.

Awalnya saya agak terkejut dan khawatir,  mengapa beliau menanyakan “Are You With Me?” kepada saya.  Selalu dan always!! Setiap kali saya berdiskusi dengannya, saya perhatikan minimal ada satu kalimat tanya “Are You With Me?” dilontarkannya kepada saya. Setiap kali habis menjelaskan ide atau gagasannya kepada saya. Terus terang saya agak kurang nyaman awalnya. Saya mulai berpikir apa yang salah dengan saya? Kemungkinannya ada dua. Pertama,  jangan-jangan  beliau berpikir bahwa IQ saya jongkok alias tulalit dan khawatir saya tidak mampu menangkap gagasan yang diajukannya. Atau, jika tidak begitu – jangan-jangan beliau menganggap saya tidak menguasai Bahasa Inggris dengan baik, sehingga saya tak mampu menangkap pejelasannya dengan baik. Waduuh.. berabe nih!  Atasan saya itu kebetulan belum bisa berbahasa Indonesia. Mana yang benar diantara kedua buah statement itu? Salah satu , apalagi  dua-duanya tentu tidak baik untuk pengembangan karir saya ke depannya di perusahaan asing itu.

Namun lama-lama saya mengerti bahwa ternyata beliau berkata begitu kepada setiap orang. Setiap kali beliau selesai menjelaskan buah pikirannya. Kepada saya. Kepada rekan-rekan kerja saya yang lain juga. Kepada seluruh karyawan. Yah… lumayanlah. Saya merasa agak terhibur kalau begini.Paling tidak, saya tidak lagi khawatir disangka tulalit. Tidak disangka  ‘nggak nyambung’. Tidak merasa bodoh sendiri. Karena memang standard kalimat beliau memang begitu. Lama-lama saya tidak merasakan suatu kekhawatiran  apapun dari kalimat itu. Biasa saja. Dan bahkan  jarang memikirkannya lagi.

Sekarang ketika beliau sudah tidak lagi ada, saya teringat akan kalimat ‘trade mark’-nya itu kembali. Dan berpikir bahwa sebenarnya atasan saya itu benar-benar seorang ‘tracker’ yang baik dan hebat dengan memanfaatkan kebiasaanya bertanya “Are You With Me?” kepada setiap lawan bicaranya.

Inilah  alasannya:

Melontarkan kalimat “Are You With Me?”  memberikan benefit yang sangat banyak. Serupa juga dengan jika dalam bahasa Indonesia kita melontarkan kalimat tanya “ ya nggak?”

Kalimat  tanya “Are You With Me?” digunakan untuk memastikan bahwa seseorang yang diajak berbicara menangkap apa yang coba dijelaskan oleh sang pembicara. Sangat jelas jika pendengar mampu menangkap pesan pembicara, maka ia bisa segera melanjutkan penjelasan berikutnya jika ada. Jika tidak ada berarti si pembicara bisa menghentikan pembicaraan segera. Sebaliknya jika si pendengar tidak mampu menangkap pesan si pembicara, maka pembicara bisa mengulangi kalimatnya dengan lebih jelas ataupun menerangkannya kembali dengan kalimat lain yang  maksudnya serupa, yang lebih dipahami oleh pendengar. Sehingga pada akhirnya si pendengar bisa menangkap maksud si pembicara dengan baik.

Selain itu,kalimat tersebut juga penting untuk memastikan apakah pendengar memiliki pemahaman yang sama dengan si pembicara atau tidak. Kadang-kadang, walaupun pendengar mampu menangkap maksud si pembicara dengan baik, namun belum tentu si pendengar sepaham dengan si pembicara. Bisa saja ia memiliki pemahaman lain. Bisa saja ia tidak setuju dengan pendapat si pembicara. Dengan menanyakan “Are you with me?” akan menolong si pembicara untuk mengetahui, dimanakah posisi si pendengar dari sisi pemahaman pendapat itu. Apakah sepaham atau berbeda paham?.Setuju atau tidak setuju?

Intinya adalah, jika kita ingin memastikan apa yang kita sampaikan kepada orang lain dimengerti dan dipahami dengan baik, maka kita perlu memebubuhkan sebuah kalimat tanya dengan gaya bahasa kita sendiri untuk memastikan itu.  Entah itu kalimat “ Iya, kan?” atau “Iya, nggak sih?“. Atau “ Bener begitu nggak sih?”   atau entah apalah yang sejenis begitu. Yang penting untuk menanyakan status kesepahaman si pendengar yang sesuai dengan kondisi dan situasi serta kultur yang berlaku.

Dengan demikian, maka kesalahpahaman bisa dicegah sejak dini. Dan penggalangan kesepakatan dengan pendengar bisa dilakukan dengan lebih cepat. Sungguh salah satu teknik berdiskusi yang baik. Are You With Me?

29 responses »

  1. sebuah tekhnik komunikasi yg tergolong mmg cukup mumpuni karena mampu memberikan feedback yang sangat berarti buat kualitas komunikasi itu sendiri…..apa yg telah disampaikan oleh “trainer” kemudian dicoba direview kembali oleh pendengar dengan beberapa input berupa masukan ataupun sanggahan dari komunikasi yg terjadi saat itu…..!
    btw…..tadinya udah mau salah sangka ya mb Ni…..lha aku aja melihat judul postingan ini sudah salah sangka….ternyata kontennya mempunyai makna lain toh…..😀

  2. mengingatkan saya dengan guru ngaji saya bu made. setiap beliau menjelaskan suatu konsep sabelum dilanjutkan kegagasan baru beliau bertanya pada pendengarnya,” bisa dipahami?” jika kamai mengangguk. penjelasan dilanjutkan. bila tidak ada persetujuan beliau menjelaskan dengan kalimat yang lain.

  3. wahhh betul juga tuch d(^o^”) dengan bagitu kita bisa mengetahui penyampaian kita diterima atau tidak dan lagi kalau memang tidak sepaham bisa mencari titik tengah dari pemahaman yang mereka miliki.
    BETUL TIDAK ??? <—- latihan sebelum jadi seorang pemimpin yang hebat /(^.^")

    d(^o^)b

  4. kata temen saya, dengan membubuhkan kata2 seperti itu, kita bisa membaca kepribadian orang yang suka memaksa, dan selalu menganggap dirinya benar….
    ato gimana yah?..
    salam hangat bukanperantau🙂

    • Oohh..gitu ya. Thanks infonya.Saya baru tahu itu. Untunglah kebetulan atasan saya ini orangnya nggak seperti itu menurut saya dan teman-teman,beliau malah sangat terbuka, mau mendengarkan pendapat kita dengan baik dan penuh perhatian. Dan banyak sekali justru menerima, mengambil dan menggunakan gagasan-gagasan kita atas persetujuan bersama. kalaupun akhirnya ada beberapa gagasan beliau yang diaplikasikan,itu lebih karena kita semua memang berpikir bahwa gagasan itu memang baik, atau lebih baik daripada gagasan kiat sendiri.

  5. di film2 juga suka ada dialog begitu. biasanya (sejauh yang saya tangkep) dimaksudkan apakah kita mau menyertai orang yang nanya dalam pekerjaan atau tindakannya. seperti memastikan dukungan kita dalam sebuah pekerjaan. bagus juga yah ada atasan yang seperti itu. jadi dia nggak hanya satu arah, nggak cuma ngasi perintah atau marah2in karyawan, tapi juga melibatkan dan mengajak karyawan dalam menjalankan pekerjaannya. gimanapun doi butuh karyawan biar perusahaannya tetep berdiri. jadi inget juga sama mbak sepupu saya, dia suka bilang sama karyawannya, “kalo nggak gitu (menuhin target) ibu nggak bisa makan lah…”😀

    • Atasan saya itu orangnya sangat terbuka dan menerima dengan baik masukan-masukan dari kita.
      Iya.. Mbaknya Mas Ilham itu bagus ya dalam meng’encourage’ bawahannya untuk mencapai target yang ditetapkan..

  6. Kalau saya, biasa menggunakan kata “nyak teu?” (yang berarti “ya gak?”) setiap kali menyampaikan buah pikir saya. Tapi saya menggunakan kata itu bukan karena ingin dipahami, tapi untuk sekedar ingin mendengar kalimat pembenaran dari lawan pembicaraan saya. hehehehehe “Nyak teu?”

  7. Atasan Mbak Dani itu juga komunikator ulung. Dia ingin pikirannya di pahami dan diterima alias mau mendapat aliansi. Kalau gak yah percuma saja ngoceh capek-capek kalau apa yg dia omongkan gak mempengaruhi orang yg diajaknya bicara dan bertindak sesuai kehendakanya.

    Are you with me?

    • Yes, Iam with you,Mbak he he. Menurutku begitu juga sih. Kalau ia memiliki ide, ia sellau ingin menjual idenya dengan sebaik-baiknya agar dibeli oleh orang kantor -termasuk aku. Cuman untungnya, atasanku itu masih mau mendengarkan ide orang lain juga. Dan masih mau berganti menyokong ide kita jika ia pikir ide kita lebih bagus. Cukup fair lah..

  8. Sure, I’m with you, Jeng Ade. Cara menghargai yang apik dalam komunikasi, berbagi ide dan menjadikannya ide milik bersama. Jeng Ade juga komunikator handal nih. Salam

  9. Iya mbak, saya sependapat.
    Penutup kalimat sederhana itu bisa menjadi penekanan bahwa apa yang kita sampaikan bisa diterima dan dilaksanakan. Sepakat terhadap satu hal, memang harus diucakan agar kesalahpahaman bisa diminimalisir…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s