Happy Life In Simplicity.

Standard

Duduk di bawah pohon di tepi pantai Nusa Lembongan pada suatu siang. Seekor burung tekukur melintas terbang di depan saya dengan riangnya. Terbang rendah lalu mendarat dan berjingkat di tanah yang bertabur pasir. Seolah tak perduli akan kehadiran saya di dekatnya, tekukur itu sesekali mematuk sesuatu dipasir yang barangkali biji-bjian  yang tercecer. Berjalan lagi beberapa langkah, lalu berhenti. Terlihat sangat riang dan trengginas. Mencari sesuatu di pasir. Berjingkat kembali lalu terbang rendah dan hinggap kembali di  tonggak-tonggak batu yang dijadikan pagar tempat itu. Burung itu memandang ke arah laut lepas. Oohh..hidup yang damai!. Tak terlihat sedikitpun kekhawatirannya untuk mengarungi hidup. Padahal siapa tahu apa yang akan terjadi esok hari? Barangkali seekor burung Rajawali akan  datang memangsanya? Barangkali angin laut yang kencang akan menghempaskannya di batu karang yang keras dan terjal?  Tak sedikitpun ketakutan itu tercermin di wajahnya. Hanya kebahagiaan yang terpancarkan dari gerak tubuh dan bola mata kecilnya.

Saya memperhatikannya dengan takjub. Hidup yang simpel. Bangun pagi, mencari makan untuk hari itu, bermain, tidur, berkembangbiak. Sederhana. Hidup untuk hari ini.  Mencari makan juga untuk secukupnya hari ini. Tidak mengambil berlebihan dari alam. Dan tetap meninggalkan sisanya untuk burung tekukur yang lain. Tetap riang dan selaras sengan alam. Selaras dengan debur ombak, dengan angin yang berkelana dan dengan pasir putih yang terpanggang matahari tropis. Demikianlah hidup pada awalnya. Sedemikian sederhana dan ringkas. Demikian juga barangkali hidup manusia pada awalnya. Hanya sebuah hidup sederhana, mencari makan untuk mempertahankan hidup. Namun kemudian kita membuatnya menjadi lebih kompleks. 

Kita penuhi hidup kita dengan kekhawatiran berlebihan akan hari esok. Setalh cukup makan untuk hari ini, lalu menimbun cadangan untuk hari esok. Setelah memiliki banyak cadangan, tetap merasa belum cukup juga. Menimbun dan menimbun lebih banyak lagi seolah alam tak akan pernah menyediakannya lagi untuk kita esok hari. Lebih banyak timbunan makanan, lebih banyak koleksi pakaian, menambah jumlah kepemilikan rumah, kendaraan, gadget, dan seterusnya.

Kita penuhi hidup kita dengan kekhawatiran akan tidak setara dengan orang lain.  Khawatir akan apa kata orang lain jika kita tak ikut memiliki barang-barang itu. Beberapa diantaranya mungkin berusaha bekerja keras agar mampu mendapatkan semua itu. Beberapa yang lain harus menjual tanah untuk misalnya dapat memiliki kendaraan. Beberapa diantaranya juga melakukan peminjaman di bank. Ada juga yang memaksakan diri, menggunakan failitas kartu kredit yang berlebihan. Kalau digunakan seperlunya mungkin sangat membantu dalam upaya untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Namun jika digunakan secara berlebihan, bukannya memecahkan masalah, namun menambahkan kekhawatiran berikutnya yang lebih kompleks.  Khawatir tak mampu membayar dan dikejar debt colector. Ooh.. betapa kompleks-nya hidup manusia.

Saya melihat burung itu masih bertengger di tonggak batu itu. Sunguh saya takjub akan kebebasan hidup yang dimilikinya. Akan kebahagiaan yang terekpresikan olehnya di depan mata saya. Saya membayangkan kemurnian hidup yang dimilikinya. Membandingkannya dengan kehidupan manusia yang sangat kompleks. Apakah dengan ke’komplek’an masalah yang kita miliki hidup kita menjadi lebih bebas merdeka dan lebih bahagia daripada burung tekukur itu?

Jawabannya barangkali relatif. Ada yang merasa hidupnya sangat bahagia.Namun ada juga yang merasa hidupnya menderita. Jadi sebenarnya memang tidak ada jaminan, bahwa memiliki segala jenis cadangan akan hari esok dan kesuksesan dalam  menyamai atau melebihi orang lain itu akan membuat hidup kita menjadi lebih bahagia. Belum tentu. Karena harta kekayaan, jabatan, kemewahan, kebangsawanan – semua itu sifatnya hanya duniawi belaka. Kekhawatiran terus akan mengejar dan menghantui jiwa-jiwa yang tak mampu membebaskan dirinya dari perangkap kegemerlapan duniawi.  Semuanya hanya menawarkan kebahagiaan sesaat. Tak ada satupun yang menawarkan kebahagian hakiki.

Kebahagiaan yang lebih mendasar barangkali lebih mudah didapatkan ketika kita mampu sedikit melepaskan diri dari keterikatan dengan  segala pernak-pernik duniawi itu.  Hidup dengan lebih berimbang. Balanced Life! Memilikinya tanpa mengikatkan diri kepadanya. Memanfaatkan harta, pengetahuan, jabatan dan  kebangsawanan yang barangkali kita miliki, untuk meningkatkan kwalitas hidup & kebahagiaan orang-orang serta mahluk hidup di sekitar kita. Bukan untuk menyombongkan diri dan terbius semakin jauh olehnya. Memaknai setiap langkah yang kita lakukan, menerima dan mensyukuri apa yang kita dapatkan, mengembangkan senyum dan menebarkannya kepada orang lain. Semuanya menentukan kwalitas kebahagiaan kita.

Oh! Hidup sesungguhnya sederhana dan ringkas. Mengapa saya harus membuatnya menjadi bertambah complicated?. 

Saya memandang burung tekukur itu sekali lagi. Matahari mulai bergerak ke arah barat. Ombak berdebur dengan lebih keras. Burung tekukur itupun terbang seiring hembusan angin yang menguat di pantai. Meninggalkan secercah senyum kebahagiaan  dan kedamaian di hati saya.

25 responses »

  1. HIDUP yang simpel seperti itu kenapa saya harus meresahkan sesuatu —-> terima kasih ya mbak ni🙂

    tulisan tulisan disini sungguh pernuh makna dan syarat pelajara d(^o^”)

    buang rasa resah, dan gundah dan jalani kehidupan yang sederhana ini dengan senyuman d(^o^)b

  2. Sepertinya lebih banyak gak tahu lebih baik Mb Dani. Tekukur itu hanya hidup untuk detik ini, mematuk makanan yg di dapat penuh kegembiraan. Gak memikirkan apakah besok masih ada remah-remah yang tersisa ataukah hidupnya akan berakhir sore itu juga karena disambar rajawali. Tekukur tak punya konsep tentang masa depan. Mungkin gak dibekali otak juga untuk keperluan tersebut.

    Berbeda dengan kita yg punya jonjot otak amat kompleks..Kita selalu mengkuatirkan apa yg belum terjadi, menginginkan apa yg tak dimiliki, lalu melupakan apa yg kita inginkan sebenarnya. Yang kita dan semua orang inginkan itu sama, kebahagiaan..Dan kebahagiaan dapat dikondisikan seperti burung tekukur, tidak mengkuatirkan apa yg kita mau atau apa yg belum kita miliki. Kebahagiaan bisa kita undang datang kapan saja dan dimana saja.

    • Ya..bener banget tambahannya itu Mbak.Apa yang kita inginkan pada dasarnya adalah kebahagiaan. Namun kita justru sering melupakan tujuan dasar itu karena telah terjebak oleh keinginan -keinginan yang lain.

  3. Seperti hidup bunga tunjung mbok, dia begitu sederhana…bukan? memerlukan lumpur untuk akarnya(nafsu) memerlukan air untuk tumbuh(harta) namun tidak tenggelam oleh keduanya.

  4. mungkin..kita adalah simplisitas yang terpecah-pecah. jadi, biar simpel lagi, segalanya harus dikerjakan bersama, menyayangi orang lain, menyatukan kompleksitas dengan saling menghargai perbedaan, dan tidak ragu melibatkan orang yang kita percaya atau sayangi dalam mencapai sebuah tujuan..seperti si bos yang suka berkata, “are you with me?” hehe😀

    • Ya begitulah burung tekukur.sama dengan yang dikurung orang dikandangnya. Cuma sedikit langsing dan tidak segendut yang dipelihara orang (mungkin karena lebih banyak bergerak dan lebih susah cari makan sendiri he he he).

  5. barangkali, kita sebagai mahluk yang diberi akal, diberikan juga hidup dan pola pikir yang complicated. karena dengan berhasil melewati segala hal yang complicated itu, kebahagiaan yang didapatkan juga tidak sederhana. melainkan kebahagiaan complicated yang luar biasa juga. saya yakin kebahagiaan yang kita dapatkan, pastilah tidak sesempurna kebahagiaan yang didapatkan si burung. kapasitas kebahagian juga sudah diatur. jadi saya yakin si burung juga tidak membutuhkan kapasitas kebahagiaan seorang manusia.

    Sayangnya, kita sering serakah thdp apa yang telah dikapasitaskan untuk kita. Dan sekali lagi harus kembali bercermin pada tekukur itu…ironis,,,hehehe

    -salam sejawat-

  6. Trimakasih jeng Ade sharingnya. Belajar dari burung tuk mensyukuri hidup, kesulitan sehari cukup tuk hari ini. Sedang ada tugas di Balikah jeng? Salam

  7. Kita memang harus terus bersyukur ya mbak, hidup itu sebenarnya berlimpah dengan anugerah, kalaupun ada sesuatu yang membuat kita mengeluh, rasanya itu yang akan membuat kita menjadi lebih baik lagi di masa datang…
    Thanks pencerahannya🙂

    • Bener banget, Mbak Irma. Segala sesuatu yang membuat kita mengeluh, juga akan sekalian men’challenge’ kita untuk berpikir dan mencari jalan keluar bagaimana caranya agar bisa lebih baik. Jadi memang tak perlu kita keluhkan.

  8. Pingback: Tujuan Dan Waktu | ekoeriyanah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s