Mengapa Rara Menangis?

Standard

Suatu hari  ketika saya pulang kampung,  saya menemukan Komang Rara, seorang keponakan saya sedang menangis dan membenamkan kepalanya di perut neneknya. Saya mendekat dan menanyakan mengapa Rara menangis? Ia tidak mau menjawab dan bahkan lebih mengencangkan sedu sedannya. Saya lalu memeluk dan membelai rambutnya yang keriwil. Namun tetap ia tak mau menjawab. Akhirnya saya membiarkannya sendiri dengan kesedihannya. Mungkin ia butuh berdamai dengan dirinya sendiri.

Mengapa Rara menangis? Setelah beberapa saat kemudian barulah ia mau bercerita kepada saya sambil tersedu-sedu. Ia menangis karena ditinggalkan oleh kakaknya keluar rumah. Ia ingin ikut dibonceng naik sepeda motor. “Rara nggak mau diajak” katanya dengan sedih.  Rupanya Rara sensitive. Merasa ditinggalkan dan tak diajak. Ooh, kasihannya. Padahal mungkin kakaknya keluar rumah dengan sepeda motor untuk keperluan yang tak ada hubungannya dengan Rara. Sementara mamanya sibuk mengurus bayi kecilnya.   Ia merasa sendirian. Untunglah tak lama kemudian kakaknya pulang. Untuk mengkoreksi perasaan ‘ditinggalkan’ yang dimiliki Rara, saya lalu menyuruh keponakan saya yang lebih besar itu mengajak Rara jalan-jalan naik sepeda motor. Rarapun kembali riang.

Anak menangis. Selalu memiliki alasan tersendiri. Mungkin ia sakit. Mungkin ia sedih.Mungkin ia merasa tidak nyaman. Mungkin ia membutuhkan perhatian. Saya selalu berusaha memahami apa permasalahannya. Jika  ia menangis karena sakit, biasanya saya langsung merespon penuh untuk menenangkan dan berusaha keras untuk membuatnya sehat kembali. Demikian juga jika ia merasa sedih dan sendirian. Saya biasanya tak membiarkan anak untuk berlama-lama berada dalam situasi itu. Saya  ingin anak-anak tahu bahwa mereka dibesarkan dalam kehangatan kasih sayang.

Namun terkadang saya membiarkan anak menangis juga. Karena menangis tidak selalu merupakan indikasi buruk yang harus ditangani secara gawat darurat. Banyak hal yang menurut saya justru bisa didapatkan anak saat menangis. Sehingga membiarkannya menangis, juga merupakan sebuah pilihan yang baik.

Pertama adalah  mengekspresikan perasaan.  Memberinya kesempatan menangis, sebenarnya sama dengan memberikan kesempatan baginya untuk mengeluarkan segala unek-unek dalam hatinya. Kita jadi tahu apa sebenarnya yang dipikirkan dan dirasakannya. Kita bisa menangkap apakah yang dipikir dan dirasakan itu sesuatu yang baik, buruk atau netral saja. Dengan membiarkannya mengeluarkan unek-unek itu, barangkali suatu saat kita bisa melakukan koreksi jika pemahaman anak kita salah. Atau memberikan koreksi terhadap diri kita sebagai orang dewasa  jika memang diperlukan.

Menangis juga memberikan kesempatan bagi anak untuk mengekspresikan sensitifitasnya terhadap suatu keadaan. Menurut saya, sensitifitas  juga merupakan suatu hal yang positive dan sangat berguna di kemudian hari. Walaupun rentang sensitifitas ini juga perlu terkontrol dengan baik. Terlalu sensitif terhadap keadaan tentu tidak baik. Namun memiliki sensitifitas rendah terhadap siuasi juga bukan merupakan hal yang baik. Ketika anak menangis karena suatu alasan tertentu, kita jadi bisa melihat seberapa sensitif ia terhadap suatu keadaan sehingga perlu sampai menangis. Jika ia menangis meraung-raung hanya untuk sebuah masalah yang sepele (misalnya dicolek temannya saja sudah menangis), tentu saja itu tidak baik untuk pengembangan dirinya ke depan. Namun jika ia tak memiliki sensitifitas sama sekali (misalnya sudah dipukul mukanya, tetap saja tidak melawan atau tidak menangisi), tentu kita perlu koreksi juga. Seberapa sensitive seorang anak terhadap apa yang terjadi di sekitarnya bisa kita lihat dari alasannya menangis

Sayangnya pada anak laki  keinginan menangis sering dipadamkan. Budaya kita melarang anak laki menangis. Aneh juga. Padahal menurut saya sensitifitas emosi perlu juga dikembangkan pada anak laki. Oleh karena itu, saya tak pernah melarang anak laki saya menangis.

Membiarkan anak menangis juga memberinya kesempatan untuk belajar dan memikirkan strategy agar lain kali bisa memecahkan masalahnya sendiri. Saya ingat ketika kecil saya menangis berguling-guling di lantai  untuk mendapatkan perhatian ibu saya.  Ibu saya biasanya segera melepaskan adik saya yang masih bayi dari gendongannya dan segera membujuk saya untuk berhenti menangis. Saya senang sekali. Suatu kali saya mengulangi ‘modus operandi’ saya untuk mendapatkan perhatian lebih dari ibu saya. Namun kali ini ibu saya justru sengaja membiarkan saya tetap menangis terguling-guling selama berjam-jam. Lama-lama  saya merasa cape juga dan berhenti menangis. Akhirnya saya belajar. Berguling-guling bukanlah cara yang baik untuk memenangkan perhatian ibu saya. Sejak itu saya kapok.  Saya memilih untuk belajar menjelaskan keinginan saya kepada ibu saya dengan lebih baik. Belajar ber’argue’ ketika ibu saya tidak setuju – ketimbang harus menangis berguling guling di tanah  tanpa kejelasan.

Menangislah jika memang perlu!.

42 responses »

  1. Menangis juga bentuk komunikasi ya jeng. Senang sekali dengan ‘berargue lebih efektif dari pada gegulingan’ hasil pembelajaran. Salam

  2. Mbaaak, anak yang menangis berguling-guling karena keinginannya tidak terpenuhi itu biasanya bikin saya gemes. Kenapa ya tidak bicara *sambil terisak-isak saja juga boleh* pada ibunya. Tapi namanya juga anak-anak, mereka pasti melakukan hal itu mungkin karena belum ada kesepakatan dengan orang tua tentang tata cara menyampaikan keinginan…

    Menangis, sampai sekarang juga masih sering saya lakukan. Entahlah, dengan menangis sebagian beban rasanya sudah terangkat🙂

  3. bagiku menangis adalah penyuci jiwa agar hati tidak mati. selama dilakukan sesuai porsinya. menangis sebagai penyeimbang agar kita tak banyak tertawa yang bisa mematikan hati, maka bukanlah hal tabu bagi orang dewasa untuk menangis. seperti yang dilakukan anak kecil.

    ngomong ngomong tentang menangis pada anak bu made banyak ibu yang tak suka dan tak sabaran bila anaknya menangis. cepat cepat dibentak agar berhenti menangis. karena orang tua menganggap perbuatan memalukan. dan segera perlu disembunyikan.

    • Ya bener banget ya Bu Min.. menangis adalah penyeimbang tawa. he he..saya tak terpikir sebelumnya. Thanks atas tambahan idenya.
      Mungkin ada juga orangtua yang panik kalau melihat anaknya menangis. Tapi sebenarnya memang tak perlu dibentak ya Bu.Karean itu tidak akan memecahkan masalah juga.Selain itu barangkali anakpun akan menjadi bertambah sedih..

  4. kalau anak kecil mengangis itu senjata andalan pamungkas dia, hanya itu yang bisa dia lakukan sebagai bentuk protes terhadap rasa kecewanya…
    anak saya juga suka menangis tangisnya pecah dengan berbagai macam alasan…

      • ya begitulah,,, semua orang rasanya pasti pernah menangis hehe…
        terlebih anak kecil kalau ada maunya yang belum di turuti ya itu dia keluar senjatanya menangis.. gak peduli dimana hehe…

  5. wah kalau saya menghadapi anak yang menangis kadang bisa bersabar dalam arti mau mendengar dan memberi penjelasan tentang apa yang tidak di perbolehkan… tapi kalau emosi sedang tidak setabil ya ambil jalan pintas langsung tanya “mau apa ?” sekiranya yang di pinta bisa di berikan ya di berikan atau di turuti…

  6. benarkah hanya manusia yg memproduksi air mata sbg respon dari emosional mereka mbak? yg artinya hanya manusia yang bisa menangis dan keluar air mata? tentu saja air mata di sini tidak termasuk air mata yg berfungsi sbg proteksi ketika ada kotoran masuk, karena hewan pun pasti pny kelenjar air mata juga. mungkin dgn latar belakang ilmu anda, bisa memberikan keterangan apakah hewan juga bisa menangis?

    • Pada faktanya binatang juga memiliki glandula lacrimalis. semuanya bisa mengeluarkan airmata. Namun yang jika ditanyakan adalah airmata yang berkaitan dengan emosi (kesedihan, kehilangan, dll)- kebanyakan binatang yang saya temui tidak spt itu,namun beberapa diantaranya juga menangis karena sedih,kehilangan, bingung maupun ketakutan. Walaupun menangis emosi spt itu bukan merupakan kejadian umum pada binatang.
      Saya pernah melihat fakta seekor induk anjing menangis ketika melihat seekor anaknya mati.
      Waktu kecil, saya juga pernah menonton kambing yang akan dijadikan qurban. Saat akan dipotong, kambing itu berteriak ketakutan.Saya melihat matanya berlinang dan memandang ke arah saya seperti meminta tolong. Saya melihatnya dengan penuh rasa kasihan tapi tak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya. Saya masih sangat kecil waktu itu. Jagal itu tetap memotongnya. Kejadian itu membuat saya sangat terpukul dan tetap membekas di hati saya. Sejak itu tak pernah sekalipun saya mau makan daging kambing hingga sekarang.

      • membaca reply dari mbak made… nampaknya saya berhasil mengeluarkan sisi dokternya nih,,,hehehe

        oh, jadi hewan bisa berair mata emosional juga yah,,,soalnya kmaren baru aja nonton film peraih oscar: Icredibely Loud and Extremely Loud, disitu tokohnya bilang “only human can cry tears”

      • ha ha..ada-ada aja. Sisi dokternya hanya keluar jika dibutuhkan saja. Nah, kalau sehari-hari ya..begini inilah…he he..
        Saya belum nonton film itu. Bagus ya? Pasti deh..
        Mungkin tokohnya belum pernah melihat binatang menangis karena sedih barangkali. Sehingga keluarlah statement itu (karena memang jarang banget kok). Nggak salah juga sih kalau ada yang sampai ngomong begitu.
        .

      • hehe, mungkin sesekali saya bakal memancing ilmu2 kedokterannya mbak Made, biar ga ilang mbak. sayang udah kuliah lama kalo cuma diumpetin ^_^
        bagus mbak crita filmnya,,,
        rekomended utk orang2 yg suka drama keluarga. sedih tapi ga terkesan terlalu cengeng.

      • ya memang sih.Kuliahnya udah lama, complicated lagi. Kalau di kedokteran manusia cukup belajar satu anatomi, yaitu anatomi manusia. Di kedokteran Hewan belajar berlipat ganda mata kuliah anatomi. Mulai anatomi Kuda, keluarga kucing, keluarga anjing, primata,unggas dsb. Sampai bersemester-semester he he he. Harus hapal musculus yang itu pada hewan anu, origonya nempel di tulang apa sebelah mana ya?
        Begitu juga histology dan fisiologinya yang beda-beda. Terus penyakitnya beda-beda pula untuk species yang beda. kalaupun ada yg sama, clinical findingsnya belum tentu sama antar hewan satu dg hewan lainnya. Diagnosis dan treatmentnya beda-beda lagi. Mana anestetik yang bisa dipakai untuk kucing ,mana yang aman untuk ayam. Belum lagi vena yang bisa dipakai untuk mengambil darah yang letaknya beda-beda. Dst, dst. Glek! Nah ..pusing kan? He he..udah gitu susahnya sampai berhasil lulus, ilmunya dilupakan pula he he he. Lengkaplah sudah. Sayang banget ya.

        Suatu hari,habis melahirkan (caesar) aku bercanda ke dokterku “kalau aku dicaesar aku harus bayar 11 juta ke dokter. Tp waktu itu aku mencaesar anjing milik seorang dokter, kenapa aku cuma dibayar 250 ribu aja ya?. Nggak adil lah. Kerjaannya kan sama beratnya?.Mana pasiennya nggak bisa diajak ngomong.” Terus dokterku bilang sambil tertawa “Ya udah.. coba caesar dirimu sendiri. Aku bantuin menganestesi di lumbal. Kutungguin deh sampai beres sendiri. Nggak usah bayar” katanya. Ha ha..Tapi aku tetap bangga kok jadi dokter hewan.

      • hahaha,,,

        mungkin sesekali mbak made harus menuliskan kisah2 yg berhubungan dengan kedokteran di blog ini. kayaknya seru.

        hewan memang lebih kompleks daripada manusia.

        saya kok tiba2 sedih klo tau betapa sulitnya mbak made berhasil menyelesaikan studi klo ternyata ga kepakai secara maksimal. sini mbak, ilmunya buat saya aja ^_^

      • Sebenarnya saya ada juga menuliskan beberapa hal umum yang berkaitan sedikit dg kesehatan hewan yang berguna untuk masyarakat awam. Tentu saja dg bahasa sederhana dan nggak complicated, agar mudah dipahami.
        Waktu itu saya melihat ada banyak orang mencari info tentang Toxoplasma dan kaitannya dg wanita hamil dan kebetulan masuk ke search engine term saya. Saya jadi merasa perlu menyediakan info tentang parasit ini. Lalu saya menulis tentang toxoplasamosis
        Sebelumnya saya juga melihat ada orang tua yang menanyakan ttg bolehkan anak memelihara bebek? Aman nggak kalau anak memelihara kelinci, bagaimana dengan kura-kura dst. Jadi saya juga menulis artikel ttg pemeliharaan hewan dan sedikit memasukkan info ttg penyakit hewan tsb yang mungkin diderita, bagi para orangtua agar bisa mendampingi putra-putrinya memelihara hewan dengan baik dan aman. Memang bukan artikel kedokteran murni, tapi lebih spt informasi yang berkaitan dg kesehatan hewan yang barangkali lebih dibutuhkan oleh masyarakat.

        Misalnya:
        https://nimadesriandani.wordpress.com/2011/04/17/menemani-anak-memelihara-bebek/
        https://nimadesriandani.wordpress.com/2011/03/06/mendampingi-anak-memelihara-kelinci/
        https://nimadesriandani.wordpress.com/2010/12/25/mengadopsi-anak-kucing-liar/
        https://nimadesriandani.wordpress.com/2012/01/29/mengajak-anak-untuk-memahami-anatomi-sederhana-kura-kura/
        https://nimadesriandani.wordpress.com/2010/12/19/burung-gereja-yang-jatuh-di-bawah-jendela/

  7. senangnya menjadi seorang anak yang bisa mengekspresikan segala apa yang dirasakan langsung… menangis menjadi hal yang sulit dilakukan untuk saya pribadi hmmmm apakah saya sudah tidak memliki rasa sensitif lagi

    keinginan marah marah sedih nangis yang ada didalam hati seakan ditutupi dengan topeng diri sehingga, mengeluarkan apa yang dirasa menjadi barang mahalll huhuhuhuh

    sekali lagi senangnya menjadi anak kecil yang bisa menangis🙂

  8. Mbak Dani, gile Rara cantik banget! Aku juga membiarkan anak2ku menangis, gak pernah menyuruh mereka berhenti dengan alasan mereka laki-laki. Paling2 kalau sdh lelah mendengarnya aku hanya mengatakan, berhenti nangisnya ya, mama juga pengen nangis nih…hehehe..

    Ohya, kemarin aku pinjam foto pakismu Mbak..Kemarin rupanya aku belum minta ijin dan sampai hari ini. Maaf ya Mbak Dani🙂

    • Ha ha ha.. iya. Ntar juga berhenti sendiri ya.

      Ya. Nggak apa-apa.Pakai aja,Mbak!. Malah aku suka dan berterimakasih. Berarti fotoku lumayan bagus dong he he he..
      Sorry aku juga agak sibuk urusan kantor seminggu ini. Jadi agak kurang punya waktu nongol di udara..

  9. Komang Rara cantik banget,
    melihat anak nangis kita juga jadi ikutan sedih ya, untung aja tangisnya hilang setelah jalan2

    suka trenyuh kalau lihat anak nangis tapi malah dimarahi atau dicubit ibunya, sering itu mbak kejadian kalau anak takut cabut gigi
    Gantian ibunya yang aku marahi

    • Iya ya.. padahal membayangkan peralatannya untuk mencabut gigi saja anak-anak sudah khawatir ya Mbak?. Apalagi ditambah pula dengan dimarahin ibunya. Bisa kebayang deh gimana susahnya mendiamkan pasien anak-anak ini tanpa support dari ibunya.

  10. setuju mbak…menangislah bila perlu… Dan saya juga tidak melarang anak lelaki saya untuk menangis ….. ahhh aku jadi ingat Riku menangis sekeras-kerasnya waktu melihat jenazah omanya😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s