Keberadaan Kita.

Standard

Akhir pekan. Saya dan anak saya melihat-lihat tanaman di halaman. Karena kesibukan lain, sudah cukup lama kami tak sempat mengurusnya. Rumput liar tumbuh di mana-mana. Pohon penaungpun sudah tinggi dan bercabang rimbun melewati kapling tumbuhnya. Membuat halaman rumah sekarang mirip semak belukar terlantar. Ulat dan  belalang juga menggerogoti tanaman hias saya.  Anak saya menunjuk sebuah kembang sepatu yang mahkota bunganya dimakan belalang. Tinggal setengah.  Saya  menunggunya beberapa saat. Melihat apa yang terjadi. Dalam waktu sekejap ternyata bunga itu habis dilahapnya. Tinggal pangkal bunganya saja. Sungguh belalang yang sangat rakus!. . “Wadouww!. Bunganya mama habis. Sekarang tidak bisa disebut bunga lagi”. Kata anak saya sambil berlalu.   Meninggalkan saya sendiri dengan pangkal kelopak bunga sisa gigitan belalang itu.

Saya mulai menyiangi tanaman saya dan mencabuti rumput liarnya. Entah kenapa pikiran saya terpaku pada kata-kata anak saya. Bunga itu disebut bunga ketika ia memiliki semua elemen penyusun bunga. Tangkai bunga, dasar dan kelopak bunga, mahkota bunga, putik dan sarinya. Elemen-elemen itu tentu saja tidak bisa disebut sebagai bunga. Masing-masing memiliki nama sendiri. Jika mereka bersama-sama, maka disebut sebagai bunga.

Sekarang jika kita bayangkan elemen-elemen itu dimakan belalang satu persatu. Putiknya, sarinya, mahkotanya dimakan. Tinggallah pangkal kelopak bunganya sendiri. Apakah pangkal kelopak bunga bisa disebut bunga? Tentu saja bunga itu tidak lagi bisa kita sebut dengan bunga, bukan?. Jadi saya harus mengakui kebenaran kalimat anak saya itu.

Jadi bunga itu ada, alias exist ketika elemen-elemen pendukungnya ada. Jika element-element itu tidak ada, maka tentu saja bunga itu tidak pernah exist. Demikianlah keberadaan bunga. Barangkali serupa dengan keberadaan kita!

Jadi teringat dengan obrolan bersama beberapa remaja tentang aktifitas mereka sehari-hari. Mereka menyebut bahwa penggunaan facebook, twitter, kegiatan nongkrong di kafe, mengupload foto-foto ke akun mereka  merupakan aktifitas untuk membuktikan bahwa mereka EXIST. Alias  diakui ADA. Jika mereka tidak aktif, tentu saja mereka merasa dirinya tidak EXIST. Agak geli juga memikirkan pendapat para remaja ini. Namun dalam kenyataannya elemen pendukung keberadaan seseorang agar diakui dalam lingkungan pergaulan itu memang ada.  Demikian juga jika  kita bidik facet kehidupan manusia lainnya. Selalu ada elemen pendukung sebuah keberadaan. Kita disebut ada ketika memiliki elemen-elemen yang mendukung keberadaan kita.

Matahari mulai merangkak naik.  Meninggalkan panas dan keringat di punggung saya. Saya  mengangkat potongan daun-daun kering dan rumput liar ke tempat sampah. Memandang langit biru sedikit berawan yang membentang di atas kepala saya. Menggelitik pertanyaan di benak saya.

Sebagai manusia,secara kasat mata tentunya kita juga sama dengan fisik kembang sepatu itu. Terdiri atas anggota tubuh yang menyebabkan kita ada. Namun di luar itu manusia memiliki elemen-elemen yang sangat kompleks yang menggiringnya berada pada posisi dan peranan tertentu dalam semesta ini. Kita memiliki jiwa, akal budi, hati nurani dan kesadaran spiritual yang menyebabkan kita EXIST sebagai manusia. Bagaimana jika belalang kehidupan menggerogoti hati nurani kita? Menggerogoti jiwa kita? Dan menggerogoti elemen-elemen lain kita lainnya? Jika itu terjadi, apakah semesta masih mengakui keberadaan kita sebagai manusia? Sampai dimanakah batas keberadaan kita sebagai manusia di jagat raya ini?

28 responses »

  1. Kreativitas sekaligus kearifan ala jeng Ade, bagaimana bisa dari bunga sepatu yang dikerikiti belalang masuk ke ranah hakiki keberadaan kita sekaligus dengan elemen2 terkaitnya? Trimakasih jeng pencerahannya, selamat berakhir pekan. Salam

  2. manusia tanpa hati nurani, apakah masih bisa dikatakan sebagai manusia :(… lalu bagaimana jika jiwa ini sedang tidak memiliki kesehatan spiritual karena digrogoti oleh emosi diri sendiri.

    kalau bunga dimakan oleh belalang, manusia termakan oleh diri mereka sendiri😦
    belajar menyeimbangkan keseluruhuan elemen pendukung tersebut sehingga kita benar benar terlihat seperti manusia d(^.^”) pasti susyeeehhhh dech hehehehe

    tetep semangat lah🙂 – lama tak muncul lagi motongin semak belukar di halaman rumah ya mbak hehehe

  3. Saya juga menyempatkan dan berusaha menyisihkan waktu saya untuk ngurus bunga2 saya Mbak…
    Nggak cuma belalang tapi juga ulat.
    Kebetulan saya suka bonsai, dan salah satunya adalah bonsai jeruk.
    Hamanya nggak ada lain selain ulat yg kalau makan daun rakus sekali.
    Mudah2an alam masih mengakui eksistensi saya
    Selamat merawat bunga
    Salam!!!

  4. Ckckck..Hebat! #sambil angguk2.. Lah kok ya kepikiran menghubungkan bunga, belalang dan eksistensi yah…

    Dan kembang sepatu kuning yang habis dimakan belalang kayaknya juga salah satu elemen atas keberadaan Ni Made Sriandani tuh Mbak🙂

  5. “Sungguh belalang yang sangat rakus!”.. jadi ingat bait sebuah lagu “tiba-tiba angin berhenti mendesir. daunpun berhenti bergoyang.walau hampir habis daun tak jadi patah.belalang yang serakah berhenti mengunyah.kisah belalang tua diujung daun. yang hampir jatuh tetapi tak jatuh.
    kisah belalang tua yang berhenti mengunyah.sebab kubilang kamu serakah” karya bang Iwan Fals..

    sama Made pekarangan belakang rumah saya juga sudah tak elok di pandang hehe

    kalau kita ingin di anggap ada oleh mereka di kelompok mereka ya kita harus exist
    seperti di dunia bloger kita di anggap ada kalau kita tetap exist

  6. mungkin justru karena si belalang menggerigitinya yang menegaskan bahwa itu adalah bunga yang sering dimakannya. mungkin keutuhan bukan hanya tentang penampilan, tapi fungsinya di alam semesta.🙂 saya baru liat kembang sepatu yang warnanya seperti itu. selama ini liatnya cuma yang warna merah.

    • Iya… keutuhan secara menyeluruh, bukan hanya semata soal fisik ya.
      Lah.. Kembang sepatu kan emang berbagai macam warnanya. Ada yang merah, pink,kuning,putih, jingga dsb. Memang sudah dari sononya begitu.Barangkali selama ini hanya nggak memperhatikan saja, kali mas Ilham?

  7. Mbak, jangan2 pernah belajar filsafat ya?
    Perumpamaannya kok ya bisa pas aja. Dari omongan anak banyak hal yang bisa dipelajari ya.
    Anaknya cerdas mbak.

    • Ya nggaklah, Mbak. Kan belajarnya dulu anatomi, fisiologi, farmasi, bedah, virology,bakteriology,kebidanan, dsb itulah.
      Aku cuma suka merenungkan kalimat orang-orang atau kejadian di sekitarku saja. Menurutku, kelihatannya selalu ada yang menarik kalau dipikir-pikir he he he..

  8. eksistensi kita di semesta tanpa batas ini pastilah sanat kecil dan sangat ga penting ya mbak,,tapi bagaimanapun kita diciptakan tanpa kesia-siaan. bahkan bayi yang hanya bertahan beberapa hari merasakan hidup di dunia kemudian meninggal pun pastilah memiliki peran. bahkan seorang bayi yang tak pernah dilahirkan dan meninggal di kandungan juga pasti ada perannya.

    tiap orang diciptakan untuk membangun takdirnya sendiri dan juga takdir orang lain. bisa jadi orang tersebut tidak punya masa depan yg jelas atau keburu meninggal. Tapi perannya dalam interaksi sosial ternyata mempengaruhi takdir orang lain begitu seterusnya hingga tercipta efek berantai saling mempengaruhi hingga terjadi sebuah sistem yg kita sebut sebagai siklus kebaikan.

  9. Membaca blog mb, sehabis berdebat dgn kekasih sy, membuat sy merenung. Mengapa sy membiarkan ego sy menggerogoti hubungan kami.
    Ternyata sy telah menjadi belalang itu sendiri mb, menyedihkan. Tp juga tak tahu gmn agar bunga itu bs kembali utuh sperti sedia kala😦

    Anyway, makasih buat kisahnya yg indah. Dan terutama terimakasih sdh menerima kami dgn hangat selama. Di jakarta mb. Menyenangkan sekali bs berada di keluarga mb yg hangat, andri yg rame dan aldo yg cool. Salam kangen pancake buat mrk berdua

  10. manusia memang perlu pengakuan dari orang lain tentang keberadaannya ya….
    ah semoga saya bisa jadi bunga yang utuh dan… tidak berbau busuk tentunya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s