If life Is So Short…

Standard
Girl of My Dreams

Image via Wikipedia

Saya mendengar lagu jadul  yang dilantunkan oleh band remaja  asal CanadaThe Moffatts diputar dari dalam sebuah toko. Lagu itu ngetop barangkali sekitar menjelang tahun 1999 atau 2 000. Walaupun saat itu saya bukan remaja lagi, tapi saya seorang penggemar Moffatts juga. Memang agak aneh! Sudah ibu-ibu kok masih suka grup band remaja. Tapi memang saya menyukainya kok. Apa boleh buat. Menyukai warna suaranya. Dan saya menyukai beberapa hits-nya seperti Miss You Like Crazy, Girl of My Dreams, If Life Is So Short, I’ll Be There For You – dan termasuk hits-nya bersama penyanyi Jerman Gil Ofarim If You Only Knew. Setelah itu saya nyaris melupakan The Moffatts. Hingga lebih dari sepuluh tahun kemudian saya mendengar lagu If Life Is So Short diperdengarkan dari toko itu.

“If Life is so short/why don’t you let me love you/before we run out of time.

If love is so strong/why won’t you take the chance/Before our time has gone…”.

Saya menyimak baik-baik kalimat demi kalimat dalam lagu itu. Mereka-reka sendiri  kisah yang diceritakan di dalamnya.  Saya membayangkan kisah cinta 2 orang  remaja yang kandas. Karena  keduanya sama-sama keras kepala dan tak mau mengalah. Walaupun mereka saling mencintai namun tak ada satupun yang mau mengakui kalau mereka sesungguhnya  masih saling mencintai.  Hingga akhirnya keduanya pun menjadi korban keangkuhan mereka.  Hubungan mereka kandas karena keegoisan masing-masing. Mereka berpisah dan saling merindukan. Hingga batas waktunya pun habis.  Barulah penyesalan timbul. Namun semuanya sudah terlalu terlambat. Nasi sudah menjadi bubur.  Tak ada satu kesempatanpun yang mungkin lagi untuk membuat mereka bersatu.  Hati saya sangat tersentuh dan trenyuh dibuatnya.  Oh, betapa  sedih saya membayangkan  kisah itu. Tapi  jangan khawatir, tentu saja itu kisah yang saya pikirkan sendiri. Bukan karangan Moffatts.  Sehingga Moffatts pun menyarankan untuk ” Ucapkanlah cintamu sebelum segala sesuatunya menjadi terlambat!”.

Mungkin saya sedikit agak lebay. Namun apa yang disampaikan di lagu itu memang benar adanya. Jika hidup ini memang sangat pendek, mengapa kita tidak memanfaatkan hidup yang pendek ini untuk lebih menyayangi orang-orang yang kita cintai dengan sebaik-baiknya? Orang tua kita, saudara kita,  kekasih kita, suami kita, anak kita, keluarga kita, sahabat-sahabat kita? Sebelum terlambat? Sebelum jatah waktu kita habis di dunia ini?.

Setidaknya saya mengalami sendiri kebenaran kalimat itu.  Waktu berjalan sedemikian cepat. Tanpa saya sadari saya telah kehilangan kedua orangtua saya. Ketika beliau masih ada, saya terlalu sibuk mengejar impian saya sendiri.  Sibuk mengejar karir saya. Sibuk melakukan perjalanan ke sana ke mari, untuk melihat bagian lain dari peta bumi ini.  Sehingga hanya meninggalkan waktu yang hanya sangat sedikit untuk kedua orangtua saya. Orang yang  telah membesarkan saya dengan kehangatan kasih sayang. Saya tak pernah menyadari sebelumnya  bahwa betapa pendeknya waktu yang  disediakan untuk saya  agar bisa bersama orangtua saya.  Untuk menikmati kasih sayang mereka.

Ketika beliau  sudah tidak ada, barulah saya merasakan kehilangan yang amat sangat. Sering kerinduan datang menyesakkan dada. Ketika saya sedih, saya merindukan ibu saya untuk memeluk saya dengan kehangatan kasih sayangnya.Ketika saya mengalami kesulitan,saya merindukan  Bapak  saya untuk memberikan saya bantuan pemikirannya.  Bahkan ketika saya mendapatkan kesuksesan pun saya tetap sedih, karena  tetap tidak bisa berbagi kebahagiaan saya dengan mereka. Saya sering berharap memiliki waktu tambahan agar bisa  bersama mereka kembali. Saya sangat merindukan  mereka. Dan rasanya bersedia menukar dengan apapun dalam hidup saya jika saya diberi kesempatan bertemu kembali dengan mereka.

Kadang  kita kurang menghargai apa-apa yang telah menjadi milik kita.  Begitu kita tidak memilikinya lagi, barulah kita menyadari betapa kita sangat kehilangan. Kita merindukannya kembali. Berharap melihatnya kembali. Namun tentu saja semuanya itu telah terlambat. Menyedihkan!

Sambil melangkah ke tempat parkir, saya menyadari bahwa saya agak terbawa larut oleh kesedihan. Dan tentu saja saya tak mau membeiarkan diri saya seperti itu. Saya lalu bersenandung kecil mengulang kalimat Moffatts. “If life is so short, why don’t you let me love you, before we run out of time…”. Saya membayangkan wajah orang-orang yang saya cintai satu per satu. Lagu The Moffatts ini terasa menjadi pengingat bagi diri saya sendiri.

Rasanya berterimakasih kepada entah siapapun yang telah memutarnya kembali di  depan telinga saya. Dan tentu saja berterimakasih kepada Moffatts yang telah memperkenalkan lagu ini. Saya berjanji kepada diri saya sendiri, untuk mencintai dengan lebih baik. Lebih baik, dan lebih baik lagi. Saya ingin memperbaiki semuanya. Kalaupun karena keadaan saya tak mampu memberikan kwantitas yang baik, setidaknya saya harus mampu memberikan kwalitas yang terbaik dari kasih sayang dan cinta saya. Sebelum waktu saya habis…

29 responses »

  1. Hehehe … Miss u like crazy itu zaman saya SD, Mbak😀
    Dulu lagi ngehits banget boyband. Dulu paling demen nerjemahin teksnya😀

    Tetep, ya … Mbak made selalu punya filosofis sendiri terhadap sesuatu, Like it😀

  2. so much touching. thanks a lot for sharing…
    Since I still have my time, then I’ll do my best to fill in the love and care to my parents. And to all my beloved ones as well.

  3. Jeng Ade selalu mampu memberi arti mendalam atas sebuah fenomena termasuk lirik lagu. Trim jeng diingatkan tuk memanfaatkan waktu dengan baik bagi keluarga terkasih. Salam

  4. Mb, sy bbm dan sms tp g masuk2 nika. Mw berkabar nika mb dr siang kl kami sdh balik, echa dan uty sdh ke bali dan tiang mpun di Bali
    Suksma bantuannya selama di jkt gih…

    Salam bt mr.pancake andri dan mr.cool aldo heheh

  5. Ah, saya jadi teringat lagi kenangan-kenangan yang dilatarbelakangi lagu-lagunya The Moffats. Benar, bu Made. Lagu If Life is so short memang membuat saya terenyuh sejak pertama kali mendengarkan. Mmm… “jika hidup ini begitu singkat, mengapa kamu tidak membiarkanku mencintaimu, sebelum kita kehabisan waktu…” Oh…..

  6. jika kita bicara tentang hidup yang singkat, maka kita perlu bercermin pada kupu-kupu. dengan siklus hidupnya yang pendek, fase kupu-kupu adalah fase terakhir dan merupakan fase terindah sekaligus fase yang sangat berguna untuk proses pembuahan pada bunga-bunga yang sedang mekar.

    begitulah seharusnya. dengan keterbatasan waktu yang tersisa, kita hendaknya selalu menghadirkan kebermanfaatan dan keindahan yang dapat dinikmati oleh seluruh alam

  7. hidup terlalu singkat ya mbak, sepertinya saya harus mulai memahami hal tersebut, lebih mencintai dan menyayangi orang orang di sekeliling saya :(… semoga saya tidak mendapatkan penyesalan di hari depan <— terima kasih mbak ni🙂

  8. Pingback: Terima Kasih Ultraman | ekoeriyanah

  9. Mbak Dani pasti jadi tambah kangen ortu waktu nulis ini. Thanks sdh mengingatkan Mbak..Kebetulan orang tua saya masih ada dua2anya. Mudah2an saya bisa memanfaatkan waktu ini sebaik-baiknya..
    Iyah waktu terasa begitu singkat. Tahu-tahu uban sdh bertumbuhan di rambut walau di dalam tetap merasa sama..Kalau sdh begitu baru deh terpekur hehehe..

  10. Pingback: Tiga B ( 3B ) untuk Sukses | ekoeriyanah

  11. Betul mbak Made, ucapkan dan tunjukkan cinta pada orang-orang tercinta selagi masih ada waktu, karena kita toh tidak tahu kapan saat kepergian kita tiba…
    *jadi inget almarhum ibu dan bapak saya juga*

  12. ah mbak … saya baru kehilangan ibu saya belum 30 hari … Meskipun saya merasa sudah memberikan waktu saya padanya, rasanya tidak akan pernah cukup. Apalagi ketika saya menyadari bahwa saya sudah 20 th berada di Jepang😦
    Meskipun saya juga menekankan bahwa buka kwantitas yang penting tapi kwalitas, rasanya tidak ada kata MAXIMUM untuk orang tua. Selalu ada penyesalan, kekurangan, what if…. tak henti.
    Dan saya tahu juga bahwa ibu saya sudah merasa cukup karena dia pergi dengan damai, dan tanpa rasa sakit😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s