Persepsi Yang Membutakan…

Standard

Ketika kecil, jika malam mulai larut dan kami belum juga tidur, ibu saya sering berkata “Sudah larut malam. Cepatlah tidur! Nanti dicari oleh Salon-Salon”. Kamipun segera naik ke tempat tidur begitu mendengar nama Salon-Salon disebut. Monster yang sangat menakutkan. Tubuhnya pendek gempal dengan bulu tubuh lebat mirip kemoceng plastik. Rumahnya di pinggir kali dekat sawah rumah kami. Kalau kita tidur terlalu malam, maka Salon-Salon akan mendatangi kita. Entah apa yang akan dilakukannya terhadap kami. Nah, saya tidak mau membayangkan bagian terakhir ini. Maka sayapun tidur dengan cepat sambil memeluk adik-adik saya.

Setelah besar, saya mulai ragu akan keberadaan monster menakutkan bernama Salon-Salon itu. Lalu saya bertanya kepada Ibu saya. Apa sebenarnya yang bernama Salon-Salon itu? Kenapa waktu kecil kami sangat takut terhadapnya? Ibu saya menjelaskan bahwa Salon-Salon adalah nama lain untuk Kucing Jantan dewasa. Ooalah! Cuma Kucing! Kenapa Ibu saya meninggalkan kesan bahwa Salon-Salon itu  menakutkan? Mungkin saat itu Ibu saya sedang kelelahan. Mengurus lima anak plus beberapa orang keponakan, sambil bekerja mengurus beberapa penyosohan berasnya. Waktu istirahatnya sangatlah pendek. Tentu kelelahan jika anak-anaknya nakal tidak mau tidur. Sehingga keluarlah “Salon-Salon “sebagai  jurus pamungkasnya untuk membuat anak-anak tidur cepat. Saya bisa memahami alasannya.

Walau demikian, saya jadi heran juga. Bagaimana ceritanya, kok bisa dari seekor kucing jantan berubah menjadi monster menakutkan berbentuk kemoceng dalam pikiran saya? Penasaran akan hal itu, maka sayapun mulai bertanya kepada kakak dan adik-adik saya. Apakah arti kata Salon-Salon dalam pikiran mereka masing-masing?

Hasilnya sangat mengejutkan. Tak seorangpun yang tahu bahwa Salon-Salon sebenarnya adalah Kucing. Semuanya berpikir tentang mahluk asing yang tidak menyenangkan dan perlu dihindari. Namun  tidak seorangpun yang membayangkan monster pendek berbulu lebat mirip kemoceng. Ada yang  menyangka Salon-Salon  adalah monster tinggi  yang meloncat loncat. Ada yang berpikir wujudnya seperti  bayangan manusia membawa senjata. Ada yang  juga yang menyangka sejenis raksasa mengerikan. Saya jadi tertawa geli dibuatnya. Jadi  monster berbentuk kemoceng itu rupanya hanya ada dalam pikiran saya saja.

Hal yang serupa juga pernah saya alami berkaitan dengan kata “Sheer”. Bertahun-tahun saya menyangka bahwa arti kata Sheer itu adalah bersinar, berkilau, kinclong. Mirip kata “Shine”. Hanya karena saya pernah melihat Cindy Crawford, super model  yang ngetop tahun 80-an mengiklankan produk kaos kaki Stocking. Saya tidak ingat persis kalimatnya, namun saat ia menjelaskan tentang kehebatan Stocking itu dalam membalut kakinya yang indah, putih dan kinclong itu, saya mendengar ia ada menyebutkan kata Sheer.  Dengan kemampuan berbahasa Inggris yang minim, saya menyimpulkan sendiri bahwa Sheer itu artinya kinclong. Sebuah kesimpulan yang sangat dodol surodol, tentunya. Mungkin sebenarnya agak malu mengakuinya. Tapi itu memang terjadi pada diri saya. Kapan saya mulai menyadari bahwa pemahaman saya itu salah?

Adalah saat seorang teman saya bercerita bahwa menurutnya kata Sheer itu dikaitkan dengan warna ungu. Saya tidak mengerti apa kaitan warna ungu dengan kata Sheer. Seorang teman yang lain, beda lagi pengertiannya akan Sheer. Menurutnya Sheer itu artinya lembut. Ah! Masak sih? Karena penasaran, maka sayapun membuka kamus dan mencari di thesaurus.  Astaga!!! Ternyata Sheer itu serupa dengan pure, steep, fine, thin, translucent,dsb. Lah? Kok nggak ada kata Shine sih? Saya  belum percaya. Saya bongkar lagi kamus lainnya dan browse lagi di internet. Tapi tetap tidak menemukan keterangan bahwa Sheer  sama dengan Shine. Wah, berarti selama ini  saya salah dong menyangka bahwa Sheer sama dengan kinclong?

Itulah persepsi. Ketika kita tidak melakukan klarifikasi tentang sesuatu yang tidak kita pahami, maka sebenarnya kita membiarkan otak kita mereka-reka sendiri dari kesan yang tertangkap. Terkadang tidak sesuai dengan wujud benda atau pengertian yang sesungguhnya. Dan sangat mungkin berbeda-beda dari satu orang ke orang yang lainnya. Seringkali kesalah-pahaman pun muncul. Dan kalau berlanjut, pertengkaran mungkin saja terjadi karena perbedaan persepsi.

Klarifikasi! Betapa perlunya melakukan klarifikasi agar kita tidak dibutakan oleh persepsi yang kita ciptakan sendiri.

33 responses »

  1. btw, ibu dapat istilah salon-salon itu dari mama ya, kupikir tadinya semacam barong

    sering juga salah persepsi terjadi gaea2 aku malas buka kamus dan cuma nebak2 doang,

  2. persepsi emang bisa menciptakan hal2 yang mustahil dan ajaib. dan bisa berubah seiring waktu atau bertambahnya pengetahuan.
    denger salon-salon mikirnya salon yang buat perawatan rambut.😳

      • Ya. kan nggak apa-apa kan ya? Lebih untung kalau kita memposisikan diri spt orang yg belum tahu dibanding spt orang yang tahu ( saya kadang-kadang agak sok tahu juga he he he). Soalnya kalau orang menyangka kita tdk tahu, mereka cenderung memberi kita tahu. Tapi kalau orang menyangka kita sudah tahu, maka nggak ada orang yg mau ngasih tahu. jadi lebih untung nggak tahu dong ya..

  3. ini seperti konseo yang dijelaskan sama filosof Plato yang terkenal dengan ‘teori goa Plato’
    disana terdapat beberapa orang yang terikat dan menghadap ke dinding gua. dia hanya bisa melihat sebuah realitas itu ya hanya sebatas bayang-bayang yang terbentuk di dinding gua itu. padahal realitas asli adalah objek yang berada di luar gua.
    suatu saat satu orang berhasil melepaskan diri dari ikatannya, dan akhirnya bisa keluar gua dan meihat realitas yg sebenarnya. dia baru memahami bahwa realitas yg selama ini dia lihat hanyalah bayang-bayang. realitas yang sebenarnya ada di luar gua itu.
    kemudian dia masuk kembali ke gua dan berniat membebaskan teman-temannya. dia menceritakan ada realitas yang lebih nyata sedangkan yang mereka lihat hanyalah bayangan. tapi teman-temannya yang lain justru menyebutnya gila.

    itulah gambaran antara orang yang terkurung dengan persepsinya dan tidak mau keluar untuk menerima kebenaran yang lain

    salam ^_^

      • iya betul mbak,,klopun susah untuk jadi yg pertama ‘lepas’, semoga kita termasuk orang yang open mind terhadapa penjelasan2 orng yg mampu terbebas duluan

  4. Dari posting Bu Made, saya teringat dengan 3 orang buta yang bercerita pengalamannya tentang gajah. Orang buta pertama mengatakan bahwa gajah itu seperti batang pohon kelapa, karena yang dipegang adalah kakinya. Orang buta yang kedua mengatakan bahwa gajah itu seperti nyiru (penapis beras), karena yang dipegang adalah telinganya. Dan orang buta yang ketiga juga bercerita bahwa gajah itu sepeti drum, karena yang dipegang adalah perutnya.
    Kalau mereka dibiarkan berdebat mungkin yang menang adalah yang banyak memberi komentar seperti yang kita tonton di TV, dengan segala macam alibi.
    Informasi diperoleh parsial (tidak utuh) menyebabkan persepsi yang salah.

  5. Saya dulu punya persepsi, kenapa di setiap lintasan kereta api ada bola-bola di atasnya? Pikiran saya: kalau ke sundul akan meledak … 😀
    Kenapa setiap lintasan kereta, selalu dipagari? -> Supaya keretanya nggak belok dan jalan2 … 😀
    Jadi, klariikasi itu ternyata perlu!

    • ha ha…walaupun saya juga sebenarnya belum tahu jawabannya soal bola-bola itu hingga sekarang, tapi menurutku ppersepsi kalau disundul meledak itu lucu juga Mas. Tapi sebenarnya buat apa sih bola-bola itu? Pemberat kawat kalau putus biar nggak kemana-mana ya Mas Harjo?

  6. Hahaha..Sheer…kalau aku juga pengalaman tentang ini Mbak, tapi tentang nama resort The Valley yg di bandung itu. Waktu temannya menyebut ‘de faley’ aku ngotot mengatakan oh bukan begitu nyebutnya, mestinya “de feli’. Setelah mendengar berita berhabasa inggris di tv baru tahu kalau ternyata yg benar temanku itu..duh malu banget deh Mbak Dani

    • ha ha ha.. sama juga rupanya. Kadang-kadang ada saja pengalaman yang menggelikan dan sekaligus sedikit memalukan ya Mbak Evi..
      Tapi postifnya, jika kita masih mau mengakuinya dan berusaha membetulkannya setelah tahu akan kesalahan kita mungkin masih nggak apa-apalah barangkali.. he he

  7. Menyimak tulisan, menata persepsi, menggabungkan dengan persepsi yang sudah terbentuk, kadang memperkuat, kadang menggugurkan persepsi lama. Terimakasih jeng, diingatkan perlunya klarifikasi tuk lancarnya arus komunikasi. Selamat berkarya di hari baru. Salam

  8. Heeee saya sendiri tidak tau mbok..salon-salon kucing, kirain salon tempat berias heee sama dengan memedi mbok yach< apa sich memedi itu , pikiran langsung ke mahluk halus, kira-kira memedi itu apa mbok?

    • Iya.. ngggak tahu tuh darimana kok bisa namanya Salon-Salon.
      Mm..kalau Memedi itu sebenarnya apa ya? Nggak begitu tahu persisnya juga Bud. Tapi menurut pengertian Mbok sih kayanya sih memang sejenis mahluk halus (tapi bukan jahat ya) – tinggal bermasyarakat juga di jurang-jurang, batu-batu ataupun pohon-pohon besar gitu ya? Menurut cerita-cerita orang waktu Mbok kecil, konon Memedi bisa juga menyamar dan berbaur dg manusia dan untuk membedakannya katanya memedi tidak punya garis cekungan bibir yang di bawah hidung. He he he, nggak tahu bener apa nggak begitu itu?

  9. Betul mbak, klarifikasi yang dilakukan baik-baik dan dengan niat yang baik, akan menghasilkan solusi baik.
    Kalau klarifikasi dengan main tabrak, asal tuduh, hasilnya malah jadi musibah…
    Salon-salon, eh…baru sekarang lo saya denger istilah ini😉

  10. Persepsi sama dengan anggapan? ya sebagian dari persepsi adalah permainan fikiran dan daya nalar, bukan berarti salah persepsi berari nalarnya rendah, tetapi kemampuan orang lain membentuk persepsi sehingga kita terpengaruh dan menguatkan persepsi tersebut.

    Klarifikasi, ya Ni, disinilah letak kunci pemecahan masalahnya. Hmmm…marketer tahu persis masalah ini (*peace…*)

  11. ya persepsi itu bisa jadi malah membahayakan loh. Karena itu saya sering mengecek lagi arti kata-kata meskipun sudah tahu artinya. Bahkan waktu dicari bisa jadi keselip arti yang tidak termasuk dalam pikiran kita, meskipun arti yang sudah kita punyai itu tidak salah. Tapi ada yang lebih tepat.
    Kupikir kalau di Bali anak-anak ditakuti dengan Leak mbak hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s