Cabe Kering – Optimalkan Sisa Kebutuhan Dapur.

Standard

Mungkin  ada yang pernah memiliki sisa cabe yang cukup banyak di dapur? Sudah digunakan selama beberapa hari, namun tetap masih ada sisa? Membusuk dan akhirnya terbuang? Sayang sekali. Padahal harga cabai sangat fluktuatif. Kadang mahal, kadang murah. Banyak yang akhirnya hanya membeli cabe agak banyak saat harganya murah.  Walaupun tidak selalu, saya kadang punya cabe agak banyak. Kadang karena memang sengaja membeli agak lebih banyak saat harganya rendah. Kadang karena pohon cabe yang di halaman sedang berbuah cukup banyak.  Atau kadang karena oleh-oleh pemberian teman yang pulang dari ladang.  Nah, kalau kebetulan sedang punya stock yang berlebih, jangan dibiarkan membusuk dan terbuang. Kita bisa mengeringkannya untuk kita gunakan lain kali. Terutama jika harga cabai sedang melambung.

Kita bisa mengeringkannya dengan mudah seperti yang biasa dilakukan di kampung.Yakni dengan memilih cabai-cabai yang masih sehat. Kita cuci bersih dan kukus. Lalu jemur di bawah terik matahari dengan menggunakan nyiru (tampah). Sampai benar-benar kering.  Jaman dulu, di Bali orang  biasanya menyimpan di atas Punapi. Punapi adalah sejenis rak gantung yang terbuat dari bambu dan diletakkan di atas tungku kayu bakar yang terbuat dari tanah liat.  Biasanya dimanfaatkan oleh penduduk di kampung untuk menyimpan dan mengeringkan bawang merah, bawang putih, bumbu dapur lainnya, hingga mengasap daging atau Urutan (sejenis sosis tradisional di Bali). Cabe pun biasanya diletakkan di atas punapi.  Sehingga cabe tetap kering dan tak berjamur.

Sayang Punapi tidak lagi dimiliki oleh dapur-dapur modern jaman sekarang yang kebanyakan sudah menggunakan kompor gas maupun kompor minyak tanah. Karena Punapi tidak ada, maka kita bisa menyimpannya di kantong plastik atau di dalam stoples kaca yang kering dan bersih. Letakkan di tempat biasanya kita menyimpan bumbu kering.

7 responses »

  1. Mbak Dani, dapur tradisional Bali, rupanya sama dengan Dapur Minang..Kalau dapur kami, diatas tunggu dibangun para-para untuk meletakan kayu bakar..Nah biasanya di tempat tersebut juga berfungsi sebagai tempat untuk mengeringkan ikan, belut, cabe dan bawang..Dan sekarang dapur seperti itu perlahan-lahan juga punah🙂

    • Ooh.. aku sering mendengarkan kata Para-Para itu. Tapi baru mengerti ternyata itu sama dengan Punapi kalau di Bali. Tadinya aku pikir itu artinya loteng atau tempat tidur di lantai atas. he he..salah ya. Kalau aku tidur di Para-para , aku bisa semakin gosong dong.. he he

      Thanks infonya..

  2. Punapi di daerah Jawa Tengah disebut praga, untuk menyimpan sebagian hasil bumi (padi, jagung berklobot) biar tetap kering. Disimpan buah kering atau dibuat bubuk jeng? Salam

  3. kalo aku mbak ngga sempat mengeringkan, jadi masukkan freezer. Maklum cabe merah (keriting) tidak dijual di Jepang, jadi harus bawa yg banyak dr jkt.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s