Bali Yang Saya Tidak Tahu Sebelumnya.

Standard
Bali Yang Saya Tidak Tahu Sebelumnya.

Setiap orang tentu pernah memiliki pengalaman yang membuat penasaran menyangkut kampung halamannya sendiri. Teman saya dari Sukabumi pernah bercerita, bahwa daerahnya dikenal sebagai penghasil dan tempat pengasahan batu permata. Namun ia sendiri tidak tahu di mana tempat persisnya. Maka ia pun penasaran.

Saya juga pernah memiliki hal yang membuat saya penasaran berkaitan dengan ‘sesuatu’yang bernama Bali, tapi saya yang orang Bali tidak tahu sebelumnya.  Pertama adalah  Jeruk Bali dan kedua adalah Bumbu Bali.

Jeruk Bali.

Ini cerita ketika saya duduk di bangku SD. Suatu hari saya bermain dan bernyanyi dengan kencang berasa teman-teman saya:

Lihat ibu keretaku yang baru/Cukup besar buat ayah dan ibu/Roda empat buatanku sendiri/Dari kulit buah Jeruk Bali”.

Setelah itu, seorang teman tiba-tiba bertanya “ Yang mana ya, yang disebut dengan buah Jeruk Bali?”. Ups! Terus terang saya tidak tahu yang mana buah yang disebut dengan buah Jeruk Bali saat itu. Memikirkannya saja bahkan tak pernah. Saya menoleh kepada teman saya yang lain. Ternyata semuanya menggeleng. Tak seorangpun yang tahu, apa yang disebut dengan buah Jeruk Bali. Sungguh aneh! Kami tinggal di Bali, tapi tidak tahu mana yang bernama Jeruk Bali. Akhirnya karena penasaran, kami lalu bertanya kepada ibu guru. “Apa itu Jeruk Bali, Bu?”. Ibu guru sayapun rupanya tidak tahu. Lalu bertanya lagi kepada guru yang lain,  yang akhirnya mencari dan mendapatkan informasi serta gambarnya dari perpustakaan sekolah.

“ Oooh!. Itu Jerungka!”. Kata kami beramai-ramai. Setelah melihat gambarnya,  barulah saya tahu bahwa buah Jerungka sama dengan Jeruk Bali. Lalu mengapa ya kok disebut dengan Jeruk Bali?  Di Bali, orang menyebut buah itu sebagai Jerungka. Bukan Jeruk Bali. Memang agak mengherankan. Bukankah buah Jerungka juga ada di mana-mana di Indonesia? Bukan hanya di Bali. Namun akhirnya saya menduga. Barangkali karena Jeruk berukuran sebesar kepala orang ini ada di hampir setiap halaman rumah orang di Bali pada jaman dulu. Mirip pohon mangga di Indramayu. Setiap halaman punya. Minimal sebatang. Dan memang banyak dijual di Bali. Sehingga relatif, populasinya dulu memang cukup tinggi di Bali ketimbang di daerah lain. Sekarang sih saya tidak yakin, pohon ini masih banyak tersisa di halaman rumah orang-orang di Bali.

Ayam Dan Telor Bumbu Bali.

Nah, jenis masakan ini juga membuat saya bingung. Pertama kali  tinggal di Jakarta, sekitar tahun 1995 saya diajak memesan makan siang oleh teman kerja saya.  Seorang teman menawarkan “ Mau dipesankan Ayam Bumbu Bali nggak?”. Tanyanya. Hah? Saya bingung. Bumbu Bali apa ya? Saya belum pernah mendengar jenis masakan berBumbu Bali sebelumnya. Teman saya menjelaskan bahwa Bumbu Bali adalah masakan tradisional Bali. Harusnya saya yang orang Bali tidak boleh tidak tahu, kata teman saya. Tapi sumpah mati saya belum pernah mendengar kata itu sebelumnya. Saya tahu Sambel Matah, saya tahu Lawar Ayam, saya tahu Sate Lilit, Sate Lembat, Sate Tusuk, Sate Kuwung,  saya tahu Jukut Undis, Jukut Susul, Jukut Bulung, Serombotan,  Ayam Suna Cekuh, saya tahu Sambel Sere, Ayam Betutu, Pelecing Kangkung, Pesan Clengis, Tum Nangka,Tum Bungkil, Tum Be Pasih, Taluh Menyar dan sebagainya ragam masakan tradisional Bali. Sebut saja. Tapi saya tidak pernah tahu Ayam  Bumbu Bali!.

Karena belum banyak mengerti tentang makanan yang lainnya di Jakarta, maka sayapun ikut pesanan teman saya saja. Ternyata yang datang adalah Ayam dengan bumbu cabe merah dan tomat. Ooh!. Di Bali memang ada masakan sejenis itu.  Namanya Be Siap Mepelalah (maksudnya Daging Ayam Berbumbu Pedas – kalau diterjemahkan literally). Tapi saya tidak tahu kalau itu namanya Ayam Bumbu Bali. Saya pikir itu masakan nasional. Seperti halnya tumis kangkung, oseng buncis atau nasi goreng – dimasak di hampir semua dapur Indonesia. Tidak mengacu spesifik pada dapur etnis tertentu.  Berikutnya ada lagi Telor Bumbu Bali dengan bumbu yang sama dengan Be Siap Mepelalah itu. Sebenarnya kalau di Bali, ya disebut dengan Taluh Mepelalah (telor berbumbu pedas). Lalu mengapa disebut Bumbu Bali ya? Barangkali karena di dapur rumah tangga di Bali, banyak orang memasak dengan bumbu seperti itu? Sementara di dapur yang lain tidak banyak?  Entahlah.

Menarik mengetahui sesuatu yang kita tidak tahu tentang daerah kita, tapi  orang lain tahu…

29 responses »

  1. yg bumbu Bali itu juga aku sebelumnya tau dengan nama sambal lado,
    kalau nasi Bali mbak, disebut apa di sana?
    sering kali di seminar disertakan nasi kotak bumbu Bali, kelengkapannya ada sate lilit dan serundeng

    sama juga dengan pisang Ambon, di sana disebutnya pisang meja

    • Ya bener. Itu kan sama saja dengan Sambal Lado. Persis sama artinya dengan yang dalam bahasa Balinya (Mepelalah = Sambal Pedas).
      Kalau Nasi Bali ya.. bingung juga namanya kalau di Bali. Soalnya nggak ada yang namanya begitu. tapi kalau isinya begitu, mungkin namanya jadi Ajengan Campur (Nasi Campur) barangkali ya..

      Oya, Pisang Ambon juga nggak disebut dengan Pisang Ambon ya kalau di Ambon? Aku baru tahu, Mbak Monda.
      Di Bali Pisang Ambon disebut dengan Biyu Lumut.

  2. wah kalau gitu Made kalah sama saya hehehe ,, saya sudah tau jeruk bali sejak kecil, dari kulit jeruk bali saya suka membuat mobil mobilan…

    kalo untuk bumbu bali.. gelap gelap,,, sama sekali gak tau hehe..

  3. di sukabumi itu oleh2 khasnya mochi kaswari lampion🙂 enak loh, dy ga buka cabang jadi cuma ada 1 di dunia😀
    hem. kencang itu apa yah ?😮
    jeruk bali / jerungka itu kan kulitnya tebel yah ? jadi sebelum kita makan kita harus berjuang membuka kulit jeruknya:mrgreen: ane pernah waktu SD dulu makan jeruk bali di rumah saudara yang tinggal di sukabumi🙂

  4. Hehehe…di rumahku di Jatim ada tanaman jeruk Bali….buahnya enak dipakai rujak saat siang yang panas. Atau untuk acara mitono….orang yangf hamil tujuh bulan.

    Bumbu Bali?
    Jadi penasaran juga ya…latar belakang nama bumbu ini, juga nama jeruk….pasti ada asal usulnya.

  5. ohh gitu toh. wah saya lebih suka nama aslinya. lebih khas.
    mungkin sama kayak orang2 diluar sumatra bilang ‘soto medan’. kalo di medan sini bilangnya sih soto doang. soto ayam atau soto babat. yang agak2 aneh mungkin bika ambon. namanya ambon tapi khasnya dijual di medan.😀

  6. Jeruk bali, saya suka. Dipakai rujak manis, nikmat rasanya. Bumbu bali, saya paling doyan. istriku sering tak suruh bikin telor, tahu, dan pindang dengan bumbu bali. Orang Bali, saya juga suka😆

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s