Ngumbang!. Ketika Musim Berkelana Tiba.

Standard

Pulang kerja, anak saya menyambut di depan pintu. “Mama, La Kitty hilang!” katanya dengan wajah sedih nyaris menangis. Menceritakan kucing kesayangannya yang bernama La Kitty yang tidak ia temukan sepulang dari sekolah. Saya lalu membantu mencarinya di seputaran rumah, tetangga dan bantaran kali di belakang. Namun tak saya temukan bayangannya pun. Biasanya La Kitty keluar rumah sebentar dan kembali lagi. Dan biasanya tidak jauh. Namun kali ini La Kitty benar-benar tidak pulang. Anak saya menjadi sangat murung.

Saya lalu menghiburnya, dengan menceritakan kebiasaan kucing jantan. “Kucing jantan suka ngumbang! Suatu saat juga akan pulang ” kata saya. “Sepanjang ia tahu bahwa kita menyayanginya,maka suatu saat pasti pulang. Kecuali jika ia mengalami kecelakaan di jalan”. Memang tidak mudah menahan kucing jantan untuk tidak ‘ngumbang’ ke luar rumah. Karena kucing biasanya mengikuti nalurinya untuk menjelajah. Sekedar bermain, berburu atau menemukan pasangannya di luar sana. Apalagi saat musim kawin buat kucing. Barangkali semua kucing jantan akan berkelana. Sayapun menganalogikannya dengan kebiasaan anak saya yang juga suka bermain ke tetangga. Pulang sekolah hingga sore hari. Baru pulang setelah dipanggil untuk mandi atau makan. Anak saya akhirnya bisa mengerti, walaupun tetap mengharapkan kucingnya pulang.

Dan benar saja, esok harinya La Kitty pulang. Kami temukan sudah meringkuk di kursi malas di teras belakang. Esok harinya La Kitty mengulangi lagi perbuatannya. Hilang semalam. Namun esok paginya kembali lagi untuk makan. Demikian seterusnya, hingga sekarang kucing itu nampak lebih kurus dan lebih kotor tak terurus.

Ngumbang adalah kata dalam bahasa Bali untuk menjelaskan istilah menjelajah atau berpetualang. Jadi memang tidak ekslusif untuk kucing jantan saja. Saya ingat waktu kecil ibu sering memarahi saya karena sepulang sekolah saya suka bermain ke sungai, ke sawah, ke jurang, ke tegalan, ke lapangan rumput ataupun ke rumah teman. Dan baru kembali ke rumah setelah sore menjelang malam. Saya sangat menyukai alam. Ibu saya tidak suka anak gadisnya berkelana ke padang tegalan. Karena selain menurutnya aneh, juga sudah kesorean. “ Dari mana? Ngumbang saja kerjanya. Sampai lupa mandi. Lupa makan. Lupa belajar”. Jadi, saya akrab dengan kata ‘ngumbang’ itu.

Biasanya saya hanya diam saja, tak menjawab sepatah katapun kemarahan ibu saya. Karena saya tahu, esoknya ketika ibu saya sibuk, saya mungkin akan mengulangi lagi perbuatan saya itu. Berjalan kaki, ataupun naik sepeda. Namun walaupun ibu sering memarahi saya karena urusan ngumbang ini, saya selalu berpikir bahwa berkelana, alias berpetualang itu merupakan kegiatan yang sangat baik. Bahkan ke anak saya pun saya suka menganjurkan mereka untuk berkelana ke sekeliling perumahan tempat kami tinggal. Saya selalu melihat berkelana dari sisi yang positive saja.

Pertama. Berkelana memberikan pengalaman baru bagi kita. Melihat dan mengetahui sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Tentu sangat menyenangkan.

Kedua. Berkelana juga membantu kita mengenal sesuatu yang berbeda dari apa yang kita kenal sehari-hari di rumah atau di lingkungan asal kita. Hal ini membantu untuk membuka pikiran kita dengan lebih baik. Dengan mengenal hal yang berbeda, kita mulai menyadari bahwa di luar sana ternyata banyak hal yang lebih baik, sama baiknya dan juga yang kurang baik jika kita bandingkan dengan apa yang kita ketahui dan miliki. Sehingga kita bisa memilah dan memilih. Juga lebih menghargai perbedaan dan tidak memiliki pikiran sempit seperti katak dalam tempurung.

Ketiga. Berkelana juga memberikan kita kesempatan untuk belajar lebih mandiri. Karena pada saat berkelana, tentunya kita tidak memiliki perlengkapan sebanyak yang kita miliki di rumah. Dan juga tidak memiliki banyak saudara atau teman yang bisa membantu. Sehingga kita terpaksa berusaha mengoptimalkan diri kita sendiri dan segala yang ada di dekat kita dengan sebaik-baiknya.

Keempat. Berkelana tentunya memberikan kesempatan bagi pikiran kita untuk mengalami proses penyegaran. Keluar sejenak dari kejenuhan yang ada.

Dan..mungkin masih banyak lagi sisi positive dari berkelana ini yang tak sempat saya pikirkan.

20 responses »

  1. Aku bukan La Kitty, tp aku sangat suka ngumbang Mb Dani. Mungkin ini lahir dr sifatku yg pembosan atau bulu kaki rontok dijalan hehe.. ngumbangku sempat terhenti tatkala hrs membesarkan anak2 dirumah. Namun skrg alhamdulillah sdh kembali krn mereka jg sdh ogah aku bawa2.

    Betul yg mbak Dani tuliskan, ngumbang ke suatu tempat membuat pengalaman kita jd tambah luas. Kita tak begitu terkejut pd perbedaan. Dan kita jg lebih menghargai apa yg kita punya

  2. Saya komentarin kucingnya aja deh…
    Jadi ternyata pas musim kawin saja si kucing jantan baru keluyuran, ya? Kucing jantan yang saya kenal, tiap hari keluyuran (ngumbang), pulang hanya pas mau makan atau tidur…

  3. Pingback: Cinta Yang Harus Diperjuangkan… « nimadesriandani

  4. Bu.. kucing jantan Sya sudah hampir 3 minggu tidak pulang😥.. bbrapa hari yg lalu 2x sy mimpi dia pulang kerumah bu.. sedih bgd khilangan si avril krena sdh hampir 4 thun dia tinggal bersama sya.mohon doanya ya bu smg lekas kembali lagi krmh.. trimkasih.

  5. kucing saya juga dari akhir tahun 2015 sampai akhir januari ini sudah 3 kali masa kawinnya, sekalinya musim kawin gini bisa sampai seminggu, sekarang yg ke-3 kalinya entah lagi nangkring dimana tu kucing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s