Catatan Perjalanan: Dari Pho Bo hingga Tepi Sungai Saigon.

Standard

Seperti yang sudah direncanakan sehari sebelumnya, saya  bangun pagi, mandi, sarapan lalu berangkat ke kantor. Tanpa saya duga, ternyata letak kantor hanya  beberapa ratus meter di belakang hotel tempat saya menginap. Jarak yang mudah ditempuh dengan hanya berjalan kaki.

Sambil berjalan, saya melihat-lihat pemandangan pagi yang sangat menarik. Ada miripnya dengan Jakarta. Para karyawan dan karyawati rupanya pada sibuk sarapan di pedagang makanan yang banyak tersebar di pinggir jalan di sekitar gedung perkantoran.  Intinya sih saya sibuk seharian dengan urusan  kantor hingga  hari menjadi gelap tanpa terasa. Karena sibuk, tentunya  saya nyaris tak punya bahan untuk diceritakan  hari ini.

Tapi setelah saya pikir -pikir, yang namanya perjalanan  pasti selalu ada sesuatu yang baru buat saya. Minimal saat makan siang dan makan malam-  tentu saya mengalami pengalaman baru.   Jadi  saya pikir saya akan memberi topik hari kedua ini sebagai “ Wisata Kuliner’ untuk makanan Vietnam saja.

Pada jam makan siang, kami sempat diajak menikmati  makanan asli  Vietnam di sebuah tempat makan kecil dekat kantor. Teman saya memilih untuk memesan Pho bo – kalau diterjemahkan menjadi Beef Noodle Soup. Saya sendiri memilih Mien canh ga – sejenis   soto ayam bening yang menggunakan soun (glass noodle) sebagai bahan utamanya dan sayap ayam  Rasanya enak, terlebih ketika saya tambahkan accessoriesnya berupa daun basil,  taoge dan sa te (sejenis sambal cabai).  Saya belajar satu kalimat baru “ Chuc quy khach ngon mieng”. Artinya  Enjoy your meal and have a good time!

Malam harinya, selepas jam kerja kami dijamu makan malam di sebuah Restaurant yang bernama 13. Pemandangan sore itu luar biasa. Saya sangat terkesan. Restaurant itu terletak di tepi Sungai Saigon yang sangat lebar. Dan kami beruntung mendapatkan posisi tempat duduk persis di tepi sungai. Sesekali ombak besar menderu di tepinya ketika sebuah boat melintas. Lampu-lampu berkerlap kerlip di seberang sungai dengan indahnya.  Teman kami memesankan makanan tradisional Vietnam untuk kami semua.  Kami hanya tinggal memesan minuman kami masing-masing.

Tuan rumah mempersilakan kami mencoba Saigon Bier. Bir lokal yang sangat popular di sana. Barangkali mirip kepopulerannya dengan Bir Bintang kalau di tanah air kita. Karena saya tidak minum alkohol, tentu saja saya tidak memesan apapun kecuali teh.  Begitu bir yang dipesan dihidangkan, semuanya  lalu melakukan  ‘ toss’.  Saya  baru sadar, dari 10 orang yang hadir dalam jamuan itu, saya satu-satunya wanita.  Tak bisa minum pula.

Sangat menarik untukmenyimak bagaimana tata cara makanan tradisional Vietnam dinikmati.  Saya tidak ingat nama-nama makanannya karena menurut saya memang sulit untuk diingat.  Hidangan pertama yang datang adalah  berupa kue beras kecil dengan udang di tengahnya dan sekeranjang dedaunan hijau yang segar. Awalnya saya berpikir dedaunan ini mirip lalapan. Tapi kemudian teman saya memberi contoh tata cara makannya.

Pertama –ama,kita ambil selembar dedaunan yang lebar (sejenis daun sawi), lalu tambahkan jenis daun lainnya yang ukurannya lebih kecil. Letakkan kue udang di atasnya,tambahkan irisan pepaya muda, lalu bungkus  semua isi tersebut dengan daun yang lebar tadi. Celupkan pada sauce yang terbuat dari kecap ikan dan sambal cabai. Lalu gigit pelan-pelan.  Krenyes!! Wah,tanpa saya duga rasanya ternyata sangat renyah dan enak banget.

Berikutnya hidangan berupa  ‘fish cake’  datang. Ini juga sangat enak dan garing. Saya membayangkan bahannya mirip dengan pempek ikan kita, tapi dibuat tipis dan digoreng.  Dimakan dengan saus cabai.  Setelah fish cake, lalu datang sayap ayam goreng.

Berikutnya datang sepiring dedaunan baru lagi yang disertai dengan sejenis sate lilit Bali ( batangnya terbuat dari batang tebu) dan sejenis rice cake berwarna putih.  Makanan inipun  rupanya perlu prosesi bungkus-membungkus lagi sebelum dimakan. Setelah itu saya mulai merasa kenyang.  Namun tuan rumah menyampaikan informasi,bahwa semua yang kami makan tadi itu barulah hidangan pembuka saja. Makanan utamanya sebentar lagi datang. Waduuh!.

 Benar saja setelah itu datang  tumis kangkung ala Vietnam, ikan, sejenis cap cay jamur,  nasi dan soup. Semuanya enak. Tapi sayangnya saya tak mampu lagi memasukkannya ke mulut saya. Setelah itu kami mengobrol sambil menunggu makanan turun.  Obrolan yang sangat menarik. Karena walaupun hanya mengunjungi Vietnam, rupanya para hadirin di jamuan itu berasal dari beberapa negara yang berbeda, sehingga  percakapan menjadi sangat seru dan penuh dengan canda tawa. Masing-masing menceritakan hal-hal yang menarik  ataupun konyol tentang  kejadian di negaranya masing-masing.  Mulai dari  cerita kemacetan Jakarta, hingga serunya naik kereta api di India. Mulai dari bahasa Malaysia hingga urusan  makanan Vietnam.  Dan berbagai ragam cerita lain lagi. Sungguh sebuah jamuan makan malam yang menenangkan di tepi Sungai Saigon. Pulangnya teman saya yang menjadi tuan rumah menceritakan pengalamannya sebagai kanak-kanak saat  perang Vietnam terjadi. Menakjubkan sekali mendengar  kesaksiannya.

Saya berterimakasih atas jamuan makan malam ini.  Atas semua makanan yang enak, pengalaman makan yang baru, pelajaran tentang kebudayaan Vietnam, pemandangan yang indah, keramah-tamahan bangsa Vietnam, serta berbagai cerita yang kocak dan seru yang saya dapatkan malam ini.

26 responses »

    • Ya, bener. Itu persis sate lilit kita. Bedanya cuma kalau kita cenderung diberi garam dan cabe biar satenya pedes. Kalau mereka sedikit hambar dan manis. Karena nanyi dimakannya dengan sambal terpisah. jadinya tidak mereka masukkan ke dalam adonan sate lilit.
      Cuma tusuk satenya mereka pakai tebu – jadinya manis.

    • yang mana ya Mbak? Fotonya secara acak bergerak. Jadi nggak tahu lagi yg terakhir yang mana. Yang warnanya putih bukan Mbak? Itu sejenis nasi beras ketan yang halus begitu, dimakannya dengan ikan yang dibuat mirip sate lalau digulung dengan daun dan dicelupkan ke sambal..

  1. Selamat berkarya sambil menikmati wisata jeng Ade. Eh makanan yang dibungkus2 daun menarik ya, tingkat konsumsi sayuran per kapita mengimbangi kebutuhan nutrisi sayur. Salam

    • Ya Pak Nanang.Saya cukup sering keThailand dan banyak kenangan di sana. Sayangnya selalu untuk urusan kantor. Jadi jarang bisa jalan-jalan ke tempat wisatanya, Pak.
      Thailand sebuah negara yang sangat indah. Saya menyukainya. Menurut saya nggak semuanya gelap mata, Pak. Saya pernah ke beberapa tempat di sana, bahkan hingga ke pedesaannya yang indah keluar kota Bangkok. Pathumtani hingga Hua Hin. Ada banyak tempat menarik spt Wat Arun, Wat Ratchanatdaram, dan Wat- wat yang lainnya. Saya juga pernah melihat Grand Palace-nya yang sangat megah,mewah dan indah sekali. Di sana juga ada banyak Museum dan House Museum yang bisa dikunjungi. Saya juga pernah masuk ke Mom Rachawongse Kukrit Pramoj Heritage Home – menurut saya menarik juga sih. Saya jg pernah diajak teman ke sebuah sky restaurant di gedung pencakar langit State Tower – kalau nggak salah dilantai 64. Tinggi sekali dan pemandangannya luar biasa indah. Kita bisa melihat keindahan sungai Chao Praya dari atas. Atau kalau buat kebanyakan orang Indonesia yang cari souvenir, Chatuchack Night market juga menarik banget Pak. masih banyak sekali tempat-tempat menarik lainnya yang nggak gelap mata,Pak he he he. Mudah-mudahan info saya berguna. Selamat berwisata Pak Nanang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s