Cu Chi Tunnels Part III: The Land of Many Gardens.

Standard

Sebagai wilayah yang dicanangkan untuk pariwisata, Cu Chi memiliki lokasi yang baik, karena letaknya tidak terlalu jauh dari Ho Chi Minh City yang merupakan bandar pusat perdagangan Vietnam. Karena letaknya ini,memungkinkan wisatawan untuk datang ke sana dengan mudah. Secara umum pengelolaan tempat wisata ini cukup baik.

Dari sudut “appeal’, tempat ini sudah pasti memiliki tingkat ‘ketertarikan’ buat pengunjung yang sangat tinggi. Semua orang  mendengar tentang perang legendaris Vietnam vs Amerika ini hingga bahkan selalu menarik jika ditampilkan dalam film-film. Akibatnya, banyak orang yang datang ke Vietnam ingin melihat sendiri  monument itu secara langsung. Sehingga potensinya sebagai tempat wisata sungguh sangat tinggi.

Cu Chi secara umum juga sudah mulai dikelola dengan baik. Jika kita datang ke sana, kita akan sampai di gerbangnya dimana kita bisa membeli ticket masuk, satu paket dengan tour guidenya. Sayangnya  papan & leaflet yang disediakan di sana hanya berbahasa Vietnam. Sehingga pengunjung tidak bisa mengerti dengan baik seluruh isi pesannya.  Barangkali jika dibuat dalam 2 bahasa ( misalnya Bahasa Vietnam dan Bahasa inggris) akan sangat menolong pengunjung yang umumnya lebih memahami bahasa inggris sebagai bahasa standard yang diigunakan dunia.

Di areal depan, terletak sebuah bisnis area dimana tersedia rest room  sehingga  pengunjung bisa tenang  begitu memasuki areal  terowongan yang terletak di tengah hutan kecil. Di halaman depannya dipajang  berbagai sisa peralatan perang  seperti pesawat tempur, helicopter, tank,meriam, bomb dan sebagainya yang menggiring pengunjung untuk ikut larut dalam kesedihan. Sebuah ‘teaser’ yang sangat baik.

Lepas dari  area peralatan itu, tour guide akan mengajak kita menonton film dokumenter tentang perang Vietnam di Cu Chi itu. Film hitam putih yang sangat bagus walaupun sudah tua. Dimulai dengan  penjelasan tentang Cu Chi sebelum perang  dan saat perang yang membuat hati kita penenontonnya menjadi sangat sedih dan miris. Kalimatnya pembukanya kurang lebih begini…(saya sih sebenarnya nggak hapal persis)

Cu Chi, the land of many gardens, … lalu digambarkan di sana betapa daerah itu dulunya sangat tenang, damai, banyak pepohonan yang menghasilkan buah-buahan dan sumber makanan lain. Lalu datanglah Amerika yang membom tempat itu menjadi porak poranda. Menghancurkan wilayah itu, membunuh banyak orang, termasuk wanita dan anak-anak. Tapi…” Cu Chi will never die” Film itu memberikan pengantar yang sangat baik kepada penonton. Juga disertai dengan alat-alat peraga, seperti diorama tentang tunnels yang berlapis dan bunkers serta jebakannya,  contoh alat yang digunakan untuk membuat terowongan berupa cangkul sederhana dan serokan anyaman bambu, serta tour guide yang memiliki pemahaman yang baik akan sejarahnya dan  setiap hal mengenai wilayah itu. Sayangnya tour guide-nya juga masih membutuhkan penterjemah lagi kedalam bahasa inggris.

Kemudian pengelola juga  sengaja memberikan ‘experience’ kepada pengunjung untuk mengalami sendiri bagaimana rasanya masuk ke dalam terowongan, ke dalam bunker maupun lubang perlindungan lainnya. Tunnels itupun sekarang telah diperbesar untuk muat badan pengunjung yang rata-rata lebih besar dari ukuran badan  orang Vietnam yang kecil dan langsing. Upaya yang sangat baik. Dengan merasakan bahkan hanya dalam 5 menit saja berada dalam terowongan yang panas dan lembab itu sudah sangat melelahkan dan sulit bernafas, maka pengunjung dengan sendirinya akan mampu membayangkan betapa pilunya jika harus berada dalam tunnels itu selama sehari, seminggu, sebulan, setahun atau bahkan 20 tahun – selama perang itu terjadi. Makan di sana, tidur di sana dan bahkan menikah dan melahirkan anakpun di sana. Belum lagi kesehatan yang melemah dan ancaman binatang berbisa. Semua orang akan mengutuk perang! Karena tak ada  seorangpun yang mau berada dalam perang.

Namun setelah melihat dan ikut merasakan pengalaman masuk ke dalam terowongan, pengunjung akhirnya disediakan  juga kesempatan untuk mencicipi singkong rebus dan air kelapa – juga agar bisa merasakan begitulah makanan yang dimakan oleh gerilyawan setiap hari.

Para tour guide disini, walaupun tidak berbahasa Inggris dengan cukup baik yang mudah didengarkan telinga awam, namun keramah-tamahannya sangat menarik.  Sehingga kekurangan  bahasa  bisa diatasi dengan senyum dan kode-kode gerakan tangan.

Di kompleks itu juga kita bisa melihat dapur serta tempat ‘military workshop’. Lalu ada tempat dimana kita bisa melihat foto-foto lama jaman perang itu. Ada juga tempat untuk membeli souvenir dan sandal ala gerilyawan Vietnam dan bahkan ada tempat dimana kita bisa mencoba untuk menembak dengan senjata sungguhan. Misalnya M60, M16, AK 47, Colt dan sebagainya. Saya sendiri mencoba dengan AK 47. Awalnya ragu-ragu, tapi setelah dijelaskan bagaimana caranya menembak dengan tepat,  maka sayapun membidik papan target dengan  baik. Walaupun telah menggunakan penutup telinga, namun tak urung saya sempat meloncat kaget juga mendengar suara letupannya yang sangat keras.

Sungguh sebuah Experiential Marketing yang sangat baik yang berakhir dengan Symphaty Marketing!.  Pengunjung dibiarkan berinteraksi secara sensorial  dan dilibatkan secara emosional sehingga secara keseluruhan berakhir dengan sympathy yang tinggi terhadap gerilyawan komunis Vietnam ini. Karena secara umum orang tidak senang akan penjajahan dan invasi asing. Dan cenderung menaruh sympathy lebih kepada pihak yang lebih lemah namun masih mau berusaha.

Beberapa pelajaran yang saya petik dari perjalanan ke Cu Chi ini antara lain:

1/ Kecil dalam ukuran dan  infrastrukrur yang kita miliki, tidak selalu berarti akan membuat kita kalah dari yang besar dengan infrastruktur yang lengkap dan canggih. “Guerilla”merupakan contoh yang sangat baik.

2/ Semangat dan tekad yang penuh. Lagi-lagi merupakan api  terbaik yang membakar diri kita sendiri  untuk  mencapai sebuah keberhasilan.

3/Menghormati perbedaan dan  respek terhadap pilihan orang lain. Merupakan cara yang lebih baik dalam mencapai kedamaian dalam setiap hubungan dengan manusia yang lain.

4/ Menjaga warisan masa lalu. Seburuk apapun akan membantu kita belajar dari eksalahan untuk lebih baik lagi ke depannya.

12 responses »

  1. Trimakasih sharingnya jeng (petikan 4 butirnya), Vietnam menjadi daya tarik unik wisata Asia Tenggara. …the land of many gardens….sedang bangkit. Selamat berkarya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s