Subang Jaya, Chinese Food Dan Burung Gagak.

Standard

 

Sebelumnya saya pernah berjanji ke diri saya sendiri akan menulis setiap perjalanan saya. Mengingat bahwa perjalanan-perjalanan saya di masa yang lalu  sebelum ada blog tidak saya dokumentasikan. Bahkan foto-foto atau cindera matapun  tidak ada. Saya merasa sangat sayang. Padahal jika saya dokumentasikan, barangkali banyak yang bisa saya kenang kelak bila saya sudah sangat tua dan tidak bisa lagi bepergian. Sama seperti perjalanan sebelumnya, perjalanan saya minggu ini ke Malaysia sudah pasti untuk urusan pekerjaan. Dan sudah jelas kondisinya: tak bisa jalan-jalan semaunya. Jadi yang bisa saya lakukan adalah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan waktu yang ada, tanpa merugikan perusahaan. Tentu saja saya sudah merasa sangat bersyukur dan sangat berterimakasih kepada perusahaan tempat saya bekerja sehingga saya bisa mendapatkan kesempatan berharga seperti itu.

Saya  berangkat dengan menumpang Malaysia Airlines dan tiba di Kuala Lumpur International Airport Main Terminal pada pukul dua lewat pada siang hari .  Setelah membereskan semua urusan di imigrasi dan mengambil bagasi, sayapun memesan taxi. Tujuan saya kali ini adalah Subang Jaya, Selangor–  yang jaraknya kurang lebih 1 jam perjalanan dari Kuala Lumpur. Tak banyak yang bisa saya catat dalam perjalanan ini, karena pada dasarnya wilayah Malaysia tak terlalu berbeda dengan wilayah Indonesia. Namun saya kagum akan usaha Malaysia mengkampanyekan kecintaan pada tanah airnya. Kecintaan pada negara, kebanggan akan karya anak bangsanya. Terlihat dari papan reklame produk di pinggir jalan yang menggunakan thema itu.   Sangat bersyukur saya tiba di Grand Dorset Hotel agak lebih cepat dari waktunya. Jadi saya bisa sedikit memanfaatkan waktu untuk melihat suasana,  sebelum saya harus membereskan presentasi saya dan bergegas untuk meeting sore itu.  Saya dan teman saya lalu memutuskan untuk mencari angin dan duduk-duduk di sebuah restaurant di Subang Parade.

Terus terang yang saya pesan bukanlah masakan asli Melayu, karena kebetulan restaurant itu tidak menyediakan. Tapi Chinese food. Cukup menarik juga. Disini restaurant yang menghidangkan Chinese Food & Indian food kelihatannya sama banyaknya dengan restaurant yang menghidangkan masakan Melayu. Barangkali karena populasi warga keturunan negara Asia lainnya seperti China dan India juga cukup tinggi jika kita bandingkan dengan di Jakarta misalnya. Slogan Trully Asia-nya cocok juga deh.

Saya tertarik untuk mencoba kembang tahu dengan ice cream rasa vanila yang menurut saya enak sekali. Sementara teman saya yang lain ada yang memesan sejenis gel berwarna hitam – yang menurutnya terbuat dari lendir kura-kura. Oops! Saya terkejut dibuatnya. Saya belum pernah mendengar sebelumnya. Teman saya yang lain lagi memutuskan hanya minum teh biasa. Lalu untuk makanan, kami memutuskan untuk memesan sejenis hakau kukus dan hakau goreng, serta sepiring pangsit goreng yang entah apa namanya dalam Bahasa Mandarin. Saya tidak mampu mengingatnya. Makan sore  itupun lalu saya tutup dengan meneguk Juice buah Plum yang manis kecut menyegarkan.

Setelah membayar makanan yang kami pesan, saya lalu keluar dari pertokoan. Saya menikmati suara burung gagak yang sangat banyak beterbangan di pohon-pohon di sekitar areal pertokoan itu. Suaranya berkaok kaok riuh rendah. Sangat menarik. Sayang saya tidak membawa kamera yang cukup baik untuk mengabadikan burung-burung hitam berukuran besar itu dari jauh. Saya mendekat. Berharap agar burung-burung itu datang menghampiri saya. Namun ia tak kunjung terbang merendah juga. Yang ada malah pindah dari satu dahan ke dahan yang lainnya. Atau menclok di tiang listrik dan tiang reklame.  Burung-burung itu rupanya telah bersahabat dengan kehidupan kota.

Cerita saya tentang Subang Jaya, hari itu…

9 responses »

  1. Mbak Dani, kalau kerja sambil jalan2 gini aku mau deh ngelamar hahaha..
    Iya Mbak, pokoknya kalau sdh jalan manfaatkan setiap kesempatan menikmati atmosfir setempat. Jadi besok2 kita akan punya banyak cerita untuk ditengok ke belakang. Ketimbang membiarkan lewat begitu saja, kan mending di catat di blog dan saya bisa ikut menikmati pengalamannya hehehe..

  2. wah asyik Made belum lama ke Vietnam sekarang ke Malaysia..
    Made mencicipi gak makanan yang terbuat dari lendir kura kura itu ??
    terus burung gagak yang liar, apa di sana di lindungi Made ??

  3. iya ih mbak, aku juga nyesal lho, dulu jalan ke mana2 paling malas bawa kamera dan foto2
    paling nebeng sama teman, niatnya sih pengen pinjam klisenya, tapi mala suka lupa …dan akhirnya tak punya

  4. Mbaaaak, saya kira burung gagaknya diolah jadi masakan lo…hehehe, ternyata bukan…😉
    Trima kasih sudah berbagi cerita. Sudah sukses bikin saya ketagihan makan es krim rasa vanila juga lo…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s