Keraton Surakarta Hadiningrat: Ukiran Kayu Di Istana Biru.

Standard

Saya berada di Solo pada hari Sabtu yang lalu. Ada beberapa jam sebelum pesawat yang saya tumpangi siap  memulangkan saya kembali ke Jakarta. Sementara teman-teman saya sibuk berburu batik, tidak ada hal lain yang lebih saya inginkan dari melihat Keraton Surakarta. Sudah berkali-kali mengunjungi Solo, namun belum pernah punya kesempatan untuk bermain dan melihat-lihat Keraton itu. Bersyukur Bu Prih dan Ryan putranya dengan sangat berbaik hati menjemput saya di hotel dan menemani saya berjalan-jalan ke Keraton.  Awalnya saya memang berniat untuk melakukan copy darat dengan beliau dengan cara berkunjung ke Salatiga, namun karena keterbatasan waktu akhirnya jadilah acara Kopdar-nya diisi dengan menikmati sebagian Keraton Surakarta ini. Terimakasih banyak, Bu Prih!.

Keraton Kesunanan Surakarta, seperti yang diceritakan oleh pramuwisata yang memandu kami berdiri pada tahun 1745 pada jaman Pakubowono ke II.  Mendengar angka itu saya langsung nyeletuk “Saya akan mudah mengingatnya – karena  berselisih 200 tahun dengan tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia“.  Saya berkata begitu, karena saya tahu tidak mudah bagi saya untuk menghapalkan kalimat-kalimat pramu wisata itu yang sangat fasih menjelaskan seluruh kejadian -kejadian yang berkaitan dengan Kerajaan itu lengkap dengan tahun-tahunnya.

Istana ini sangat luas meliputi  area seluas 54 hektar- namun yang dibuka untuk umum hanyalah 6 hektar. Walaupun hanya 6 hektar yang terbuka, namun buat saya areal itu saja sudah terasa sangat luas. Benar-benar sebuah Keraton yang kaya pada jaman dulunya. Namun jika kita melihat keadaannya sekarang, terus terang saya merasa miris. Bangunan-bangunan itu terlihat sama sekali tidak dirawat dengan baik.  Kondisinya banyak yang rusak dimakan waktu. Banyak catnya yang mengelupas dan sangat menyedihkan. Berbeda sekali dengan bangunan-bangunan bersejarah yang pernah saya lihat di beberapa negara lain yang umumnya sangat dirawat dengan baik oleh pemerintahnya.

Mengunjungi keraton ini, tentu saja saya tertarik akan sejarahnya. Namun saya justru lebih terkesan lagi oleh arsitektur, tata ruang, tata warna dan benda-benda pengisi istana ini. Hal yang paling memikat hati saya adalah ukiran kayu berwarna biru-putih yang banyak mendominasi pilar maupun perabotan yang ada di istana itu. Menurut saya sangat unik karena saya tak pernah melihat sedemikian banyaknya warna biru putih mendominasi ukiran.

Terus terang saya tidak tahu nama motif-motif ukiran ini dalam bahasa Jawa. Namun saya lihat banyak bentuk flora, stilir daun-daun rambat maupun bunga/ sari, motif tali tambang, mas-masan, awan  dan boma – motif yang serupa dengan yang biasa saya lihat pada ukiran Bali juga.  Pramuwisata menjelaskan bahwa ukiran-ukiran tersebut sebenarnya adalah ukiran Jepara kuno.  Karena ukiran-ukiran ini dikerjakan oleh para pengukir Jepara di tahun-tahun ini.  Jadi sangat menarik   buat saya. Bisa dikatakan saya sedang melihat “Ukiran Jepara Tempo Dulu” yang jelas sekali menunjukkan perbedaan dengan ragam hias dan karakter ukiran Jepara masa kini. Sedangkan warna biru memang sengaja dipilih karena warna itu memang digunakan oleh kerajaan itu sebagai representasi dari Laut Selatan.  Mengingat bahwa Keraton ini dipercaya memiliki hubungan gaib dengan penguasa Ratu Pantai Selatan.

Ukiran pada kayu penyangga atap pendopo istana ini tampak berbeda dengan ukiran jepara umumnya yang kita lihat. Tidak tahu nama motifnya – namun mirip dengan motif  Mas-masan,  motif tambang dan  serupa dengan motif ‘kakul’ kalau di Bali.

Pilar berdesign romawi ini dihiasi dengan motif helaian mahkota bunga yang disusun sedemikian rupa mirip bunga yang sedang mekar..

Ini adalah  penghias pillar bangunan bangsal dengan ukiran wajah dan hiasan daun-daun pakis serta juga daun-daun yang merambat. Mengamati motif ukiran ini, entah kenapa saya teringat pada wajah  “The King” pada kartu Remi. Memang tidak sama persis, tapi cukup serupa.

Ukiran pada Jaro ini ( Jaro = pagar lepas pada bangunan- dalam bahasa Bali) ini juga sangat menarik. Sangat mirip barisan bunga  Daisy yang dijadikan border sebuah taman. Berbaris satu persatu dengan daun dan bunganya yang seragam baikbentuk dan ketinggiannya. Saya melihat ada banyak pengaruh unsur Eropa masuk ke dalam motif hiasan ini.

Design pada penutup gantungan lampu hias ini juga sangat menarik. Mirip  bunga besar yang dikelilingi sulur-sulur merambatdari pohon kehidupan.

Ini adalah gaya lain ukiran pada bidang-bidang sempit memanjang  yang membentuk patra patra serupa dengan yang bisa kita temukan pada motif ukiran  jaman sekarang.

Berikutnya adalah ukiran pada salah satu Gerbang Keraton yang juga sangat menarik buat saya. Di atas atap bertengger ukiran kompleks yang  mirip dengan  Boma pada ukiran Bali yang secara keseluruhan di susun oleh motif-motif flora.

Masih banyak lagi jenis ukiran yang ada di sana, namun secara keseluruhan memang lebih banyak mengambil motif sulur sulur daun yang merambat atau motif pakis. Patra Sari ( motif bunga-bunga) terlihat relatif jarang digunakan.

Namun demikian, saya juga ada melihat unsur fauna dimasukkan dalamukiran ini. Seperti contohnya ukiran pada penghias atap gerbang keraton yang sangat mirip dengan ukiran kekarangan di Bali.

Keluar dari istana itu, kepala saya jadi dipenuhi dengan motif-motif ukir yang sangat menarik  dan berpikir bagaimana  motif ukir Jepara telah bertransformasi selama lebih dari 250 tahun hingga menghasilkan motif ukiran Jepara modern seperti saat ini. Tentu para arsitek dan ahli yang terkait lebih mampu menjawabnya.

Sebagai orang awan dan pengunjung, saya berharap pemerintah dan masyarakat/pengusaha bersedia  memberi perhatian lebih dan membantu menangani keraton ini dari kerusakan waktu. Bagaimanapun juga, keraton ini tetap bisa disebut sebagai asset warisan budaya  yang sangat berharga ke depannya. Sangat sayang jika ditelantarkan begitu saja.

10 responses »

  1. Waaaa..kopdar dengan Mbak Prih…asyik..asyik…
    Aku kalau masuk kesini, rasanya seperti ikut hidup di masa lalu Mbak Dani..Memandangi peninggalan budaya kuno itu rasanya bisa membawa kita melihat bagaimana cara hidup para darah biru dengan abdi2 mereka saat itu..
    Sayang yah, peninggalan budaya yg anggun begini kurang terawat. Balik-balik lagi pasti ini soal dana Mbak🙂

  2. asyik ya bisa kopdar…. (nunggu liputan kopdarnya)

    apa ya makna warna biru putih yg banyak di keraton ini, karena budaya kita penuh dengan perlambang,
    banyak pula yg mirip dengan ukiran Bali ya Mbak

  3. Saya sering ke Solo, dan sering pula ke kraton. Tapi malah nggak banyak yang saya amati dan saya catat.
    Mudah2an saat ke Solo lagi saya bisa menjadi pengamat yang baik seperti yang Mbak tulis ini.

    Tgl 14 s.d 17 mei saya ada tugas ke Solo dan pastinya mampir Kraton juga

  4. Pingback: Keraton Surakarta Hadiningrat: Pasir Berbisik di Sawo Kecik | RyNaRi

  5. uiiih, bunda detil juga ya memperhatikan ukiran di keraton surakarta~😳
    dan melihat foto-fotonya, saya kagum sekali melihat arsitektur dari keraton ini~🙂

  6. Selamat datang di kota Solo Bu..Kota ini memang merupakan salah satu kota pusat kebudayaan Jawa. Disamping seni budayanya, kulinernya juga khas loh. Selamat dan sukses selalu untuk Anda. Trims.

    Salam kompak:
    Obyektif Cyber Magazine
    (obyektif.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s