Love Secret Recipe.

Standard

Bersamaan dengan  perjalanan saya ke Denpasar kemarin, sebuah rombongan keluarga yang dipimpin oleh seorang pria paruh baya juga berangkat dengan menumpang pesawat yang sama.  Saya menaksir umurnya tidak jauh dengan saya.  Ia tampak mengatur tempat duduk anak, keponakan dan anggota keluarga lainnya. Lalu kepada seorang wanita yang ternyata adalah ibunya, ia berkata “ Mama duduk di sini saja ya” Katanya dengan nada yang penuh kasih sayang.  Ibu itupun duduk di sebelah saya.  Nafasnya kelihatan agak kurang teratur. Rupanya agak kecapean saat menaiki tangga pesawat.   Putranya menghibur dan menenangkan bahwa rasa tidak nyaman itu disebabkan karena kaki ibunya yang sakit dan sebentar lagi tentu sembuh.Lalu putranya membantu memasangkan  seat-belt ke pinggang ibunya dengan baik. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati dan penuh perhatian. Selanjutnya ia memberikan shawl kepada ibunya yang segera menggunakannya untuk mengantisipasi jika udara menjadi sangat dingin di dalam pesawat. Diam-diam saya memperhatikannya dengan sudut ekor mata saya.  Saya sangat terkesan dibuatnya.  Sungguh Ibu yang berbahagia.Memiliki putra yang sangat baik dan penuh perhatian.

Ketika putranya pergi dan duduk di bangkunya sendiri, saya  lalu tersenyum kepada Ibu itu yang membalas senyum saya dengan sangat ramah.  Beliau pun bercerita bahwa kakinya bermasalah, sehingga kesulitan saat harus naik tangga pesawat.  Saya mendengarkan ceritanya dengan baik. Saya pikir, Ibu itu senang jika ada orang lain yang mendengarkan ceritanya.

Ibu yang berusia 67 tahun ini ternyata sangat ramah dan suka ngobrol. Dalam waktu  singkat, saya tahu bahwa beliau berasal dari Palembang dan tinggal daerah Kelapa Gading. Kepergiannya ke Bali adalah karena ajakan puteranya. Begitu pembicaraan semakin akrab, saya lalu memberanikan diri untuk berkomentar tentang betapa beruntungnya Ibu itu memiliki putra yang penuh perhatian dan terlihat sangat sayang kepadanya.

“Iya. Memang. Anak-anak saya sangat sayang dan penuh perhatian” Katanya dengan bangga dan mulai menceritakan resep rahasianya, mengapa semua anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang penuh perhatian dan penyayang. Beliau memulai kisahnya dengan cerita bahwa bertahun-tahun yang lalu, ibu itu memiliki sebuah keluarga yang sangat bahagia. Dengan tiga orang putra yang masih kecil-kecil dan seorang suami yang sangat giat bekerja. Sebagai ibu rumah tangga,  selain mengurus urusan domestik, beliau juga ikut membantu usaha suaminya di bidang tekstil. Namun dengan semakin berkembangnya usaha mereka, sang suami memiliki semakin banyak uang, maka suatu hari perhatiannya beralih kepada wanita lain yang lebih muda. Meninggalkan istri dan ketiga anak lelakinya yang masih kecil.

Alih alih menyerah dan berputus-asa, atau mencari suami baru yang bisa menafkahinya,  maka ibu ini  justru kemudian mencoba berusaha keras sendiri untuk mendapatkan penghasilan guna menghidupi keluarganya sebagai a single parent. “Saya melakukan semuanya sendiri. Mulai membesarkan anak, membuatkan makanan, menyuapi, memandikan, membereskan rumah, menyiapkan keperluan sekolah dan kegiatan ke tiga anak saya, hingga membuka usaha untuk mencari uang. Semuanya sendiri, hingga mereka menikah.” Beliau lalu menceritakan bahwa beliau dulu juga pernah menjadi pemasok barang-barang kebutuhan untuk supermarket. Semua penghasilannya beliau irit-irit  dan gunakan untuk mensupport kepentingan pertumbuhan dan pendidikan anak-anaknya.  “Sisanya saya gunakan untuk membeli rumah dengan cara mencicil. Saya juga menabung untuk masa tua saya, sehingga saya tidak memberatkan anak-anak saat mereka sedang membangun rumah tangganya. Sekarang semuanya sudah jadi ”. Ibu itu menceritakan bahwa saat ini tinggal seorang diri,demi menjaga keharmonisan rumah tangga putra-putranya. Namun setiap hari putra-putranya datang menjenguknya untuk ngobrol dan makan siang atau makan malam. “Sampai kinipun saya masih memasak makanan kesukaan anak saya “.  Ibu itu menceritakan betapa senangnya ia bisa meramu bahan masakan sendiri untuk putra-putranya. Walaupun anaknya kini sudaj menikah. Namun beliau selalu berdamai dengan menantunya.Meramu bahan makanan dengan sepenuh hati akan menghasilkan masakan yang sangat enak. Demikian juga jika kita meramu kasih sayang dan perhatian kita untuk anak-anak dengan sepenuh hati, hasilnya sudah pasti akan indah. That’s the power of mom’s love.

Akhirnya  Ibu itu mengakhiri ceritanya dengan mata berbinar penuh kebahagiaan “ Mungkin itulah sebabnya anak-anak selalu menjukkan perhatian dan kasih sayangnya pada saya. Bersyukur sekali”.

Saya terpesona mendengar cerita itu. Sisa sisa kecantikan jelas sekali tergurat di wajahnya. Saya percaya,saat Ibu ini masih muda tentu memiliki kecantikan yang melebihi kebanyakan wanita. Tapi tentu saja, bukan kecantikannnya yang membuat saya terpesona. Namun semangat hidupnya dan usahanya dalam membesarkan anak-anaknya dalam kasih sayang, sehingga semuanya kiini berbalas kembali kepada dirinya saat memasuki usia senja.

Sebuah kisah dalam perjalanan pulang yang sangat menginspirasi… 

10 responses »

  1. Inspiratif sekali mbak, ibu ini pasti ikhlas banget memimpin keluarganya dulu di masa2 sulit, alhamdullilah anak2nya bisa membalas beliau.
    Tfs mbak

  2. maaf ya mba kok di kepala saya malah sliweran sosok para menantu😀
    ibu itu sempurna sekali ya …
    kira2 menantunya pada protes gak ya kalau suami2 mereka sering menghabiskan waktu untuk makan siang/malam sama ibu sendiri.
    kan banyak tuh cerita menantu yang jadi merasa tersisihkan karena (merasa) suami mereka terlalu dekat sama ibunya.

    semoga sih tidak terjadi pada ibu itu hehehe …. (ini saya kebanyakan baca cerita2 yg penuh intrik2 jadi gini deh xixixi)

    • Kelihatannya sepintas oleh saya, nggak sih Mbak. Karena seorang mantunya juga ada di situ. Kelihatan sangat periang, easy going dan juga sangat sayang pada ibu mertuanya. Waktu turun pesawat, malah mantunya yang ngasih perhatian. Mungkin mantu dan mertua sama baiknya barangkali.
      Dan sebenarnya beberapa kali ibu itu memuji mantunya dan keluarga mantunya yang menurutnya sangat kompak dan menyenangkan..

  3. Jadi menitikan air mata membaca kisah ibu itu Mbak Dani. Begitu tabah ya..Duh semoga sampai ajal menjemjumputnya dia tetap dalam limpahan kasih sayang Tuhan dan keluarga. Thanks. Jadi pengen mencontoh kegigihan ibu ini🙂

  4. ah memang cinta itu harus dibina sejak kecil, sehingga anak-anak akan terus mengamalkan cinta itu. Bisa dibayangkan suasana keluarga itu sehari-hari ya mbak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s