Bali, Where Art Is Never Die!.

Standard

Di Bali, Art adalah sebuah kehidupan. Bukan hanya sebuah kata dasar. Bukan hanya sebuah kata sifat. Namun kehidupan. Dengan berkesenian, masyarakat Bali bisa melanjutkan hidupnya. Dengan berkesenian, masyarakat Bali bisa menikmati hidupnya. Karena pada dasarnya seni juga memiliki kehidupan. Setiap aliran seni mengenal cyclus kehidupan. Mengenal kelahiran, mengenal pertumbuhan, proses pendewasaan, masa kejayaan dan popularitas dan akhirnya masa kesuraman. Namun kehidupan seni di Bali tak pernah mati.  Karena kelahiran aliran seni  baru selalu terjadi. Dan aliran seni yang menua, mengalami ‘booster’ untuk merejuvenasi kehidupannya.  Di sini, Art Is Never Die!

Di tepi pantai di Sanur, kemarin ada bazar seni yang mengundang pejalan kaki yang berlalulalang di sana.  Saya tertarik untuk melihat-lihat di sebuah stand lukisan. Lukisan-lukisan yang kebanyakan karya seniman I Ketut Teker dan keponakannya I Nyoman Teja itu bagi saya  mirip etalase mengenai apa yang terjadi dalam dunia seni lukis komersial di Bali.  Walaupun saya tidak ada setiap hari di Bali, namun  dengan melihat  apa yang terjadi di level ‘jalanan’, setidaknya bisa mendapatkan gambaran bagaimana dan kemana arus seni ini bergerak.

Saya melihat beragam bentuk aliran lukisan yang dijajakan oleh I Nyoman Teja pagi ini, mulai dari lukisan tradisional  hitam putih, lukisan tradisional batuan, gaya tradisional kamasan, young artist, copy aliran pelukis Nyoman Gunarsa, hingga aliran lukis Bali yang sangat kontemporer. Diantara tumpukan lukisan itu, saya melihat lukisan acrylic dengan teknik mentotol yang menurut I Nyoman Suteja merupakan jenis yang paling laku  tiga tahun belakangan ini. Jauh mengalahkan daya jual jenis aliran lukis lain.

Terlepas dari keindahannya – lukisan jenis itu memiliki ‘taksu’ alias aura yang lebih lemah ketimbang lukisan tradisional yang pengerjaannya lebih rumit dan butuh waktu panjang. Namun itulah industri. Industri selalu mengedepankan konsumen. Apalagi jika lukisan itu diposisikan sebagai produk massal. Apa yang disukai konsumen, itu lah  yang disajikan. Jika konsumen membutuhkan lukisan kecil untuk kamar anak-anak, disediakanlah gambar binatang yang lucu. Jika konsumen mengingnkan pemandangan sawah yang hijau, juga bisa disediakan. Semuanya bisa!

Saya sempat berbincang dengan dua orang pengunjung dari negeri Belanda yang kebetulan berdiri di sebelah saya tentang sebuah lukisan pemandangan. Kedua pria setengah baya ini kelihatannya sangat gandrung akan lukisan Bali. Ia bercerita telah membeli beberap buah lukisan dari sebuah artshop dan bermaksud akan membeli beberapa buah lagi. Ia pun melihat-lihat lukisan yang dipajang di pinggir jalan itu. Namun ketika matanya tertuju pada pemandangan sawah dengan dua petani yang sedang bekerja menanam padi, ia berpikir bahwa tubuh petani itu terlalu tinggi. Tidak sesuai dengan ukuran badan petani Bali yang umumnya tidak setinggi itu. Apakah ia bisa memesan lukisan yang sama dengan petani bertubuh lebih pendek? Saya membantu menterjemahkan pendapat tourist itu untuk mempercepat komunikasi. Tentu saja jawabannya bisa! Sepanjang sang tourist melakukan konfirmasi pembelian. Kembali lagi, itulah industri kesenian.

 Lupakan tentang taksu dan idealisme pelukisnya.Taksu dan idealisme barangkali hanya dihargai oleh segelintir orang yang benar-benar mendalami seni dalam kehidupannya sehari-hari. Biarlah ia memiliki penggemarnya tersendiri. Namun ini adalah Side-road Art! Dimana untuk hidup, dibutuhkan kemampuan beradaptasi yang baik, tanpa meninggalkan jauh kaidah dasar berkesenian.

Jadi, untuk tetap exist, prinsipnya  ya… keep movin’ on!.

9 responses »

  1. Ada sisi seni untuk hidup, hidup untuk seni maupun hidup adalah seni ya Jeng. senang sekali membaca ulasan ini, saya tahunya hanya lukisan itu indah. Selamat memulai karya di minggu baru. Salam

  2. huah, kalau berbicara mengenai ‘seni’, Bali memang gak ada habisnya bun~😀
    segala jenis bentuk seni bisa ditemukan di sana~:mrgreen:

    tetap semangat pagi ini~😀

  3. Kesenian memang mengandung banyak kekuatan yang akan membawa kita kepada kedamaian untuk mendapatkan pencerahan. Diperlukan dedikasi yang tulus dan murni untuk menciptakan sebuah lukisan menjadi sebuah maha karya seni. Disetiap penciptaan maha karya seni selalu tercipta surga bagi sang kreator maupun si penikmat. Ketika surga telah tercipta kita tidak akan pernah merasakan apapun selain kedamaian dan pencerahan. Semoga selalu begitu ya Mba…. Salam damai dari Bali

    • Thanks atas pencerahannya. Satu hal yang sebenarnya juga saya rasakan, namun tidak terpikirkan dan terumuskan oleh saya sebelumnya. Sangat benar adanya.Kesenian memberi kita kedamaian jiwa. Melihat sebuah maha karya seni, membuat jiwa kita dipenuhi cahaya terang, kedamaian dan kebahagiaan. Salam damai kembali, Pak Dewa..

  4. Seni di Bali memang luar biasa …
    terlepas dari apapun juga …
    saya rasa “sense of art” masyarakat Bali belum ada yang bisa mengalahkannya …

    Salam saya Bu

  5. apalagi kalau mendalami bahwa seni itu sebagai pewujudan Sembah Hyang ya mbak.
    Soal taksu memang akan kalah waktu seni menjadi popular art, dan kurasa semua akan begitu termasuk pekerjaan saya mengajar dan menerjemahkan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s