Vasudhaiva Kutumbakam – Kita Semua Bersaudara.

Standard

Hari Minggu lalu, saya memiliki banyak acara bersama teman-teman saya. Antara lain menengok seorang teman yang sedang melakukan upacara “metatah’ atau potong gigi bagi putra-putrinya. Lalu menengok seorang teman SMA yang ayahnya meninggal dunia,  menengok seorang teman SMP yang sakit dan terakhir  perlu menengok teman SMP yang lain yang ibuya juga meninggal dunia.  Awalnya saya pikir acara akan menjadi sangat ribet. Mengingat bahwa tidak semua teman SMP saya kenal dengan teman SMA saya. Demikian juga sebaliknya.Namun ternyata semuanya menjadi sangat mudah.

Bermula ketika seorang sahabat baik saya di  SMP bersedia ikut melayat ke rumah teman SMA saya. Padahal mereka tidak saling kenal. “Nggak apa –apa ya? “ tanya saya khawatir. Jangan sampai ia merasa kikuk dan kurang nyaman. Namun sahabat saya itu  ternyata sangat  baik. Dengan tulus  ia mengantarkan saya dan teman saya yang lain melayat ke rumah teman kami yang sebenarnya tidak ia kenal itu. Tentu saja saya merasa sangat senang dan berutang budi. Walaupun dalam hati kecil saya tetap khawatir . Saya pikir saya harus menjaga perasaannya baik-baik.

“Hm.. diantara teman-teman yang bersama kita ini, ada yang belum dikenal ya?” tanya saya sambil memandang wajahnya. Berharap saya tidak membuatnya menjadi merasa tidak nyaman.”Ada beberapa yang saya tahu” jawabnya ringan, sambil memandang ke arah bunga-bunga Rijasa yang sedang mekar di pinggir jalan. Saya lihat raut wajahnya sangat jernih, seperti tidak memendam kekhawatiran sedikitpun.  Sayapun merasa lebih tenang dan lega jadinya.

Di rumah teman SMA saya yang kedukaan, sahabat SMP saya itu duduk diantara teman-teman SMA saya yang lain. Dek! Terbersit rasa khawatir kembali di dada saya. Sungguh saya tidak ingin membuatnya merasa tidak nyaman. Namun diluar dugaan, ternyata sahabat SMP saya itu telah ngobrol akrab dengan teman-teman SMA saya. Seakan-akan mereka telah saling mengenal selama puluhan tahun. Sayapun langsung berkomentar akan keakraban mereka. Dan bertanya,bagaimana mereka bisa seakrab itu padahal baru saling mengenal?

Vasudhaiva Kutumbakam!” Kata teman saya.  ”Karena beliau sudah ada di depan saya, maka saya anggap sebagai saudara” Ia lalu menceritakan kembali kepada saya tentang konsep “Vasudhaiva Kutumbakam” yang menjelaskan bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini adalah saudara kita. Ya, dengan menganggap bahwa semua orang yang berada di dekat kita adalah saudara kita sendiri, tentu saja percakapanpun sangat mudah mengalir. Saya hanya bisa diam-diam mencatatnya di dalam hati saya. tentu saja saya pernah mendengar konsep itu sebelumnya, namun setelah bertahun-tahun tinggal di kota besar,saya hampir lupa akan konsep itu lagi.  Sungguh sebuah konsep yang sangat menarik untuk direnungkan.

Berikutnya ketika mengunjungi seorang teman yang sakit, saya mendengar kembali kata “Vasudhaiva Kutumbakam” itu diucapkan oleh teman saya. Kali ini teman saya menegaskan bahwa kami ini semua adalah bersaudara. Teman semasa remaja, teman berbagi suka dan duka. Tidak ada sesuatupun yang membuat kita menjadi lebih istimewa atau kurang istimewa dibandingkan dengan yang lainnya. Lupakan mengenai asal-usul, golongan ataupun kekayaan. Semuanya sama di hadapanNYA. Dan dengan memahami konsep Vasudhaiva Kutumbakam, maka kita akan selalu bersama-sama. Saling percaya dan saling mendukung. Saling membantu ketika ada yang mengalami kesulitan. Demikian juga pada saat kita sakit dan tidak berdaya, semua teman berusaha membantu. Ssehingga kita tidak merasa sendirian dan ditinggalkan. Karena kita semua bersaudara.

Sepulangnya ke rumah,saya merenungkan kembali kata-kata teman saya itu. Vasudhaiva Kutumbakam!. Sebuah konsep kehidupan yang sangat damai dan menyenangkan.  Seandainya semua orang memiliki pemahaman mulia itu, tentu kedamaian akan sangat mudah diciptakan.

Sekarang saya semakin menyadari, betapa beruntungnya saya, karena memiliki para sahabat yang sangat baik dan tulus hati di sekeliling saya. 

24 responses »

  1. …..konsep “Vasudhaiva Kutumbakam” yang menjelaskan bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini adalah saudara kita……. Senang sekali dengan yang ini, kita menjadi bagian kesatuan alam . Terimakasih tuk sharing berharga ini jeng Ade. Salam

  2. Mb Dani, vasudhaiva kutumbakam, kita jg bersaudara hehe..
    Kalau saja konsep ini ditambahkan pd tagline bhineka tunggal ika, sempurna banget ya

  3. Vasudhaiva Kutumbakam, kata yg pertama kali saya dengar, saya ikuti link (wikipedia) yang diberikan.Sungguh merupakan konsep yang mengagumkan, dijelaskan pula konsep ini mirip dengan sebuah konsep di masyarakat africa kuno yang dikenal dengan nama “UBUNTU”. Sebuah nama yang mengingatkan saya akan nama salah satu distro operating sistem LINUX didalam dunia komputer.LINUX dibuat dengan konsep “open source” dimana setiap orang pada dasarnya bisa memodifikasinya yang pada akhirnya akan menyempurnakan operating system itu sendiri, atau mungkin bisa diartikan “one for all, all for one”.

    Sungguh membahagiakan mempunyai sahabat sekalipun pernah kita tinggalkan, namun jika kita datang dengan ketulusan “maaf” persahabatan itu terjalin kembali. Senang menjadi bagian dari kisah persahabatan ini. Salam damai dari Bali.

    • Suksma, Pak Dewambara atas tambahan informasinya yang mencerahkan. Saya yang kurang memahami dunia dan istilah istilah dalam dunia teknologi informasi, jadi mendapatkan tambahan ilmum. Ya… Selalu membahagiakan memiliki sahabat yang diliputi ketulusan hati. Semoga persahabatan kita kekal abadi..i

  4. ahhhh mbakkk senang sekali saya baca posting yang ini, begitu saya selesaikan tugas bertumpuk… Legaaaa dan damaiiii sekali. Semoga saja pemikiran Vasudhaiva Kutumbakam वसुधैव कुटुम्बकम् ini dapat benar-benar kita jalankan dalam kehidupan sehari-hari.
    Maaf baru berkunjung lagi mbak… sedang mengejar ketinggalan BW nih

  5. Sebuah konsep yang sangat bagus, sayangnya tak semua orang punya kemauan untuk melaksanakannya. Semoga semakin banyak orang yang mau mengamalkan konsep ini

  6. Jika konsep itu diterapkan, maka tak akan ada lagi bentrok antar desa, tak ada lagi demo yang anarkis, tak ada lagi lempar2an batu antara aparat dan masyarakat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s