Monthly Archives: June 2012

Satya Wacana.

Standard

Liburan ini sebenarnya saya berencana mengajak anak saya bermain ke Trans Studio di Bandung. Kebetulan kantor tempat saya bekerja berencana mengadakan acara Family Gathering di sana. Namun karena sesuatu dan lain hal, acara itu diundurkan jadwalnya.  Sehingga planning sayapun ikut bubar juga.  Tetapi hari Sabtu kemarin, kakak saya dari Bali mengabari bahwa ia akan ke Bandung  hari Minggu keesokan harinya. Dengan semangat sayapun berencana akan menjemputnya di bandara Soekarno Hatta dan  mengantarkannya ke Bandung. Walaupun suami saya  tidak bisa ikut  mengantar. Read the rest of this entry

Advertisements

Sebuah Kisah Jalanan.

Standard

Siang ini kembali saya menghabiskan waktu di jalanan. Mengunjungi  Supermarket demi Supermarket untuk melihat secara langsung bagaimana  produk yang saya pasarkan dipajang dan dijual di lapangan. Tak terasa sudah lewat tengah hari. Pukul 2.30.Teman saya mengingatkan bahwa kami belum makan siang. Mungkin karena panas, saya merasa lebih haus ketimbang lapar. Sambil menyetir  di sebelah saya, teman saya bertanya apakah saya ingin makan di restaurant yang benar atau  saya tidak bermasalah jika makan di warung makan kecil di pinggir jalan. Saya bilang bahwa saya oke saja dengan tempat makan seketemunya di sepanjang perjalanan kami.

Saya memang  tidak pernah merasa harus makan di tempat makan yang mewah. “Sudah biasa menggelandang sejak jaman kuliah”  istilah saya. Geli juga memikirkan itu. Sejak jadi mahasiswa saya yang anak cost terbiasa makan di emperan atau di warung-warung seadanya dekat kampus. Bagaimana bisa  saya tiba-tiba merasa perlu harus  se’borju’ itu tidak mau makan di pinggir jalan? Saya memang tidak terlahir sebagai anak gedongan. Read the rest of this entry

Iwak Peyek Nasi Jagung…

Standard

Siang  kemarin saya melakukan kunjungan ke sebuah Supermarket yang menjual produk-produk yang diproduksi oleh perusahaan tempat saya bekerja. Karena sudah lewat jam makan siang, super market itu kelihatan sepi. Hanya beberapa pengunjung  saja yang terlihat di lorong-lorong display. Sisanya  adalah para SPG yang hanya berdiri di dekat produk-produk yang dijaganya. Saya menyapa mereka dengan senyum,  yang segera dibalas kembali dengan senyum mereka. Muda-muda dan cantik –cantik. Sebagian kelihatan menikmati sepinya suasana Supermarket itu, namun sebagian kelihatannya berwajah agak be te. Read the rest of this entry

Balinese Traditional Body Scenting.

Standard

Cara Tradisional Mewangikan Badan di Bali

Hari ini adalah Hari Banyu Pinaruh di Bali. Perayaan bagi Ilmu Pengetahuan yang  laksana air (banyu) membasuh segala bentuk kegelapan pikiran, kekotoran jiwa, kebodohan dan ketidaktahuan manusia. Dengan pengetahuan, maka setiap orang akan melihat jalan yang terang dan bersih di dalam hidupnya. Namun di Bali,  di mana segala sesuatu diterjemahkan ke dalam  “Art, Shape and Symbol”, pembasuhan terhadap segala kebodohan, kegelapan dan  kekotoran ini pun diterjemahkan secara sekala dan niskala. Secara fisik dan non fisik. Selain melakukan persembahyangan dan doa untuk memohon kebersihan pikiran dan hati, maka berbagai acara pembersihan ‘fisik’pun dilakukan juga. Read the rest of this entry

Sang Initiator…

Standard

 

Siang tadi  saya creambath di sebuah salon di mall. Sebelum pulang saya memutuskan untuk mampir ke lady’s rest room dulu. Waduuh! Tidak saya sangka, antriannya ternyata sungguh sangat panjang. Apa boleh buat. Untung saya masih belum terlalu kebelet. Masih bisa menahan untuk beberapa saat. Dengan sabar terpaksa saya harus menunggu. Bersama wanita-wanita lain yang telah lama berada di jalur antrian itu.

Untuk membunuh kebosanan, saya lalu membaca status teman-teman saya di facebook lewat blackberry. Bosan melihat  facebook, lalu saya pindah ke blog. Bosan melihat blog , lalu pindah chat dengan teman teman saya.  Namun masih juga saya belum dapat giliran. Sebelum saya mati kebosanan, maka saya memperhatikan ke sekeliling dan orang-orang yang mengantri di situ. Read the rest of this entry

Tutut, Si Keong Sawah – Makanan Masyarakat Agraris.

Standard

Saya melihat sebuah MOKO (Mobil-Toko) parkir di depan sebuah tanah lapang di Graha Raya Bintaro.  Menjual Tutut!. Karena gambar yang diperlihatkan di spanduk mobil itu berbeda dengan yang bisanya,maka saya mendekat. Rupanya mo-ko itu berdagang makanan tradisional yang disebut Tutut. Hmm..Tutut! Namanya aneh. Serupa dengan nama panggilan puteri sulung Pak Harto. Mbak Tutut!. Tapi Tutut yang dijual di sini rupanya adalah keong sawah yang berbentuk kerucut pendek. Read the rest of this entry

Dwarf Lime Butterfly…

Standard

Selalu saja ada yang menarik, ketika kita duduk duduk di halaman dan memandang bagaimana segala jenis insekta datang, beraktifitas dan lalu terbang menjauh dari bunga ke bunga.  Saya sangat menyukai kupu-kupu. Tentu karena bentuk dan keindahan tata warna sayapnya bak palet-palet warna cat acrylic yang beterbangan di udara. Read the rest of this entry

Sepotong Chocolate Cookies Yang Tersisa.

Standard

 About Excellence .

 

Larut malam dari sebuah hari yang melelahkan. Penuh jadwal meeting dan deadline yang seolah berlomba menghadang. Saya bergegas pulang agar bisa segera mandi menyiram segala kepenatan dan  menemani anak saya belajar. Setelah itu sayapun segera tidur memeluk anak saya. Rasanya hanya sebentar,karena pagi kemudian segera tiba. Kembali lagi saya bergegas. Membangunkan anak-anak, memastikan mereka mandi dengan bersih, berpakaian rapi dan membantu segala persiapannya masuk ke dalam tas,mengantarkannya sampai di pagar. Karena waktu tak mencukupi, maka anak-anak sarapan pagi di kendaraan aja. Berikutnya saya perlu menyiapkan diri saya untuk berangkat ke kantor. Menyiapkan bekal makan siang untuk suami dan diri saya sendiri. Begitulah rutinitas hari kerja yang terkadang agak membosankan. Seperti hari ini. Read the rest of this entry

Ride On A Horse…

Standard

Rikala sedek nuju Redite. Jalan, rurung, ya mekejang pada rame.  Bel dokar, bel sepeda ngempengang kuping. Ngaja, ngelod, nganginang, mengawanang. Aduuuh…Kusir dokar mekenyir, mengenyor. Teken muatane jegeg tur meponi. Tusing tawanga dokarne melaib ke samping. Ngojog dagang ubad di sisin marga.Dokar nyungkling, jaran ngeliling, manyulempoh. Aduuuh.. dagang ubad becat ya mekelid. Kusir dokar babak belur ia metatu. Ento upah anake memata keranjang.Aduuuh… kusir dokar bangun megyayangan. Nunas iwang teken dane dagang ubad. Kebilbil aturnyane mesebeng jengis. Tityang iwang sampunang menggah piduka”

Jika tinggal di Bali di bawah tahun 80-an, tentu ingat akan lagu legendaris “Kusir Dokar” yang diciptakan dan dinyanyikan oleh alm Anak Agung Made Cakra. Lagu itu  diputar dimana-mana di seantero Bali. Di pasar-pasar tradisional, pertokoan, kendaraan umum, tempat-tempat wisata, bale banjar, di rumah-rumah penduduk dan sebagainya. Read the rest of this entry

Rinduku Pada Kuda.

Standard

“..Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda/ Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh/ Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua/Dan bola api, merah-padam, membenam di ufuk yang teduh …”

Penggalan  sajak yang berjudul  “Beri Daku Sumba” di atas adalah karya Taufiq Ismail, seorang dokter hewan yang lebih dikenal sebagai penyair. Terus terang puisi dan penyair ini sangat mengilhami saya di tahun 1980-an. Mungkin karena saya menyukai keduanya. Puisi dan kuda.

Puisi inilah yang tiba-tiba melintas diingatan saya ketika suatu hari minggu sore saya ngobrol santai dengan para pemilik kuda yang mangkal menjajakan jasanya di sebuah lapangan rumput di area Graha Bintaro Jaya.  Ngobrol ringan dan ngalor ngidul tentang kuda. Tentang breeding, makanan, umur dan kesehatan kuda, tentunya. Kuda-kuda yang kebanyakan  berumur antara 5 sampai 9 tahun ini, beberapa diantaranya didatangkan dari Bandung atau daerah lain di indonesia. Namun sebagian ada juga yang kelahiran Jakarta. Kuda-kuda ini diantaranya dimanfaatkan sebagai kuda penarik delman atau dokar, dan sebagian lagi digunakan sebagai kuda tunggang.  Beberapa orang anak sibuk mencoba menunggang kuda berkeliling lapangan dengan dibantu penjaga kuda. Saya hanya bisa mengamati keindahan kuda-kuda ini dari kejauhan saja. Read the rest of this entry