Belajar Dari Ayu Ting Ting Dalam Mencari Alamat Palsu.

Standard

Kemana kemana kemana /ku harus mencari kemana/Kekasih tercinta tak tahu rimbanya/lama tak datang ke rumah/Dimana dimana dimana /tinggalnya sekarang dimana….”

Jika ada yang bertanya, “Apa lagu dangdut terakhir yang agak lumayan kamu hapal?”,  maka jawaban saya adalah “Alamat Palsu”-nya Ayu Ting Ting. Walaupun sebenarnya saya tidak hapal 100% lyricsnya, namun lagu yang pernah ngetrend tahun lalu ini tetap menjadi lagu dangdut favorit saya.

Mengapa tiba-tiba saya menulis tentang lagu dangdut ini? Pertama, tentu seperti yang semua orang tahu,  lagu Alamat Palsu ini sangat fenomenal. Banyak sekali yang suka. Tak terbatas suku dan golongan, usia, pria-wanita. Saya mendengarkannya dilantunkan di pasar tradisional, di pertokoan, di tempat karaoke, hingga di acara kantor saya. Bahkan ketika sampai di rumahpun, pernah suatu kali  saya mendengar anak saya menyanyi lagu alamat palsu ini sambil berlompat-lompatan di atas kasur bersama teman-temannya.  Awalnya saya terkejut. Bagaimana mereka bisa tahu lagu dangdut itu? Anak saya menjawab, “Pak Guru olahragaku suka nyanyi itu, Ma.”. Oalah…Tapi okelah. Saya tak pernah mau membatasi ruang gerak kesukaan dan imajinasi anak-anak saya. Apa saja! Sepanjang tidak merusak. Toh saya juga tak mungkin benar-benar memprotect  anak saya sepenuhnya dari serbuan arus informasi yang berkeliaran disekitarnya.

Akhirnya sayapun ikut bermain dengan mereka “Mengapa, mengapa, mengapa…?” senandung saya. “Salah, Ma! Bukan mengapa! Tapi kemana!” Ralat anak saya. Oh, salah!. Tapi kan sama-sama kalimat tanya. Hanya kata tanyanya saja yang diganti. Kemana, kemana, kemana?

Mengapa Ayu Ting Ting harus bertanya tiga kali?” Nah! Pertanyaan yang bagus.  Jawaban saya adalah untuk menyatakan bahwa Ayu Ting Ting tidak jemu-jemunya berusaha mencari  orang yang  dia sayangi dan sudah lama menghilang. Jika sekali bertanya “kemana?” tidak berhasil, maka perlu bertanya kembali ke orang lain “kemana?”. Jika masih belum berhasil juga, maka perlu bertanya lagi ke orang ke-tiga “kemana?”.  Demikian seterusnya. Sampai ketemu.

Sama cerewetnya dengan mama. Selalu bertanya mengapa,mengapa, mengapa..” komentar anak saya. Saya tertawa mendengar itu. Sebenarnya agak tidak nyaman dibilang sebagai mama yang cerewet. Tapi memang susah buat saya berkelit. Karena memang kenyataannya saya suka mengeksplorasi segala sesuatu dengan mencari tahu sebab musababnya hingga ke akar-akar  permasalahannya dengan bertanya mengapa begini dan mengapa begitu, apa ini dan apa itu dan seterusnya kepada anak-anak saya. Saya pikir teknik mengeksplorasi ini sebenarnya secara natural digunakan oleh setiap anak yang sedang berkembang. Seingat saya,  anak saya  yang besar mengucapkan kata ” apa? apa?apa?apa?apa? dst berbelas-belas kali untuk menanyakan benda benda di sekitarnya saat mulai belajar berbicara.

Sedangkan anak saya yang kecil lebih suka bertanya ” mana? mana? mana? mana?..dst ” pada saat mulai bejar berbicara.  Sehingga informasi  dan input yang dikumpulkan oleh kedua anak saya ini barangkali berbeda  satu sama lain,yang membuat keduanya berkembang dengan karakter yang sangat berbeda.  Namun apapun jenis kata tanyanya, dengan melontarkan pertanyaan yang bertingkat dan berulang, maka semakin banyak informasi yang bisa dikumpulkan. Sehingga anak-anak bisa belajar dengan sangat cepat.

Pertanyaan “Mengapa” yang diulang ulang berkali-kali dan bertingkat, merupakan sebuah teknik sederhana untuk memahami akar penyebab sebuah permasalahan ataupun untuk memahami adanya sebuah peluang.  Saya rasa teknik ini juga sangat efektif digunakan dalam menghadapi pekerjaan sehari-hari. Dengan mengajukan pertanyaan bertingkat ini, kita mungkin akan berhasil mendapatkan berbagai jenis perspektif yang berbeda atas problem yang sama.  Yang pada akhirnya akan memberikan kita beragam kejadian yang bisa kita runutkan sehingga memudahkan buat kita untuk menarik kesimpulan dan mencari pemecahan masalahnya.

Belakangan saya baru tahu, kalau teknik eksplorasi  sejenis ini dengan pertanyaan bertingkat sebanyak 5 kali yang disebut  “Five Whys?“ ini rupanya dikembangkan oleh  Sakichi Tayoda seorang inventor dan industrialist kenamaan dari Jepang dan digunakan banyak di perusahaan Toyota Motor. Menarik juga! Tapi siapapun pengembangnya, yang jelas Ayu Ting Ting telah memberi saya inspirasi untuk mengeksplorasi sesuatu.

Sumber gambar : http://ayutingting.com/

23 responses »

  1. Ternyata dibalik lagu itu terselip filosofi ya Mbak.
    Dan ternyata sesuatu yang sederhana bisa bermakna luar biasa jika dicermati oleh yang jeli melihatnya…
    Salut atas telaah lagunya Ayu Ting2 yang Mbak Andani lakukan😀

  2. Apa, siapa, dimana mengapa dan bagaimana? Bentuk pertanyaan sederhana yang akan membawa kita pada tujuan tertentu ya Mbak Dani. Aku juga pengen mengikuti cara ini dalam mengerjakan sesuatu namun suka lupa hehehe…

  3. waduh saya ketinggalan, belum pernah sekalipun mendengarkan lagu “alamat palsu” sampai tuntas hehe..

    saya sering juga bertanya dengan pertanyaan “mengapa” baik terhadap diri sendiri atau keluarga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s