Surga Ada Di Telapak Kaki Ibu (Mertua)…

Standard

Ibu mertua! Banyak image yang berbeda ketika kita bicara tentang Ibu mertua. Terutama di kalangan menantu perempuan. Ada yg menganggap sama dengan ibu kandungnya sendiri, namun ada juga yang menganggapnya lebih kejam dari Ibu tiri. Bahkan ada juga yang menganggapnya saingan. Bersyukur saya memiliki Ibu mertua yang sangat baik dan sayang sekali kepada saya. Namun tak urung, di awal-awal pernikahan,saat baru kenal dengan Ibu mertua saya,saya sempat salting juga dibuatnya. Saat itu, sebagai menantu baru tentu saya ingin diterima dengan baik. Masalahnya adalah, saya memiliki banyak kekurangan yang mungkin akan membuat Ibu mertua saya tidak menyukai saya. Maka saya pikir saya perlu melakukan  Strategy CarMuk alias cari muka dulu ke ibu mertua saya. Setidaknya saya tidak di-reject sebagai menantu pada langkah pertama.

Pertama dan termudah. Saya akan melakukan bribery alias “penyogokan” terhadap ibu mertua saya. Maka sayapun mengerahkan tenaga saya untuk merenda sebuah syal untuknya. Saya memilih benang wool berwarna ungu (menurut investigasi saya, itu adalah warna kesukaan beliau), merendanya siang dan malam lalu menambahkan pita pemanis. Sim salabim! Jadilah sebuah syal indah berbentuk segitiga untuk ibu mertua saya yang cantik dan anggun. Mengapa renda? Karena  renda adalah salah satu hasil kerja tangan yang bisa menunjukkan betapa trampilnya seorang wanita. Selain anggun,renda juga selalu memiliki nilai klasik.  Saya tahu tidak banyak wanita yang bisa merenda. Jadi saya pikir, dengan menyogok beliau dengan syal renda, maka saya akan mendapatkan nilai A+ dimata Ibu mertua saya.  Setelah syal indah itu jadi, maka sayapun berkunjung ke ibu mertua saya dan menyerahkan hadiah saya itu. Tentu saja ibu mertua saya sangat senang dan mengagumi hasil kerja tangan saya,menantunya yang sangat berbakat ini.  Saya sangat senang. Beberapa saat kemudian, barulah saya tahu bahwa ibu mertua saya juga ternyata sangat jago merenda dan merajut. Berbagai jenis taplak meja, table center, hingga ke pakaian pun biasa dibuatnya. Dan hasil pekerjaannya sangat rapi dan indah. Alamaaakkk!! Malunya saya. Ternyata saya mengajari bebek berenang.

Kedua, saya harus kelihatan sebagai menantu yang rajin. Masalahnya adalah,saya punya kebiasaan tidur larut pagi, dan bangun kesiangan. Waduuh! Menantu jenis begini pasti susah diterima. Boro-boro mau mendapat score A. Tapi bangun pagi is a must! Kalau tidak,saya bisa terancam dipecat jadi menantu. Maka sayapun pasang alarm pagi-pagi sekali. Pukul empat!.  Jadi setiap kali saya menginap dirumah Ibu mertua, saya pasti bangun saat dunia masih gelap gulita. Tapi rupanya suami saya terganggu dengan alarm saya. Maka berikutnya iapun melarang saya turun dari tempat tidur atau menyalakan alarm pagi. Wah.. takut juga kalau saya sampai dipecat jadi istri. Akibatnya… beberapa kali saya kepergok bangun kesiangan oleh mertua saya.

Ketiga,  dulu saya tidak bisa memasak. Itu hal yang paling menghantui saya ketika memutuskan untuk menikah. Ibu saya hanya menugaskan saya menjadi tukang kebun dan tukang sapu halaman. Jadi ketrampilan saya hanya sebatas sebagai ‘gardener’ saja. Kalaupun di dapur,saya hanya kebagian menjadi tukang ulek, tukang iris, tukang kupas, tukang parut, dan sebagainya pekerjaan assistent.  Saya belum pernah menjadi manager dapur yang merancang menu ataupun bertanggungjawab terhadap keseluruhan cita rasa masakan. Karena ibu saya memberi tanggungjawab itu kepada saudara sepupu saya yang lain.  Maka sayapun mengajukan persyaratan itu kepada suami saya saat melamar saya.”Nggak apa-apa. Waktumu habis untuk manari dan menggambar, jadi tidak sempat belajar memasak” Kata suami saya memaklumi. Saya lega dan akhirnya bersedia menerima lamarannya. Tapi bagaimana dengan Ibu mertua? Saya pikir tentu Ibu mertua saya tidak akan menyukai menantu yang tidak trampil di dapur. Apapun alasannya. Maka sayapun berusaha keras untuk bertanggungjawab di dapur mertua saya. Tentu saja mertua saya sangat senang. Maka sayapun disuruh menggoreng tempe. Sementara ibu mertua saya masuk ke kamar.Satu menit pertama tidak terjadi apa-apa. Tempe terlihat menguning dengan baik. Namun beberapa saat kemudian.. tiba-tiba tempe kok menghitam dengan cepat. Rupanya saya over-frying. Gosong!. Addduhhh, mati deh!. Dengan gugup terpaksa saya melaporkan dan meminta maaf atas kejadian bodoh itu. “ Ya udah, nggak apa apa. Sudah kepalang jadi mantu ini …” kata ibu mertua saya sambil tertawa.  Masa dibatalkan? Adduhh, malunya.

Sebenarnya banyak lagi cerita-cerita konyol antara saya dan ibu mertua. Dalam upaya saya untuk mendapatkan keikhlasan beliau telah ‘merampas’ putranya dari kehidupannya. Namun terlepas dari semua kekonyolan itu, dengan berjalannya waktu saya sadari bahwa ternyata memang mertua saya sangat baik dan sangat sayang kepada saya.  Menerima saya dengan segala kekurangan dan kelebihan saya. Sehingga kakak-kakak ipar saya selalu meledek saya sebagai ‘menantu kesayangan’, walaupun mungkin sebenarnya saya adalah menantu yang paling konyol sedunia.    

29 responses »

  1. Tempe gosong?, hehehe kayanya saat menggoreng pikirannya lagi pingin melukis…ni benda kalau ga diberi warna hitam kok kaya gambar ga isi bayangan ya, hehehe…its ok not to be ok ya De, yang penting niatnya kan ga begitu ya,…he he he

  2. Duh gimana gak sayang pada mantu seperti ini, walau dia banyak kekukrangan tapi berusaha keras menutupinya hehehe..Aku nanti juga pengen mantu wanita biasa.Gak harus jago dimana saya ahlinya. Itu mah nyaingin. Tapi akan sangat senang seperti Mbak Dani ini, berusaha menyamai walau tak sepenuhnya bisa. Namanya kan sudah usaha..

  3. Saya punya dua surga, yaitu Ibuk saya dan Ibuk mertua.
    Bapak dan Bapak mertua sudah nggak ada.
    Sayangnya kedua beliau ini nggak mau tinggal bersama saya tapi lebih suka tinggal di rumah sendirian…

  4. wuiiih, salut deh sama kerja keras bunda untuk membahagiakan ibu mertuanya~😉
    eh, tapi wajah ibu mertuanya mirip niang saya di kampung…😳

    • ha ha ha…itu cuma becandaan kakak-kakak ipar saya Mbak Ely.. Saya pikir sih mertua saya sayangnya kepada saya sama saja dengan kepada menantu-menantunya yang lain..
      Tapi Ibu mertua saya memang baik banget sih Mbak..

  5. hihihi. . .
    sepertinya hal yang paling mendebarkan kala tinggal dengan ibu mertua adalah hal masak memasak. . .🙂
    waaaah, jadi terbayanga yang enggak2, Bunda?😆

    tapi paling senang, jika menjadi menantu tersayang dan dimanjakan, seakan-akan surga itu semakin dekat.🙂

  6. Hahahaha… entah kenapa saya kok jadi tertawa baca postingan ini. Ya memang sebagai menantu kita sering “carmuk”. Tapi kalau di Jepang, biasanya mertua lebih senang jika menantunya “bego”, jadi awal-awal saya justru tidak mau kasih tahu kelebihan-kelebihan saya. Untungnya mertua saya amat sangat baik, dan banyak sifat kami yang cocok, dan…. sama-sama tidak suka kepura-puraan. Selanjutnya setelah 3 tahun beradaptasi bisa saling terbuka dan sekarang malah ibu mertua selalu menyuruh saya yang mengatur menu dan masak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s