Rinduku Pada Kuda.

Standard

“..Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda/ Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh/ Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua/Dan bola api, merah-padam, membenam di ufuk yang teduh …”

Penggalan  sajak yang berjudul  “Beri Daku Sumba” di atas adalah karya Taufiq Ismail, seorang dokter hewan yang lebih dikenal sebagai penyair. Terus terang puisi dan penyair ini sangat mengilhami saya di tahun 1980-an. Mungkin karena saya menyukai keduanya. Puisi dan kuda.

Puisi inilah yang tiba-tiba melintas diingatan saya ketika suatu hari minggu sore saya ngobrol santai dengan para pemilik kuda yang mangkal menjajakan jasanya di sebuah lapangan rumput di area Graha Bintaro Jaya.  Ngobrol ringan dan ngalor ngidul tentang kuda. Tentang breeding, makanan, umur dan kesehatan kuda, tentunya. Kuda-kuda yang kebanyakan  berumur antara 5 sampai 9 tahun ini, beberapa diantaranya didatangkan dari Bandung atau daerah lain di indonesia. Namun sebagian ada juga yang kelahiran Jakarta. Kuda-kuda ini diantaranya dimanfaatkan sebagai kuda penarik delman atau dokar, dan sebagian lagi digunakan sebagai kuda tunggang.  Beberapa orang anak sibuk mencoba menunggang kuda berkeliling lapangan dengan dibantu penjaga kuda. Saya hanya bisa mengamati keindahan kuda-kuda ini dari kejauhan saja.

Kuda, di mata saya adalah salah satu hewan terindah yang pernah saya temui. Tak terhitung karya seni diciptakan manusia atas keindahan kuda ini. Mulai dari lukisan, patung, keramik, dan sebagainya. Banyak yang bercerita tentang kuda dan keindahannya. Keanggunannya. Kegagahannya. Ketabahannya. Dan kesetiannya pada manusia. Saya menyukai profile wajahnya. Saya menyukai surai di lehernya. Dan sangat menyukai kulitnya yang halus membungkus otot-ototnya yang kekar penuh tenaga.

Saya sendiri mengenal kuda sejak usia kanak-kanak.  Dimana saat itu akses menuju kampung saya di tepi danau Batur sangatlah terbatas. Tidak ada jalan yang bisa dilintasi kendaraan bermotor. Jika saya ingin pulang,maka saya harus menunggang kuda dari Penelokan hingga ke desa Kedisan. Dan dari sana saya harus naik perahu atau kapal boat menuju desa saya. Oleh karena itu, tanpa sengaja saya jadi mahir menunggang dan mengendalikan kuda. Namun setelah tahun 1983, dimana akses kendaraan roda empat mulai terbuka ke desa saya, maka perlahan peranan kuda inipun lenyap ditelan waktu. Sayapun tidak tahu lagi, apakah kini saya masih bisa menunggang kuda dengan baik atau tidak. Rasanya sih sudah lupa caranya. Boro-boro bia memacu kuda agar melesat lari menyusuri bukit-bukit di Kintamani,  rasanya hanya sekedar naik di atas punggung kuda pun barangkali saya sudah tidak bisa lagi.

Mengenang semua itu, terselip kerinduan saya pada masa kecil..

16 responses »

  1. sampai saat ini rasanya belum pernah naik kuda…
    dulu sempet paman punya kuda tapi saya gak berani naikinya, kudanya kayak liar gituh, paman sendiri sering terjatuh hehe…

    • Ya..kalau sekarang memikirkan yang dulu semuanya rasanya indah, Mbak. Tapi dulu waktu tinggal di situ,aku belum mengerti keindahannya.. Mungkin karena itu yang kita lihat dan hadapi sehari-hari ya..

      Wah.. sama lagi kita ini he he..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s