Ride On A Horse…

Standard

Rikala sedek nuju Redite. Jalan, rurung, ya mekejang pada rame.  Bel dokar, bel sepeda ngempengang kuping. Ngaja, ngelod, nganginang, mengawanang. Aduuuh…Kusir dokar mekenyir, mengenyor. Teken muatane jegeg tur meponi. Tusing tawanga dokarne melaib ke samping. Ngojog dagang ubad di sisin marga.Dokar nyungkling, jaran ngeliling, manyulempoh. Aduuuh.. dagang ubad becat ya mekelid. Kusir dokar babak belur ia metatu. Ento upah anake memata keranjang.Aduuuh… kusir dokar bangun megyayangan. Nunas iwang teken dane dagang ubad. Kebilbil aturnyane mesebeng jengis. Tityang iwang sampunang menggah piduka”

Jika tinggal di Bali di bawah tahun 80-an, tentu ingat akan lagu legendaris “Kusir Dokar” yang diciptakan dan dinyanyikan oleh alm Anak Agung Made Cakra. Lagu itu  diputar dimana-mana di seantero Bali. Di pasar-pasar tradisional, pertokoan, kendaraan umum, tempat-tempat wisata, bale banjar, di rumah-rumah penduduk dan sebagainya.

Lagu  itu berkisah tentang kejadian di sebuah hari Minggu pagi. Dimana jalanan sangat ramai, hiruk pikuk dengan bunyi klakson yang memekakkan telinga. Seorang kusir dokar terlihat asyik senyam-senyum menebar pesona pada seorang gadis cantik dengan rambut poni yang menjadi penumpangnya. Sehingga ia lupa mengendalikan kudanya. Tanpa disadarinya, dokarnya menabrak tukang obat di pinggir jalan. Dokarnya terbalik, kudanya terguling dan tersungkur. Syukurnya sang tukang obat segera menyelamatkan diri. Namun tak urung kusir dokar kita itu babak belur terluka juga. Dengan gugup dan menahan malu yang amat sangat ia pun akhirnya meminta maaf kepada tukang obat dan berharap agar tukang obat jangan menyimpan marah kepada dirinya. Kisah yang sangat jenaka.

Si pengarang menggunakan Hukum Karmaphala – platform standard pikiran orang Bali pada umumnya – dalam lagu ini. Setiap akibat,  tentulah hasil dari sebuah perbuatan. Dalam hal ini Sang Kusir Dokar  melakukan karma buruk (mata keranjang), dan sebagai akibatnya akhirnya ia menerima pahala yang setimpal (babak belur terluka). Itulah salah satu sebab, mengapa lagu ini mudah diterima dan memiliki nilai jual tinggi di Bali. Tentunya selain karena melodynya yang juga menarik dan jenaka.

Saya sendiri berpikir bahwa Kusir Dokar itu sesungguhnya babak belur karena ia tak mampu mengendalikan kudanya dengan baik. Terlepas dari adanya gadis cantik yang menjadi trigger lepas kendalinya si Kusir Dokar.Bagaimana kuda melakukan tugasnya, adalah tergantung bagaimana tuannya mengendalikannya.

Statement itu kelihatannya banyak tergambar di kisah-kisah lain juga. Setidaknya tergambarkan dengan jelas di buku-buku kisah petualangan Old Shatterhand karangan  penulis novel legendaris Jerman Karl May yang saya baca dari perpustakaan sekolah saat saya di bangku SMP di Bangli. Di buku itu dikisahkan bagaimana Old Shatterhand berhasil mengendalikan seekor Mustang liar, yang bukan saja sangat liar namun juga sangat kuat, keras kepala dan sangat arogant. Dibutuhkan ketrampilan memahami nurani seekor Mustang dan sekaligus kekuatan fisik yang tangguh dari seorang laki-laki bergelar Old Shatterhand untuk menguasainya.   Dulu saya tergila-gila pada novel sequential ini yang dicetak pada buku berkertas coklat dengan hard-cover dan disana sini dimakan ngengat.

Mengendalikan kuda, kalau dipikir-pikir sebenarnya memang bukan perkara yang mudah. Bagaimana tidak? Kuda adalah juga mahluk hidup yang memiliki otak dan perasaannya sendiri. Ia memiliki keinginan sendiri untuk melakukan sesuatu. Bahkan untuk melangkahkan kakinya. Kalau manusia yang menjadi tuannya tidak memiliki kemampuan mengendali, maka kudapun pasti akan berjingkrak dan menderapkan kaki sesukanya serta berlari kemanapun hatinya menuntun. Disini jelas dibutuhkan saling pengenalan dan pemahaman yang baik antara kuda dan pengendalinya. Selain itu juga dibutuhkan kemampuan untuk mengkomunikasikan perintah dan kadang-kadang ketegasan serta kekuatan fisik dari sang pengendali.

Ketika kita sudah mampu mengendalikan kuda, maka pertanyaan berikutnya adalah, sejauh mana kita berani mempercayakan keselamatan diri kita pada seekor binatang yang bernama kuda? Bagaimana jika kuda itu tiba-tiba menyeberang  sendiri tanpa menghiraukan kepadatan lalu lintas atau berlari masuk ke jurang? Kelihatannya disini dibutuhkan sebuah kepercayaan dan kepasrahan dalam level tertentu. Begitu seseorang memutuskan untuk menunggang seekor kuda, maka hal yang dibutuhkan adalah memberinya kepercayaan. Karena kuda juga adalah seekor mahluk hidup yang memiliki instinct, naluri untuk menyelamatkan dirinya. Kepercayaan inilah yang sekaligus membuat kualitas persahabatan dengan kuda menjadi semakin membaik.

Jika kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, kuda liar sering diibaratkan sebagai nafsu, keinginan, dan emosi kita. Kuda liar itu ada di dalam setiap diri manusia.  Jika kita ikuti, maka ia akan berlari liar sekencang-kencangnya ke arah yang ia mau sendiri. Bukan ke arah yang sesuai dengan apa yang baik ataupun yang sesuai dengan norma-norma masyarakat yang berlaku.

Tentu saja kuda liar ini tidak mungkin kita hilangkan keberadaannya dari diri kita. Pun tidak mungkin kita kekang pergerakannya. Namun belajar dari cerita di atas, saya mulai berpikir, bahwa Kuda Liar di dalam diri kita itu sebenarnya bisa kita kendalikan asal kita tahu caranya. Yang perlu kita lakukan, tentu saja bukan menstopnya begitu saja, namun mengendalikannya dengan baik. Bersahabat dengan nafsu, emosi dan keinginan dan memberinya kepercayaan positive, saya pikir akan sangat  membantu kita mencapai objective yang kita inginkan, tanpa harus  melakukan kompromi dengan nilai-nilai penting dalam hidup kita. Semoga!.

9 responses »

  1. jadi kangen Old Shatterhand, :D
    coba ngingat nama si Mustang... belum dapat...,
    yg kuingat malah kudanya di Arab bernama Rih, milik Kara ben Nemsi

  2. Lirik nyanyian Bali dan muatan pesannya indah. Trimakasih sharing ‘pengendalian kuda liar’nya dan mengubahnya menjadi ‘teman’ mencapai tujuan. Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s