Tutut, Si Keong Sawah – Makanan Masyarakat Agraris.

Standard

Saya melihat sebuah MOKO (Mobil-Toko) parkir di depan sebuah tanah lapang di Graha Raya Bintaro.  Menjual Tutut!. Karena gambar yang diperlihatkan di spanduk mobil itu berbeda dengan yang bisanya,maka saya mendekat. Rupanya mo-ko itu berdagang makanan tradisional yang disebut Tutut. Hmm..Tutut! Namanya aneh. Serupa dengan nama panggilan puteri sulung Pak Harto. Mbak Tutut!. Tapi Tutut yang dijual di sini rupanya adalah keong sawah yang berbentuk kerucut pendek.

Ooh..! Keong sawah seperti ini disebut dengan Susul, kalau di Bali. Tutut atau Susul ini adalah salah satu jenis makanan yang umum kita temukan dimasak  di dapur masyarakat aggraris. Masyarakat yang  kehidupan sehari-harinya bertumpu pada pengolahan sawah dan memanfaatkan isi sawah. Salah satunya adalah masyarakat di mana saya menghabiskan masa kecil saya di Bangli, di tengah pulau Bali.

Barangkali karena  jaman itu  cukup banyak masyarakat yang kurang mampu dan juga system peternakan belum semaju sekarang yang mampu mensuply sepenuhnya kebutuhan daging ternak/unggas, maka masyakarat aggraris di Bali jaman dulu cenderung hanya memanfaatkan apa yang bisa  didapatkan dari sawah.

Untuk lauk pauk, mereka banyak memakan ikan (mujair, nyalian, lele, karper, be julit) , belut, kodok,  klipes (kumbang air),  siput sawah, capung,  cuweng ( larva capung), jubel (larva kumbang air) – dan kebanyakan diantaranya dimasak dengan bumbu Suna-Cekuh (bumbu tradisional  Bali yang menitik beratkan fokusnya pada bawang putih dan kencur – walaupun tentu saja bumbu ini juga mengandung bahan lain seperti bawang merah, kunyit, garam, daun salam).

Sedangkan untuk sayurannya, adalah tumbuh-tumbuhan yang  juga hidup di air sawah atau di pematangnya seperti kangkung, biah-biah (genjer), gonda (sejenis tanaman dengan batang berongga mirip kangkung) atau daun paku (pakis) dan lainnya.

Walaupun terlihat sederhana, namun sebenarnya dengan makanan ini kebutuhan akan karbohydrat, protein, vitamin dan mineral terpenuhi dengan sangat baik. Selain itu, karena pupuk buatan & pencemaran pestisida pada jaman itu  sangat sedkit atau bahkan nyaris tidak ada, maka tidak ada kekhawatiran sedikitpun akan keamanannya.

Untuk jenis siput sawah, setidaknya saya mengenal 5 jenis yang ada di Bali . Pertama adalah siput yang berbentuk spiral kerucut pendek berukuran sedang yang disebut dengan Susul. Ini yang paling populer dimasak.

Kedua adalah siput yang berbentuk spiral hampir bulat dengan ukuran sedikit lebih besar dari Susul, yang disebut dengan Kakul. Kakul juga dimasak dan biasanya harganya sedikit lebih mahal dari Susul. Lalu ada juga Kakul yang berukuran besar yang disebut Gondang atau Kakul Gondang.

Jenis siput yang lain adalah yang berbentuk spiral kerucut yang panjang dan langsing yang disebut Pusut-Pusut. Siput  Pusut-Pusut ini tidak dimakan, karena sependengaran saya siput ini beracun jika dimakan.

Ada lagi yang ukurannya juga kecil, memiliki bentuk oval dengan spiral sederhana yang disebut Pici-Pici. Siput  Pici-Pici ini juga tidak dimakan. Entah karena ukurannya yang terlalu kecil atau karena juga dianggap beracun. Jika kita berjalan kaki menyusuri pinggiran Danau Batur, kita juga akan menemukan ribuan bahkan jutaan cangkang  Pici-pici, Pusut-pusut dan Susul di pantainya yang berpasir.

Selain jenis siput, ada  juga kerang sungai  yang disebut Kima-Kima. Cukup sering juga saya temukan membenamkan diri di lumpur yang agak berpasir di aliran air sawah yang mirip got kecil. Kerang ini memiliki dua cangkang (bivalve)  berwarna kuning keemasan. Saat berjalan-jalan di pematang sawah di daerah Sukabumi, saya juga menemukan jenis kerang sawah ini dengan ukuran besar dan berwarna hitam di sana.

Ibu saya juga dulu sering memasak  jukut Susul Kuah pada saat kami kecil dulu. Karenanya, begitu melihat dagang Tutut ini, sayapun membelinya untuk saya coba. Kangen akan masakan ibu saya. Rasanya  memang agak mirip dengan Jukut Susul di  Bali, namun bumbu Tutut  ini terasa sedikit agak pahit karena penggunaan kunyit yang agak berlebihan.

22 responses »

  1. Kalau saya lihat Tututnya kecil ya mbak. Apa ada isinya yang bisa dimakan?
    Saya sih pemakan segala, cuma belum pernah coba, dan tidak tahu cara bikinnya.
    Saya sudah pernah coba makan anak jangkrik yang dimasak kecap di Jepang hehehe

    • Tutut di Bali (Susul) cangkangnya kecil tapi dagingnya padat – jadi lumayan juga. Tapi Tutut yang saya coba di Jakarta,ukuran cangkangnya lebih besar tapi dagingnya kecil. Aneh juga…Foto diatas itu foto yang saya ambil di Bal – jadi lebih kecil-kecili, soalnya Tutut yg di Jkt saya lupa menyimpan fotonya dimana he he..
      ooh ada juga ya masakan jangkrik di Jepang..

  2. Pulang dari sawah membawa beberapa jenis sayuran sekaligus lauk keong sumber proteinnya ya, jadilah pecel keong, alam menyediakan kebutuhan kita ya. Salam

  3. hmm, nenek saya pernah masak tutut ini. dipepes lebih tepatnya. err, tadinya saya enggan untuk mencicipinya, tapi karena katanya enak, ya saya cicipi aja~ dan ternyata lumayan~😳

  4. dulu ane jg prnh nyoba makan sate keong di kereta api. tapi g tau apakh keong’a sama kaya yg dimaksud mbak tau bkan. kurang ngrti jg mslah’a. hehe😀

  5. wah siput itu banyak macemnya ya,
    saya suka makan tutut sama kaka saya kalo susah di sedot lagsung dari mulut kuta pasti berusaha pake lidi untuk mengambul dagingnya, jika dibilang enak suh gak sebenarnya cuman ntaj mengapa saya suka
    hehehehe🙂

  6. kalau dulu agak sering makan ne tutut tapi sekarang sangat jarang…

    “Kima-Kima” di daerah saya di sebut “remis”… untuk yg berukuran besar dan berwarna ijo tua kehitaman namanya” kijing”.. kijing sangat bau amis dan alot…

  7. saya belum pernah sekalipun mencicipi masakan/makanan yang ada dalam tulisan diatas, sekalinya mencoba daging bekicot eh malah keracunan…kapok deh!!

  8. Di Bogor, kayanya sedang ngetrend makanan ini. Banyak sekali yg jual, masalahnya saya belum pernah nyobaik sekalipun. Kayanya gimana gitu … enak gk Mbak … ?? 🙂

  9. lombok timur,NTB juga ada tutut. , ..tapi masyarakat disini menyebut nya sisoq bedeng(keong sawah hitam)., . ,,
    makanan ini sungguh sedaap sekali., ,,apa lagi di santap bareng., ,,teman2. ,,, tambah sedaap sekali. ,. ,,

    sisoq(koeng sawah) ini sangat banyak sekali ditemukan., ,,di sawah para petani.,.dan para petani juga memamfaatkan nya sbg santapan sehari–hari, ,

  10. Pingback: Sayur Pucung Siput Sawah | rindutanahbasah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s