Sebuah Kisah Jalanan.

Standard

Siang ini kembali saya menghabiskan waktu di jalanan. Mengunjungi  Supermarket demi Supermarket untuk melihat secara langsung bagaimana  produk yang saya pasarkan dipajang dan dijual di lapangan. Tak terasa sudah lewat tengah hari. Pukul 2.30.Teman saya mengingatkan bahwa kami belum makan siang. Mungkin karena panas, saya merasa lebih haus ketimbang lapar. Sambil menyetir  di sebelah saya, teman saya bertanya apakah saya ingin makan di restaurant yang benar atau  saya tidak bermasalah jika makan di warung makan kecil di pinggir jalan. Saya bilang bahwa saya oke saja dengan tempat makan seketemunya di sepanjang perjalanan kami.

Saya memang  tidak pernah merasa harus makan di tempat makan yang mewah. “Sudah biasa menggelandang sejak jaman kuliah”  istilah saya. Geli juga memikirkan itu. Sejak jadi mahasiswa saya yang anak cost terbiasa makan di emperan atau di warung-warung seadanya dekat kampus. Bagaimana bisa  saya tiba-tiba merasa perlu harus  se’borju’ itu tidak mau makan di pinggir jalan? Saya memang tidak terlahir sebagai anak gedongan.

Akhirnya teman saya menyarankan agar kami mencoba makan disebuah rumah makan Ayam Goreng yang selalu ramai dengan pengunjung. ”Pasti enak!” kata teman saya yakin. “Rame selalu memberi indikasi bahwa tempat makan itu pasti enak” jelas teman saya lagi. Saya juga berpikir yang sama. “ Sabar ya. Kita menahan lapar sebentar lagi agar bisa mencicipi ayam goreng yang sangat terkenal itu” kata teman saya. Sayapun setuju. Sesampainya di dekat rumah makan itu, lalu kami memarkir kendaraan . Wah memang benar sangat ramai!.  Padahal jelas-jelas itu telah lewat jam makan siang. Tetap saja pengunjungnya masih ramai.

Saya melihat ke sekeliling dan mencoba mencari tempat duduk untuk kami berdua. Agak sulit.Meja-meja yang tersisa tampak kotor semua. Barangkali belum sempat dibersihkan karyawannya. Akhirnya saya menemukan sebuah meja yang agak bersih. Namun begitu mata saya memandang ke lantai di kaki meja itu, ya ampuuunnn!! Kotor sekali. Sisa sisa makanan  beserta tissue bekas pakai tercecer di sana sini. Tapi kelihatannya kami tak punya pilihan lagi. Akhirnya sayapun duduk saja di sana. Menunggu sejenak sambil berpikir bagaimana caranya melakukan order makanan. Oh, rupanya saya harus  memilih sendiri ayam yang sudah diungkep untuk digoreng kembali. Saya dan teman  sayapun memilih-milih ayam yang ada di baskom besar itu. Saat itu mata saya melihat  sekumpulan telor lalat berwarna putih nemplok di beberapa potong ayam ungkep itu. Saya lalu menunjukkan kepada teman saya telor lalat itu. Teman saya terkejut karena belum pernah tahu bentuk telor lalat sebelumnya.  Ia memperhatikan dengan detail telor lalat itu. “Saya pikir itu beras.Atau nasi “ katanya. Saya tertawa. Saya sudah terlalu sering melihat telor lalat di Jakarta ini. Di tukang daging, tukang ikan,  rumah makan bahkan di restaurant yang mahal.

“Sebenarnya telor lalat itu akan mati kalau digoreng “ kata saya. Tapi tentu saja tidak lucu kalau kita harus makan telor lalat goreng. “Jadi apa yang harus kita lakukan?” tanya teman saya. “Kita pilih saja yang tidak ada telor lalatnya. Kalaupun ada yang terselip tidak kita lihat, ntar akan mati tergoreng juga. Sortir!” ujar saya. Teman saya tampak bergidik. Tapi ikut memilih juga. Kan tidak semua ayam itu dihinggapi  dan ditelori lalat.

Kenapa tidak kita kasih tahu saja tukang ayamnya?” tanya teman saya berbisik.  Saya menggeleng.  Suasananya terlalu ramai.  Bisa kisruh!. Saya sudah terlalu sering bertengkar dengan tukang makanan  gara-gara telor lalat. Rupanya memang tidak banyak orang yang tahu bentuk telor lalat.  Baik pelanggan maupun tukang warung. Awalnya saya selalu memberi tahu tukang makanan setiap kali saya melihat ada telor lalat. Beberapa tukang makanan berterimakasih kepada saya atas  informasi yang saya berikan dan segera menyingkirkan makanan yang ada telor lalatnya itu. Namun beberapa tukang makanan yang lain  malah marah dan mengajak saya berantem. Bahkan pernah ada yang mengancam akan  menuntut saya atas kerugian  akibat pelanggannya yang kabur gara-gara  informasi saya itu terdengar oleh pelanggannya yang sedang ngantri makanan. Wah.. saya telah menutup pintu rejeki orang lain tanpa sengaja dengan bertindak sebagai pahlawan kesiangan.

Dan siang ini saya sedang tidak memiliki energy untuk berantem. Jadi saya memilih untuk diam saja.  Mungkin perbuatan saya kurang terpuji. Namun sungguh siang ini saya sedang tidak  memiliki energy lebih.  Toh juga telor lalat itu akan mati dengan sendirinya kalau tergoreng. Saya pikir tidak terlalu membahayakan publik. Cuma jorok saja. Lain kali lah,  kalau saya sedang merasa siap bertengkar akan  saya beritahu tukang makanannya.

Beberapa menit kemudian, ayam yang kami pilihpun sudah digoreng dan dihidangkan bersama sambal dan lalapan. Saya  mencuci bersih tangan saya  lalu makan dengan tenang. Teman saya melihat saya makan dan kemudian  mengikuti jejak saya. Saya tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Barangkali ia was was ada telor lalat hidup yang ikut masuk ke dalam perutnya.

Setelah makan teman saya berkata “ Rasanya juga ternyata nggak terlalu enak ya?. Sampai kita bela-belain menahan lapar  dan  jijik atas kejorokannya agar bisa menikmati makanan di rumah makan ngetop ini . Tidak seimbang dengan ..joroknya!“. Saya tertawa mendengar komentarnya.  Yeah.. inilah Kehidupan Jalanan  Jakarta. Kehidupan kita. Kehidupan rakyat jelata yang telah  beradaptasi dan kebal terhadap kotornya lingkungan sekitar. Telah beradaptasi dan kebal terhadap para lalat dan telornya juga…

24 responses »

  1. Wah, goreng ayam bersalut telur lalat..Aku juga belum tahu seperti apa telor lalat itu Mbak Dani..Nanti kapan2 kalau ketemu lagi jangan lupa di foto ya Mbak…
    Waduh, walau horor begitu ternyata warung itu tetap ramai ya? Hehehe..ciri khas bangsa kita ya Mbak, gak masalah kotor2 dikit yg penting kenyang…

    Ohya Mbak Dani, festival cisadane sudah dimulai 20 dan berlangsung sampai 24. Pengen deh pas minggunya ngajakin dirimu kopdar disana, namun apa daya aku harus dagang Mbak hehehe…Jadi kalau mau melihat festival rakyat tanggerang, disempetin datang deh Mbak…Semua pedagang makanan kecil keluar semua..Dari yang jorok sampai yg bersih kayaknya ada. Kemarin sore, saat lewat aku sempetin mampir…:)

  2. waduh,,, daging ayam ada telor lalatnya… jujur saya tidak tau telor lalat itu kaya apa ??
    jangan jangan pernah pula di daging ayam yang saya santap ada telor lalatnya hehe

  3. hati hati.
    nanti kalau telurnya netes di perut gmn?
    wkwkwkwkwk.

    kalau lapar ntu makan aja.
    “makanlah sebelum lapar, berhentilah sesudah kenyang”
    biar gendut.
    hahahaha

  4. Suka dengan frasa …… menutup pintu rejeki orang lain tanpa sengaja dengan bertindak sebagai pahlawan kesiangan ….. seni memberitahu kekurangberesan secara arif ala Jeng Ade. Salam

  5. Telor lalat dadar atau ceplok? He he he
    Saya kalau cari makan yang penting tempatnya bersih saja,meski sama adek saya sering diledekin kalau terllalu higienis ntar malah sakit2an, he he he

    Salam Kenal🙂

  6. Saya belum pernah lihat telor lalat, mbak…atau sudah pernah lihat tapi saya tidak tau?
    Entahlah…
    Saya juga sebetulnya tidak terlalu pilih-pilih tempat makan, mau di restoran atau kaki lima, yang penting bersih…hehe, agak kotor-kotor dikit masih ditoleransi, mbak…tapi buat saya tetep lebih nikmat makanan beli itu kalo dibawa pulang…yakin dengan kebersihan piringnya, yakin dengan gelasnya gelasnya…😉

    Tapiiii, klo sehari-hari kita bekerja dan harus makan diluar, memang tak ada pilihan lain, selain menyantap makanan itu dengan tenang biarpun banyak yang pengen dikomplain…hehe

  7. Uh waaaaaow…. Aku cm bs begidik membayangkan tisu2 di lantai dan segala kekotoran itu. Kalo cm telor lalat sih gpp. Asal jgn keliatan mata aja, qiqiqi….

  8. aduh kalau saya mungkin gak akan sanggup lanjut makan kalo tahu seperti itu… >.< walaupun ada telur lalatnya, tapi kalo gak keliatan nggak apaapa.😆

  9. Heeeee mbok…mungkin kalau saya tidak tahu akan lahap makannya, tapi kalau saya udah mengetahuinya dari awal, meskipun telurnya mati, tetap memberikan kesan ngak nyaman. Untuk kalimat terakhir…saya memeras maknanya…dimana kita telah beradaptasi dengan kotornya lingkungan, masih bisahkan kita untuk memperbaikinya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s