Ketika Gek Nita Dan Ode Meningkat Remaja.

Standard
Ketika Gek Nita Dan Ode Meningkat Remaja.

Beberapa hari yang lalu saya pulang ke Bali untuk menjalankan beberapa rangkaian upacara di rumah saya di Bangli. Salah satu acara yang menarik adalah Upacara Menek Kelih bagi dua orang keponakan saya, Gek Nita dan kakaknya Ode yang mulai menginjak masa remaja. Seperti barangkali serupa dengan suku-suku lain di Indonesia, upacara Menek Kelih ini dikaitkan dengan tahapan usia anak maupun perkembangan fisiknya, dimana sekarang anak mulai menginjak dunia remaja.

Bagi anak perempuan, upacara Menek Kelih ini juga sering disebut dengan Menek Bajang (Ngeraja Sewala). Biasanya dilakukan tidak jauh setelah sang anak mulai mendapatkan menstruasi pertama. Sedangkan bagi anak laki, upcara ini sering juga disebut dengan Menek Teruna (Ngeraja Singa). Biasanya dilakukan setelah si anak menunjukkan perkembangan fisik  seperti tumbuhnya jakun di lehernya.

Upacara ini pada prinsipnya adalah upacara bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas perkembangan anak  hingga mencapai usianya sekarang dan sekaligus memohon keselamatan agar si anak  dituntun ke jalan yang baik dan benar dalam segment perjalanan hidup berikutnya, yakni masa pubertasnya.

Gek Nita,keponakan saya yang saat ini baru naik ke kelas 2 SMP, kelihatannya sangat senang dengan upacara itu. Pagi-pagi sekali, ia sudah berdandan rapi mengikuti saya – tantenya- yang kebetulan harus menjalankan upacara lain. Saya melihatnya sambil berpikir bahwa keponakan saya terlihat lebih dewasa dari usianya jika didandanin seperti itu. Sama sekali tidak terlihat lagi bahwa sebenarnya ia baru naik ke kelas 2 SMP.  Lebih mirip anak SMA, atau bahkan mahasiswi. Sedangkan Ode kakaknya, sekarang baru naik ke kelas 3 SMP. Tampak lebih tenang dan kalem. Namun juga tampak lebih dewasa dari usianya. Sekarang saya baru sadar, ternyata keponakan saya mulai besar-besar.

Upacara dilakukan pada pagi hari dengan upacara Mebyakala atau Mebyakaonan di tengah natah (di tengah halaman rumah) dengan disaksikan oleh seluruh keluarga. Upacara Menyakala itu sendiri dipimpin oleh seorang pemuka agama dan dibantu oleh seorang asistennya. Upacara pembukaan ini pada prinsipnya dimaksudkan untuk membersihkan unsur buta kala ( negative) yang tidak sepatutnya berada pada tempat upacara atau pada diri anak yang akan diupacarai.

Berikutnya dilanjutkan dengan upacara Mejaya-jaya yang dipimpin oleh seorang pendeta dan mengambil tempat di merajan (pura kecil di sudut rumah, yang digunakan khusus sebagai area sembahyang). Upacara ini bertujuan untuk membersihkan lahir bathin anak secara spiritual. Tentu saja upacara ini menggunakan banyak unsur symbolik, misalnya dengan menggunakan berbagai tirtha (air suci) dan air  kelungah (air kelapa yang masih sangat muda) serta doa-doa pembersihan dari Pendeta yang memimpin upacara. Diharapkan dengan upacara ini, anak  akan memiliki hati dan pikiran yang semakin bersih dan setia akan kebenaran. Seusai mejaya-jaya ini,anak kemudian dikenakan ikat kepala alang-alang dan selempang benang Tridatu agar terbebas dari segala bentuk halangan dan selalu dalam perlindungan Tuhan Yang Masa Esa.

Upacara berikutnya dalah Muspa atau persembahyangan bersama di  merajan/ sanggah dengan bersyukur dan berterimakasih atas  usia kanak-kanak yang telah terlewati dengan baik dan selamat. Serta berikutnya memohon  agar diberikan tuntunan yang terbaik dalam menjalani masa remaja agar senantiasa selamat dan selalu berada di jalan yang baik dan benar. Persembahyangan juga dipimpin oleh Pendeta. Dan dalam kesempatan ini juga dilakukan penghormatan kepada Sang Hyang Semara Ratih, sebagai sinar suci Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai penjaga asmara agar anak selalu terjaga dengan baik saat menjalani masa pubertasnya.

Akhirnya keseluruhan rangkaian upacara diakhiri  dengan upacara Natab atau Ngayab Banten. Upacara ini dimaksudkan untuk menghaturkan persembahan yang ikhlas dan menerima berkat. Dimana diharapkan agar anak dapat meningkatkan rasa ikhlas dan penuh syukur dalam melakukan segala yadnya (persembahan, pengorbanan, sumbangan maupun menolong sesama) dan sama ikhlas dan bersyukurnya saat menerima segala berkah yang diberikan.  Agar kelak kehidupannya dipenuhi dengan keikhlasan dan rasa syukur.

Saya terharu melihat kedua keponakan saya yang menginjak remaja itu. Demikian juga sama terharunya saya ketika melihat adik saya dan istrinya selaku orangtuanya yang sangat berbahagia telah berhasil mengantarkan anaknya ke gerbang masa remaja dengan baik. Saya berdoa untuk kebahagiaan dan keselamatan perjalanan hidup kedua keponakan saya tersayang.

13 responses »

  1. Gek di depan nama NIta itu apakah panggilan khusus mbak? Gek Nita cantik sekali ..

    upacaranya indah mbak, maksudnya juga supaya si anak sudah harus menyadari dirinya mulai beranjak dewasa dan punya tanggung jawab ya

  2. kalau begitu “Upacara Menek Kelih” itu terbagi jadi beberapa rangkaian upacara ya made ?

    setuju,,, kalau saja tak ada penjelasan bahwa gek nita itu baru kelas 2 smp, saya mengira sudah duduk di bangku sma…

    satu lagi sayang tantenya yang sudah berdandan rapi tak ada photonya hehe….(maaf becanda)..

  3. Urut2an acara, simbolisasi dengan pemaknaan yang sangat agung. Memohon penyertaan Sang Hyang Semara Ratih dalam masa pubertas, wujud tanggung jawab mendampingi generasi muda. TFS Jeng Ade. Salam

  4. Tradisi yang luar biasa mbak Made, selain mengenalkan ritual turun temurun ini pada generasi muda, saya juga suka dengan kedalaman makna dari tiap acara yang dilakukan…betul-betul mendekatkan kita dengan Sang Pencipta🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s