Magnifying Happiness.

Standard
Magnifying Happiness.

Hari Libur.Saya menghabiskan waktu seharian dengan menemani anak –anak melakukan hal-hal yang menyenangkan hatinya. Sore harinya saya mengajak anak saya mengamati kupu-kupu yang beterbangan di semak-semak bambu dan megamati benda-benda kecil  di halaman lewat mikroskop. Spora yang menempel di daun pakis, tepung sari dan kepala putik bunga yang sedang mekar, serangga mikroskopis, hingga jamur yang tumbuh menempel di bulu ayam yang lepas dari kemoceng. “Wow! Such beautiful world!” seru anak saya yang besar. Sementara anak saya yang kecil tampak begidik dan tidak menyukainya.Beda minat, beda response. Yang besarpun akhirnya sibuk dengan mikroskop dan  mencoba mengamati berbagai benda lain lagi. Berkali kali ia membuka dan memakai kacamatanya untuk memastikan bahwa ia telah melihat dengan sebaik-baiknya.

Di dunia kecil ini, semuanya terlihat indah” kata anak saya. “Nggak juga! Banyak juga yang mengerikan” kata anak saya yang kecil. “Tergantung yang kita lihat!”Tungkas anak saya yang besar. “Kalau mau bagus, lihat saja bagian yang indah-indahnya. Terus perbesar!” kata anak saya. Saya tertawa mendengarnya. Tidak berusaha menengahi percakapan itu. Karena sayapun setuju. Di dbawah mikroskop, banyak hal yang bisa kita lihat. Ada yang indah, ada juga yang mengerikan. Sama saja dengan di dunia makro. Tidak ada bedanya. Ada yang baik dan ada yang buruk. Itu namanya Rwa Bhineda.

Memikirkan itu saya jadi teringat akan seorang teman yang sudah lama kehilangan kontak dengan saya. Tumben menelpon beberapa hari yang lalu. “Halo! Apa khabar?” katanya memulai percakapan. Saya menjawab apa adanya dan akhirnya mengobrol ke sana kemari tentang masa lalu. Ujung-ujungnya ia berkata bahwa ia telah membaca banyak tulisan-tulisan saya di blog. Dan mengatakan sangat  menikmati tulisan-tulisan saya itu. Ah, syukurlah kalau ia memang menyukainya. Tentu saja saya tidak mau berpikir negative dengan mencurigai statementnya itu sebagai sebuah basa basi. Satu hal yang membuat saya terkesan adalah pertanyaannya “ Mengapa tulisan-tulisanmu itu selalu bercerita tentang hal yang indah? Apakah hidupmu memang sedemikian indahnya?” tanyanya. “Kalau memang sedemikian indahnya, aku akan ikut denganmu” katanya bercanda. Saya tertawa mendengar pertanyaannya. Ia bukan orang pertama yang  menanyakan hal itu kepada saya. “Ya. Tentu saja hidup saya indah. Keindahan yang saya tuliskan adalah riil. ” jawab saya dengan pasti. Dan ia heran bagaimana hal itu bisa terjadi. Bagimana mungkin saya memiliki sedemikian banyak kebahagiaan dalam hidup saya.

Saat itu saya menjawab dengan penjelasan yang sangat serupa dengan apa yang disampaikan anak saya yang besar mengenai dunia mikroskopik. Di dalam hidup ini, sudah tentu kita tidak bisa melepaskan diri dari unsur Rwa Bhineda itu. Suka dan duka. Baik dan buruk. Tak mungkin saya menghadapi hari yang penuh suka terus menerus.Tak mungkin pula saya mendapatkan nasib yang baik sepanjang waktu. Sama saja dengan teman saya itu dan orang-orang lainnya.

“Saya hanya berfokus kepada hal-hal yang indah dan baik saja. Menuliskannya dan membesarkannya. Dengan demikian saya berhasil meningkatkan porsi keindahan di dalam hidup saya. Sebaliknya karena saya tidak berhenti pada hal-hal yang menyedihkan ataupun membuat hati saya kesal, maka saya berhasil menciutkan porsi ketidakbahagiaan menjadi kecil” Kata saya.  Jadi sebenarnya keindahan hidup yang saya nikmati ini semata karena saya memang sengaja mendesign-nya seperti itu. Karena saya selalu berusaha melihat hal-hal positive dari setiap kejadian. “Something good in everything I see”potongan lyric dari lagunya ABBA itu  benar-benar sangat menginspirasi saya. Teman saya tertawa mendengar cerita saya. “ Wah..sangat bagus untuk project pencitraan” katanya. Sayapun ikut tertawa. Tentu saja!.  What’s wrong dengan pencitraan?.

Kalau memang hidup kita penuh dengan keindahan, mengapa kita harus mengingkari dan tidak mau tercitrakan sebagai memiliki kehidupan yang indah? Point saya adalah, memiliki hidup yang indah itu penting buat diri kita sendiri. Penting untuk kebahagiaan kita. Dan jika kebahagiaan hati kita terpancar dan akhirnya tertangkap sebagai “citra” oleh orang lain, anggap saja itu sebagai bonus yang menyenangkan.  Jika tidakpun, ya tidak apa-apa juga. Nobody’s perfect! Kata sahabat saya yang lain.

 Jadi, saya pikir memang tidak ada salahnya kita fokuskan diri kita pada hal-hal yang positive saja. Hal-hal yang indah, menyenangkan dan membahagiakan. Lalu perbesar dengan mikroskop yang ada di hati kita.  Lets magnify our happiness ! Selalu perbesar kebahagiaan hati kita. Dan mari kita design hidup yang lebih bahagia!.

19 responses »

  1. Amat terkesan dengan tulisan ini Mbak Dani. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Kalau memberi posrsi ke pikiran-pikiran baik lebih besar, maka kebahagiaan akan datang dengan sendirinya. Melihat yang kebahagiaan kecil lalu kita perbesar dengan microscope hati…Hm..Such nice thingking..Mbak🙂 Opo kuwi jenenge? Rwa Bhineda..I see..

  2. waaw super sekali.😀 kalo kita fokus sama masalah atau hal2 yg buruk, justru akan menarik lebih banyak keburukan. kalo fokusnya pada sisi positif, maka kita akan jadi magnet bagi kebahagiaan.
    cerita di postingan ini jadi memotivasi saya untuk menghubungi kawan lama..

  3. saya senang dengan percakapan anak kecil sampeyan tentang indah dan menakutkan. terlepas dari apa pun, perkataan dari anak kecil kadang2 bisa membuka hal2 yang besar yang kita pikirkan. contohnya ya di tulisan ini. dan ini suer, bukan basa basi lho bu…🙂

  4. Yang pasti tulisan ini tidak cocok untuk orang yang sering galau heheheh.
    Tapi bener mbak, saya juga berprinsip seperti mbak, saya maunya menulis yang happy-happy, sehingga saya juga berusaha untuk happy terus kan? Meskipun memang tentu saja ada yang unhappy, itu juga boleh ditulis asal memang bertujuan meringankan pikiran bukan mengumbar kemalangan. Dan tentu saja kita berharap tulisan kita dapat memberikan aspek positif bagi pembacanya ya mbak. Saya setuju sekali dengan tulisan ini, meskipun mungkin ada orang yang bilang “kamu narsis (pamer)!”
    Keep blogging ya mbak…. meskipun saya selalu berkunjung dirapel semua tapi pasti saya baca hehehe.

    • ha ha ..memang, mabk. Saya berusaha memotivasi diri saya untuk bahagia dengan menulis yang happy happy aja. Nggak apa apa sedikit narsis kan ya he he. Asal jangan merugikan orang lain.

      ya,nggak apa-apa Mbak. Santai aja. Aku juga kadang kadang aja sempat main ke tempatmu dan teman teman blogger yang lain.. tapi kan network tetap terjalin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s