Anakku, Gambar Naga Dan Kanvas Yang Lebih Besar.

Standard
Anakku, Gambar Naga Dan Kanvas Yang Lebih Besar.

Anak saya suka menggambar. Mungkin itu sudah naluri semua anak kecil. Saya senang dengan kesenangannya itu.  Barangkali karena waktu kecil sayapun suka menggambar.  Jadi, saya senang ada yang mewarisi hobby saya itu. Saya rajin memberikannya kertas lepas, buku gambar atau bahkan kanvas. Agar ia semakin semangat menggambarnya.  Dan iapun  selalu  menggambar dengan suka cita.

Pada suatu hari saya lihat ia menggambar sesuatu. Gambar yang seolah tidak tuntas. Potongan sesuatu. Namun saya tidak berhasil menangkap maksudnya.Saya bertanya “Gambar apa itu, sayang?” Anak saya menjawab “ Gambar Naga, Mama” katanya tanpa menoleh. Terus asyik menggambar.  Memang Naga adalah topik yang paling sering digambarnya. Segala jenis dan bentuk naga. Mulai dari  Naga yang  mirip ular,  naga yag berkaki empat mirip kuda bersayap,  hingga  yang mirip dinosaurus maupun  binatang yang bersayap mirip burung. Saya tidak pernah mengkritik apapun bentuk dan warna maupun proporsi gambar naganya. Buat saya semuanya terlihat bagus. Selain itu, naga adalah mahluk dongeng. Siapa yang tahu persis wajahnya? Semuanya hanya ada dalam imajinasi. Jadi setiap orang sah -sah saja jika mau menggambar sesukanya.

Belum selesai gambarnya di selembar kertas itu, iapun mengambil sebuah kertas lagi dan menggambar lagi. Di kertas inipun saya tidak ada melihat sebuah bentuk apapun yang tuntas. Saya coba meneliti. Mana ya gambar naganya?  Tidak tampak sedikitpun oleh saya. “Yang mana naganya?” anak saya tidak menyahut. Mengambil kertas lagi dan asyik menggambar. Demikian seterusnya sampai lima lembar kertas. Pada akhir lembar yang ke lima, ia menyatukan semua gambarnya. Dan sekarang  tampak jelas oleh saya sebuah sosok binatang khayalan yang mirip kuda berkaki empat namun bersayap. Itulah yang ia sebut sebagai Naga. Saya menyukai kreatifitasnya. Tapi mengapa ia menggambar seekor Naga pada lima lembar kertas yang disambung-sambung?. “Aku mau kanvas yang lebih besar, Ma” katanya. Saya terkesan akan jawabannya namun tak terlalu memikirkannya. Ia membutuhkan media yang lebih besar untuk menampung idenya agar lebih sesuai dengan apa yang ada di dalam pikirannya dan ia berhasil menemukan caranya. Cara kreatif mencari pemecahan masalah.

Esok harinya ketika libur,  saya mengajak anak-anak saya bermain di halaman.  Kebetulan di sebelah rumah saya,  terdapat sebuah lahan kosong yang dimanfaatkan oleh anak-anak untuk bermain sepakbola.  Lapangan mini itu sangat ramai dengan anak-anak yang bermain setiap sore. Namun di siang hari, saat matahari terik menyengat lapangan itu tampak lengang. Hanya hamparan tanah yang coklat. Anak saya mengambil sebatang ranting  dari pinggir lapangan dan mulai menggambar di tanah. Beberapa menit kemudian iapun selesai.Gambar seekor Naga lagi seperti dalam imajinasinya. Wow!! Saya hanya bisa menontonnya dari pinggir lapangan. “Kanvas yang lebih besar!”katanya girang merefer kepada tanah lapang itu. Ternyata anak saya serius dengan urusan kanvas yang lebih besar itu.  Naga adalah binatang besar dan menggambarkannya dengan ukuran yang besar tentu memberikan sensasi yang berbeda. Dan tentu saja, tanah lapang adalah kanvas yang cukup besar untuk menampung imajinasi seninya. Gambar Naga di tanah lapang itu sekarang jadi mirip Nazca Line. Tentu akan sangat bagus jika saja saya bisa memotretnya dari ketinggian. Saya terkesan dengan apa yang dilakukan anak saya.  Impressive and trully a grand work!. Terutama jika dibandingkan dengan ukuran tubuhnya yang mungil.

Sore semakin merangkak. Anak saya selesai menggambar dan masuk ke kamarnya.   Anak-anak tetangga mulai berdatangan ke lapangan itu untuk bermain bola. Saya lihat mereka berkerumun melihat gambar Naga di tanah lapang itu. Beberapa orang berjongkok dengan rang dan  ikut menambahkan gambar.  Sekarang saya benar-benar setuju akan anak saya – tanah lapang itu  memang sebuah kanvas yang besar.

Kanvas yang lebih besar!. Kata kata itu sepertinya tertinggal di pikiran saya ketika anak- anak itu meninggalkan tanah lapang kecil itu. Mengapa ia  membutuhkan kanvas yang lebih besar?

Art is always start with a dream. Dan setiap mimpi membutuhkan kanvas yang sesuai. Mimpi besar membutuhkan kanvas yang besar untuk merealisasikannya. Ide-ide dan kreatifitas besar seseorang membutuhkan wahana  yang tepat untuk menampungnya dan mengapresiasinya. Laksana pohon yang besar, membutuhkan pot yang besar untuk membuatnya bisa tumbuh dengan optimal. Jika pot yang kita gunakan kekecilan, tentu pohon itu akan terganggu pertumbuhannya. Jika tidak, maka ia akan memecahkan wadah itu dengan akarnya yang kuat.

Demikian juga barangkali dengan jiwa kita. Dibutuhkan kebebasan dan ruang gerak  yang cukup untuk membuatnya tumbuh besar. Jika ruang geraknya kita batasi, maka  bukannya tidak mungkin akan membuat jiwa kita semakin kerdil. Apakah kita juga membutuhkan kanvas yang lebih besar untuk jiwa kita?

14 responses »

  1. Hebat! dan solusinya menyatukan beberapa kertas menjadi satu pun sebetulnya sudah menunjukkan kreatifitasnya ya. Apalagi waktu bisa pakai tanah lapang sebagai kanvasnya.
    Kadang kita memang butuh “kanvas” yang lebih besar, tapi karena “keterbatasan” (tak ada tanah/tempat/uang/wadah dsb) maka terpaksa keinginan kita harus dipendam. Berbahagialah orang yang dapat menemukan kanvas yang lebih besar, dan berbahagialan orang yang selalu mencari pembaruan diri.

  2. Salut Jeng Ade, setelah kanvas yang lebih besar tergambari ananda akan membutuhkan kanvas yang lebih besar dari yang lebih besar ini dan dia akan menemukan melalui kreativitasnya.

  3. Filosofinya dalem banget..dan mungkin karena naga itu dalam cerita-cerita selalu digambarkan sebagai makhluk besar, maka dia juga perlu ‘kanvas besar’ buat menuangkan idenya itu tadi ya mbak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s