Legong Keraton Lasem – Menyimak Jejak-Jejak Kebudayaan Jawa Di Bali.

Standard
Legong Keraton Lasem – Menyimak Jejak-Jejak Kebudayaan Jawa Di Bali.

Suatu malam, saya berkesempatan mengajak anak-anak melihat pementasan langsung tari Bali. Ada berbagai jenis tarian yang dipertunjukkan. Salah satu tarian yang dipentaskan malam itu adalah Tari Legong Keraton. Sebuah tarian klasik yang selalu menarik untuk ditonton. Seperti biasa, layaknya seorang Ibu Guru saya berusaha menjelaskan dengan detail kepada anak saya mengenai alur cerita serta makna dari setiap gerakan yang dilakukan oleh setiap penarinya. Barulah saya menyadari bahwa tidak mudah bagi saya untuk menjelaskan mengenai tari Legong ini kepada anak-anak.

Bukan saja karena usianya yang tidak mencukupi untuk memahami alur cerita, namun juga karena tidak mudah dipahami oleh yang tidak terbiasa menonton Legong.  Karena tari Legong  ini sama sekali tidak mengikuti alur  pementasan sederhana seperti jenis tari-tarian lainnya  yang jauh lebih mudah dicerna. Salah satu contoh yang membuat anak saya bingung adalah karena ada penari yang harus memerankan dua peranan yang berbeda, yakni sebagai Condong yang muncul di awal pementasan dan kemudian muncul lagi sebagai burung Gagak di tengah-tengah cerita. Belum lagi mengenai peranan “prabu” yang didalam catatan adalah seorang pria, namun di dalam tarian Legong Keraton ini menggunakan kain yang umum digunakan wanita.

Namun itulah Tari Legong. Sebuah tarian klasik Bali yang memberi nafas kepada banyak rentetan aktifitas seni lainnya di Bali.  Membingungkan bagi penonton awam, namun tidak demikian bagi penonton yang telah terbiasa dengan jenis tarian ini.  Berbeda dengan jenis tari Bali lainnya bukan saja karena pakemnya, namun juga karena jenis musik yang mengiringinya. Tidak seperti jenis tari bali lainnya yang banyak diiringi musik Gong Kebyar yang temponya sangat cepat dan dinamis, Legong biasanya diiringi dengan musik Semar Pegulingan yang  bernuansa lebih klasik dan anggun. Ada banyak jenis tari Legong. Namun yang saya tonton kali ini adalah Tari Legong Keraton yang sering juga disebut dengan Legong Keraton Lasem.

Bagian menariknya adalah, walaupun tari ini ditarikan dengan pakem tari Bali klasik, namun seperti judulnya, Tari ini  sebenarnya bertutur tentang kisah Prabu Lasem dari cerita Panji pada jaman Kerajaan Kediri di Jawa Timur. Melakonkan kisah Prabu Lasem yang bermaksud untuk meminang putri Rangkesari, adik perempuan Prabu dari   Kerajaan Daha (Kediri). Namun pinangannya ditolak oleh sang puteri yang sudah memiliki ikatan dengan pangeran dari Kerajaan Kahuripan. Sang Prabu Lasem bermaksud menculik Puteri Rangkesari, yang tentunya membuat Prabu Daha marah. Di dalam perjalanannya Sang Prabu Lasem diserang oleh seekor burung Gagak yang memberi isyarat kepadanya bahwa ia akan kalah dalam peperangan melawan Prabu Daha.

Jelas sekali bisa kita lihat di sini betapa kebudayaan Jawa, terutama Jawa Timur mempengaruhi kesenian Bali dengan sangat kuatnya. Dan setahu saya, kisah-kisah Panji dari Jawa Timur bukan saja diaplikasikan pada salah satu jenis Tari Legong ini, namun juga pada beberapa Pementasan Seni lain seperti misalnya Drama Gong,  pementasan  Gambuh maupun Bondres. Seringkali pementasan-pementasan itu mengambil lakon Kisah Panji.  lakon Jawa dalam selera Bali!!.

Saya sendiri bahkan tidak yakin, apakah lakon-lakon cerita panji seperti ini  juga masih banyak diterapkan dalam kesenian di Jawa Timur? Barangkali ada yang tahu?

14 responses »

  1. Ya Kang.. kayanya semua orang di bali begitu.
    Karena jika di Sunda anak umur 5 tahun disuruh belajar mengaji oleh bapaknya, kalau di Bali anak umur 5 tahun disuruh belajar menari oleh bapaknya he he

  2. Secara geografis Jawa Timur-Bali kan dekat banget Mbak Dani. Lalu lintas purba para nenek moyang pasti saling mempengaruhi, entah dalam kesenian maupun cara hidup yang lainnya. Sewaktu baca novel Arok-Dedes, saya juga baru tahu ternyata jaman antah berantah saja, para ulama Hindu Jawa-Bali sudah saling kerjasama dalam hal keagamaan.

    Mengenai tari legong ini, kayaknya aku yg belum pernah nonton butuh ringkasan cerita terlebih dahulu baru bisa mengerti Mbak. Struktur tarianya pasti dibangun dari filosofi juga ya

  3. Mbak, budaya dari Jawa dan Bali ternyata bisa menyatu dan menjadi sebuah tarian yang indah…
    Saya pernah beberapa kali menyaksikan tari legong ini di Bali karena kalao ada acara kesana dengan rombongan teman, biasanya tari legong ini akan jadi salah satu acara wajib yang harus disaksikan…meriah kostumnya, rancak gayanya…😀

  4. cerita Panji itu katanya panjang sekali ya, menyebar sampai ke mana2
    pernah melihat pementasan Legong di tv doang jaman dulu he…he…, cuma nggak ingat Legong apa
    belum pernah lihat langsung, pasti senang banget kalau nonton ditemani mbak Dani

  5. duh aku belum bisa menikmati tarian Jawa dan Bali, mungkin karena aku tidak mengerti ceritanya juga ya…. Bagaikan orang asing yang nonton Kabuki😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s