Semuanya Tergantung Niat.

Standard

Saya sedang berada di sebuah antrian kasir Supermarket yang panjang.  Entah kenapa bulan puasa kok permintaan  akan bahan makanan  malah jadi membludak, sehingga antrian jadi sepanjang ini. Kebanyakan ibu-ibu. Ada yang datang sendiri, ada yang bersama suami, ada juga dengan ibu-ibu lainnya. Barangkali kerabat, teman atau tetangganya.  Saya tidak tahu.Seperti yang di belakang saya. Dua orang ibu muda terlihat asyik mengobrol seru sambil mengantri. Karena saya ada di depannya dan tidak punya pekerjaan yang bisa saya lakukan selain menunggu, diam –diam sayapun  ikut menyimak pembicaraan mereka.

Rupanya ibu-ibu muda ini cukup gaul. Pengguna  media sosial yang cukup aktif. Terlihat dari pembicaraannya yang berkaitan dengan status facebook dan twitter temannya yang narsis dan sombong . Dari rumpian itu, saya menangkap bahwa tokoh ‘teman’ yang dibicarakan  itu  banyak memamerkan foto-fotonya  yang sangat narsis bersama keluarganya saat liburan ke luar negeri di wall facebooknya. Juga tetap narsis  sambil memamerkan hidangan restaurant  mahal tempatnya berbuka puasa  bersama yang menurutnya seharusnya dikurangi saat menjalankan ibadah puasa. Temannya setuju dan mengatakan bahwa iapun membaca kesombongan yang sama dari teman itu juga di twitternya.  Tentu saja saya tidak kenal dengan tokoh teman yang dimaksudkan.

Berikutnya sang teman menceritakan ,bahwa sebenarnya yang sombong dan narsis seperti itu banyak.  Ada yang narsis dengan unjuk foto diri di sana-sini. Ada yang naris dengan memamerkan kekayaan dan jabatannya. Ada juga yang lebih narsis lagi dengan selalu mengupdate statusnya seakan-akan dialah yang lebih beragama, lebih bermoral dan lebih suci daripada yang lainnya.  Yang diupdate selalu nasihat-nasihat kebaikan, yang menurutnya ini adalah jenis upaya pencitraan diri. Menciptakan kesan, bahwa seolah-olah ialah yang paling soleha. Karena belum tentu perbuatan sehari-hari nya seperti itu. Temannya setuju dengan itu sambil mengatakan mudah-mudahan dirinya dijauhkan dari sifat-sifat itu. Lalu berikutnya mengatakan bahwa ada lagi jenis update status yang sok tahu beserta contoh-contoh tweet-nya. Seolah-olah ialah yang paling pinter,paling berwawasan  dan yang lain tidak kompeten. Dan menurutnya, anehnya temannya itu tidak terlihat secara kasat mata bahwa ia sebenarnya sombong.  Kelihatannya alim dan pintar.

Sampai di sini, giliran untuk membayar di kasirpun  tiba. Saya tidak tahu barangkali pembicaraan itu masih berlanjut dengan jenis kesombongan yang lain lagi. Saya sudah tidak mengikuti pembicaraannya lagi. Namun intinya adalah, bahwa kedua ibu-ibu itu mengidentifikasi berbagai bentuk kesombongan yang ia temukan di jejaring sosial dan berharap agar dirinya dijauhkan dari sifat-sifat buruk itu.  Saya pikir ada benarnya juga apa yang dibicarakan oleh kedua orang ibu itu. Sambil menunggu total pembayaran di kasir, diam-diam  saya jadi ikut berdoa agar sayapun dijauhkan dari sifat-sifat buruk yang disebutkan tadi. Dan sebenarnya sedikit khawatir juga , jangan-jangan saya memiliki sifat-sifat narsis dan sombong  yang tinggi juga di dalam diri saya. Karena sayapun suka mengupdate status saya dan mengupload foto-foto saya serupa dengan ‘teman’yang dibicarakan itu. Besar kemungkinan saya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang narsis dan sombong.

Namun entah kenapa, selepas dari antrian itu da sambil mendorong kereta belanjaan saya ke tempat parkir, pikiran saya mulai terkontaminasi dengan pemikiran baru. Barangkali sebagi hasil dari upaya saya untuk mencari pembenaran diri atas apa yang juga saya lakukan di jejaring sosial.   Berbagai jenis kesombongan yang diceritakan itu tentu saja tidak bagus. Namun apakah sebenarnya tokoh ‘teman’ yang dibicarakan itu memang  benar-benar narsis? Memang benar-benar sombong?

Ketika mengupdate status di social media, tentu saja berbagai motivasi bisa saja mendorong. Mungkin saja ada yang ingin pamer ‘kekayaan’nya dengan mengupload segala bentuk kemewahan yang  berhasil dicicipinya – namun sebenarnya banyak juga yang mengupload status serupa tidak dengan motivasi yang sama.  Saat mengupload foto berbuka puasa bersama, barangkali motivasinya adalah ‘sharing’ kebersamaan dan kehangatan persahabatan yang muncul kembali. Atau justru menikmati kebahagiaan hidupnya ditengah-tengah kerabat atau teman-temannya? Apa salahnya dengan orang yang ingin sharing tentang kebahagiaannya?  Bukankah itu sesuatu yang bagus? Motivasinya kan bukan menyombongkan betapa mewah restaurant tempatnya berbuka puasa dan hanya dia yang bisa masuk ke sana sementara orang lain tidak? Tapi betapa berbahagianya dia bisa berbuka bersama. Apa salahnya dengan orang yang menunjukkan dirinya berbahagia?

Demikian juga yang mengupload foto-foto perjalanannya ke luar negeri? Motivasinya apa dulu? Jika motivasinya mau pamer, bahwa hanya ia yang bisa dan orang lain tidak bisa –  tentu  itu kurang bagus- saya setuju. Namun jika ia ingin sharing tentang hal-hal baru yang ia lihat dan pelajari dalam perjalanan hidupnya, bukankah itu sah-sah saja? Barangkali justru memotivasi orang lain untuk berusaha agar suatu saat bisa mengalami perjalanan serupa?  Demikian juga yang dianggap sebagai sibuk membuat pencitraan diri dengan mengupdate status yang berkesan bahwa dirinya beragama, bermoral, berwawasan luas dan sok tahu? Bagaimana kalau motivasinya adalah memberikan pembelajaran bagi dirinya, untuk menyemangati dirinya sendiri, atau bahkan justru memotivasi oang lain ke arah yang positif? Tentu apa yang ia lakukan adalah sesuatu yang positif, bukan?

Jadi menurut saya semuanya sangat relatif.  Tergantung  dari motivasi pelakunya. Dan tergantung juga darimana sudut pandang kita menilainya.  Sepanjang statusnya di jejaring sosial itu tidak menyudutkan pihak tertentu, tidak menyakiti hati  dan tidak merugikan orang lain, saya pikir tidak ada salahnya orang mengupdate statusnya dengan berbagai ragam gaya. Itu adalah masalah kreatifitas dan gaya  setiap individu dalam berbagi pengalaman.

Demikian juga kita sebagai audience-nya. Jika kita berpikir dan berusaha menangkap hal-hal  positif dari  setiap status update  teman-teman kita di jejaring sosial, tentu yang kita tangkap pun adalah bagian yang positifnya saja. Walaupun misalnya teman kita ternyata memang punya niat narsis dan menyombongkan dirinya, namun jika kita melihatnya dengan kacamata positif barangkali niat narsis dan sombongnyapun tidak kita pikirkan dan tidak perlu mengganggu pikiran kita, bukan?.   Sebaliknya jika pikiran kita dilingkupi kecurigaan akan motivasi orang lain, tentu lebih mudah bagi kita untuk menyimpulkan bahwa teman kita itu narsis dan sombong.

Jadi semuanya memang relatif. Tergantung niat kita.

Namun demikian, senang  dan merasa beruntung juga ikut menyimak percakapan ibu-ibu itu. Setidaknya membuat saya jadi berpikir sejenak dan mengambil hikmah akan makna narsis dan sombong yang ada di dalam hati dan pikiran saya.

7 responses »

  1. benar mbak… seharusnya kita juga introspeksi apakah kita itu curigaan/berpikiran negatif thd seseorang atau tidak. Kan ada tombol hide pula, jika dengan melihatnya kita menjadi iri/sebel.

    Aku sendiri sih lebih meng-update foto-foto utk keluarga di Indonesia, ngga peduli teman-teman mikir apa, dan biasanya khusus utk friends saja, tidak public (keluarga saya juga banyak sih shg kalau dipilih satu2 akan membutuhkan waktu.

    Dunia akan damai dan harmonis, jika kita sendiri mengusahakan jgn terbawa emosi yg berlebihan

  2. Kalau segala sesuatu di saring lewat kaca mata positif, apa yg terhidang di depan kita akan positif ya Mb Dani. tapi kalau negatif dan curiga mulu, yg terlihat yah jg jelek2 juga…good point nih mb Dani ,:)

  3. Dan, aku pernah jadi object seperti yang ibu-ibu omongin itu. Gara garanya aku suka upload photo jalan jalan aku. Terus terang aku kaget ternyata respondnya jadi begitu. Yang maksudnya sharing malah disangka narsis. Akhirnya aku bikin list di FB, siapa kira kira yang bisa menerima photo jalan jalan aku dengan baik, siapa yang akan berpikir sinis. Yang berpikir sinis aku blok supaya ngga bisa liat photoku dan itu emang bisa di FB tanpa harus memutuskan pertemanan di FB. Jangankan begitu, pernah statusku jadi bahan arguing aku dan suamiku, gara2 temenku berpikir negatif soal statusku dan mengadukannya ke suamiku, padahal maksudku ngga begitu. Akhirnya aku blok juga orang itu supaya ngga pernah bisa liat statusku. Yah begitulah resiko posting sesuatu di dunia maya. Persepsi orang bisa beda dengan maksud kita. Apalagi orang yang cenderung berpikir negatif atau yang iri dengan keberhasilan orang lain🙂. Jadi selain harus hati hati posting di dunia maya, aku juga pilih audiensnya. Mungkin belum perfect pengkategorian orangnya, tapi aku pikir kalo yang ngga kenal kenal banget, cuek aja berpikir aneh. Tapi kalo yang deket dan kenal dan tau akibatnya kalo mereka liat photo kita, diblok saja🙂

  4. Iya mbak, semua memang ternatung niatnya…kebetulan saya bukan pengguna aktif akun fb ataupun twitter, tapi tulisan-tulisan saya di blog juga suka saya baca berulang kali agar tidak terkesan pamer apalagi sombong…kalau toh ada yang beranggapan seperti itu, apa boleh buat mbak, hehe, tidak mungkin juga kan semua orang selalu menyukai apa yang kita lakukan😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s