Cinta Yang Harus Diperjuangkan…

Standard

Ini kisah tentang La Kitty. Kucing jantan kesayangan anak saya. Ssebelumnya ia adalah seekor anak kucing liar.  Sejak kami adopsi saat masih sangat belia, La Kitty akhirnya tumbuh menjadi seekor kucing rumah yang baik dan sopan.  Saya masih ingat bagaimana ia mulai menarik hati anak saya untuk mengadopsinya. Bagaimana anak saya harus berjuang guna mendapatkan ijin ayahnya untuk mengadopsi La Kitty. Masalahnya, saya dan anak-anak saya adalah tergolong sebagai Ailurophiles (penyuka kucing), sedangkan suami saya adalah seorang Ailurophobes (pembenci kucing).  Memang sangat sulit untuk mencapai titik temunya. Namun dengan usahanya yang positive mengusir tikus yang sebelumnya banyak berkeliaran di halaman belakang rumah, akhirnya La Kitty berhasil memenangkan symphaty dan ijin suami saya untuk tetap tinggal di rumah.

Berikutnya iapun menunjukkan berbagai usahanya untuk belajar menjalani kehidupannya sebagai seekor kucing. Belajar memanjat dan berkali-kali gagal. Namun ia tetap berusaha tanpa mengenal lelah  hingga akhirnya  berhasil dan sukses.  Kemudian seiring dengan berjalannya waktu dan pertumbuhan fisiknya, naluri petualangannya sebagai kucing jantan pun ikut tumbuh dan berkembang. Akhirnya ia mulai berkenalan dengan seekor kucing betina yang berwajah rupawan dengan aura bangsawan yang saya sebut  sebagai Si Aristocat. Rupanya kucing betina yang sangat cantik ini benar-benar menawan hatinya, hingga membuatnya rela ngumbang ( berpetualang) nyaris setiap hari untuk hanya sekedar menemuinya.

Barangkali kebiasaan barunya pergi Ngumbang ini juga ada kaitannya dengan naluri La Kitty sebagai kucing jantan untuk  menjelajahi dan menguasai teritorinya. Namun sayangnya, teritori di perumahan kami ini kelihatannya sudah dikuasai oleh seekor kucing hitam yang jauh lebih senior dan badannya lebih besar dari La Kitty.  Saya menyebutnya sebagai Si Kucing Garong. Tentu saja hal ini memicu pertikaian sengit antara La Kitty dengan Si Kucing Garong. Bukan saja pertikaian dalam memperebutkan teritori, namun juga pertikaian dalam memperebutkan Si Aristocat. Walhasil, La Kitty pulang babak belur. Penuh luka cakar dan bekas gigitan  di sekujur tubuhnya, serta luka bekas  gigi taring yang menancap tajam di pahanya. Anak saya mengobati dan merawatnya dengan baik. Berangsur-angsur luka La Kitty pun menyembuh.

Namun belum sembuh 100%, ia sudah kabur berpetualang lagi dan menantang Si Kucing Garong lagi. Dan pulang kembali dengan luka yang lebih parah dari sebelumnya. Anak saya merawatnya kembali. Beberapa hari berikutnya ia hilang lagi dan besok paginya pulang dengan luka yang sangat parah. Demikian selanjutnya. Tak ada kapok-kapoknya. Hingga sekarang sudah empat kali ia bertarung dengan Kucing Garong itu dan pulang ke rumah dengan kondisi luka yang makin parah. Pagi  itu ia tak sanggup bangun dan berjalan normal. Seharian ia hanya meringkuk dan mengeong pelan. Saya sangat sedih dan kasihan melihatnya.  Sahabat baik saya yang mendengar kondisi La Kitty, menyarankan saya untuk mencarikan La Kitty  seekor kucing betina yang lain. Sebenarnya di sekitar perumahan, banyak sekali kucing betina lain yang berkeliaran. Masalahnya adalah, La Kitty lebih suka mempertaruhkan nyawanya bertarung dengan Si Kucing Garong itu untuk memperebutkan Si Aristocat. Yang akhirnya membuatnya menderita dan babak belur.

Saat melihatnya meringkuk babak belur, saya jadi ingin tahu, apa sebenarnya yang ada dalam pikiran seekor kucing saat dirinya berada dalam situasi seperti itu? Mengapa ia rela dan tidak ada kapok-kapoknya menantang Si Kucing Garong itu, walaupun harus terluka berkali-kali? Saya tidak tahu jawabannya. La Kitty pun hanya meringkuk dan mengeong lemah lalu tertidur.

Namun satu pelajaran yang jelas bisa saya petik dari La Kitty adalah betapa kucingpun punya semangat hidup yang tinggi. Walaupun ia berasal dari kehidupan liar tanpa peradaban, ia punya keinginan untuk berhasil dan mencapai sesuatu. Ia punya mimpi. Punya passion. Punya semangat yang tinggi dan keinginan untuk tetap berusaha yang tak pernah putus. Coba lagi dan coba lagi hingga suatu saat berhasil. Demikian juga ia memiliki cinta.  Cinta yang harus diperjuangkannya dengan tidak mudah. Meski babak belur dan luka parah (note – saya tidak tega memuat fotonya yang sedang luka parah di sini).  Namun ia tetap berjuang dan yakin. Suatu saat impiannya akan berhasil. La Kitty fights for love !!!.

Passion and Love. A kind of lesson…

 

16 responses »

  1. La Kitty pejantan sejati Made,,, rela berkorban demi rasa cintanya pada Si Aristocat…

    kalao dia bisa ngomong mungkin akan bilang “demi cintaku padamu, Aristocat aku pertaruhkan nyawaku”..

    ngumbang mungkin sama dengan nganjang ya made dalam b sunda.

  2. kucing memang pantang menyerah ya. kucing kami dulu betina tapi kelakuannya kayak kucing jantan. tomboy banget, manjat2, mengeong2 minta makan sama siapa aja tanpa malu. pacarnya juga banyak. yang jantan biasanya ngeong2 dari belakang rumah, buat ngajak ngedate.

  3. Mbaaak, saya selalu nggak tega punya hewan peliharaan karena suka nangis berlebihan kalau terjadi apa-apa dengan dia…semoga kucingnya cepet sembuh ya…ikutan sedih bacanya, tapi saya yakin, semangat La Kitty akan mempercepat proses kesembuhannya…

  4. cerita tentang La Kitty, saya juga teringat akan dua ekor kucing yang saya pungut setahun lalu dari pinggir masjid di ketika saya sedang bersepeda motor, ndak tega liat kondisinya yang masih umur 2 bulan sudah dbuang, mungkin kbanyakan nangis sampai matanya bengkak dan ora bisa terbuka sama sekali, akhirnya saya masukkan ke jaket dan saya bawa pulang. berhubung dirumah sebelumnya sudah ada 6 ekor kucing, harapan saya biar ada temannya (sesama kucing kecil), tiap hari aku seka matanya dengan air hangat dan tak kasih salep , namun salah satu dari dua ekor kucing tersebut wafat setelah 1 minggu saya rawat, mungkin karena terlalu klaparan swaktu sebelum tak temukan di pinggir masjid, ternyata yang satu lagi setelah 2 bulan aku rawat dan matanya telah sembuh total dia wafat menemui saudaranya, dia wafat tertabrak motor😦
    (riskan memang klo rumah deket dengan jalan raya)

  5. Kucing dulu saya banyaaakkkk banget mbak. Rumah saya tak ubahnya penampungan kucing terlantar yg sering sy bawa pulang dengan kondisi yang bikin saya ngelus dada. Buat yg betina sy bw ke klinik untuk di OH. Yg jantan sih sy biarin aja. Salah satu kucing jantan sy, si Omeng, pas masa pubernya suka ngeluyur. Tp kalo berantem, sebelum babak belur spt La Kitty dia mah udah ngibrit balik ke rumah dan ngumpet. Alhasil saya pun harus melindunginya dari kucing jantan yg mengejar dia.

    btw, salam kenal mbak….

  6. Pingback: Animal Behaviour – Kisah Kepahlawanan Seekor Kucing. | nimadesriandani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s