Video Camera.

Standard

Sementara masih perlu membeli sesuatu di lorong snack, saya melihat antrian di kasir hypemarket tempat kami berbelanja sangat membludak. Pasti bakalan lama menunggu giliran membayar. Akhirnya kami sepakat, suami dan anak-anak  yang akan mengantri di kasir. Saya menyusul. Suami saya berkata ia akan mengantri  di kasir yang paling  sepi. Biasanya yang letaknya paling jauh dari area makanan segar. Antrian di kasir yang dekat makanan segar sangat panjang. Karena orang justru membeli lebih banyak bahan makanan di bulan puasa ini.

Saya setuju, lalu mengambil snack secepatnya, dan terburu-buru berjalan ke kasir yang paling ujung. Suami dan anak-anak saya ternyata tidak kelihatan ada di situ.”Oh, rupanya belum sampai” pikir saya. Saya menunggu sambil menengok ke kiri-kanan berharap mereka segera muncul. Sepuluh menit lewat  belum juga muncul.  Akhirnya saya memutuskan untuk mencarinya ke area di mana tadi kami terpisah. Mereka juga tidak ada di tempat itu. Sayapun segera balik kembali ke antrian kasir yang di ujung. Menunggu lagi dengan harap-harap cemas. Namun suami dan anak-anak  tetap tidak kelihatan. Saya mencoba menelpon. Tidak diangkat. Lalu saya tinggalkan pesan di blackberrynya. Juga tidak dibalas.

Akhirnya saya mencoba meneliti sekilas orang-orang yang berdiri di antrian kasir yang lain. Saya tetap tidak menemukan keluarga saya. Saya mengitari kembali hypermarket yang luas itu. Lumayan gempor juga. Dan suami saya tetap tidak ada.  Saya balik kembali menelusuri antrian kasir satu per satu. Suami dan anak-anak tidak ada. Saya coba telpon lagi. Tetap tidak  diangkat. Sekarang saya benar-benar mulai galau dan cemas. Dalam keputus-asaan itu, saya memutuskan untuk sekali lagi berputar menyusuri lorong demi lorong hypermarket itu yang semakin ramai dan semakin membuat saya pusing.

Ketika melintas kembali di  tempat di mana sebelumnya kami berpisah, tiba-tiba saya mendengar teriakan anak saya “ Mamaaaa!!!”. Anak saya berlari dan segera memeluk saya. Rupanya ia diutus papanya untuk berputar di lorong-lorong mencari saya yang hilang. “Mama, kok belanjanya lama sekali? Kita sudah selesai bayar di kasir. Sekarang papa sudah menunggu di tempat parkir” Jelas anak saya.  Lho? Saya jadi heran. Mengapa saya sama sekali tidak melihatnya  di  kasir. Sayapun segera keluar dari hypermarket itu dan terburu-buru masuk ke dalam kendaraan dimana suami saya sudah menunggu.

Wajahnya terlihat kesal dan tidak bersahabat. Ia menegur keteledoran saya. Biasanya saya tidak membantah sepotongpun perkataan suami saya jika ia sedang kesal. Tapi entah kenapa, kali ini rasanya saya sangat lelah.  Dan saya pikir saya benar. Mengapa saya harus selalu mengalah?.  Saya nekat menjawab dengan wajah yang juga tidak kalah manyunnya. Tentu saja ia kaget, karena tak pernah melihat saya seperti itu sebelumnya. Saya katakan bahwa ia mengingkari janjinya untuk bertemu di kasir yang sepi yakni yang paling di ujung jauh.Tapi ia berargue bahwa kasir yang sepi tidak selalu berarti yang paling ujung. Jadi menurutnya sayalah yang tidak memakai logika. Yah..! Wokelah! Suami selalu benar.  Saya cape.

 “Dua-duanya salaaah!” Tiba-tiba anak saya yang kecil nyeletuk, yang segera diiyakan oleh kakaknya. Saya terkejut. Menyesal karena telah berargumentasi dan menunjukkan situasi yang kurang nyaman di depan anak-anak. Rupanya diam-diam anak-anak menyimak pembicaraan kami dan menyerap situasi. Dan barangkali anak saya benar. Saya terlalu lelah, sehingga cenderung menganggap diri saya benar dan menyalahkan suami saya. Tapi bagaimana dengan suami saya? Jangan-jangan ia juga sama lelahnya dengan saya?. Atau bahkan lebih lelah? Oh, mengapa tiba-tiba saya menjadi seegois ini? Seringkali kita merasa lebih benar dan pasangan kita lebih bersalah, hanya karena kita melihatnya dari sudut pandang diri kita sendiri tanpa mampu melihat dari sudut pandang sebaliknya.

Saya melihat ke wajah suami saya yang sedang melihat ke  wajah saya.Kamipun tertawa. Hilang rasanya semua kekesalan hati. Tapi malu juga pada anak-anak. Lalu saya jelaskan bahwa papa mama tidak sedang bertengkar. Hanya sedikit selisih pendapat. “Ooh..tidak!. Itu kan sama juga dengan aku kalau beda pendapat sama kakak. Kata mama tidak boleh bertengkar”. Katanya. Saya  merasa bersalah terhadap anak-anak.

Beberapa hari kemudian, saya dan keluarga berkumpul di ruang tengah. Sibuk dengan bacaannya masing-masing. Tiba-tiba anak saya bertengkar. Saya mencoba melerainya. Namun si kecil menjawab. “Ini kan sama saja dengan papa mama. Bertengkar juga kan?” katanya. Saya mecoba membantah, bahwa kami tidak bertengkar. Namun anak-anak jaman sekarang tidak mudah untuk dikibuli. Mereka datang dengan kemampuan beragumentasinya yang sangat baik. Dimana kesimpulan akhirnya bahwa, kami memang bertengkar saat habis berbelanja itu.  “Ya, oke. Bertengkar ringan. But that’s only once” kata saya mengakui akhirnya.  Hanya sekali itu saja. Selebihnya kami tidak pernah bertengkar.Sang kakak menjawab dari balik bukunya “ I don’t know!. Mungkin aja papa mama sering bertengkar di belakang kita. May be not once.  Mana kita tahu?” katanya. Yang membuat saya dan suami saya jadi tertawa.

“Anak-anak mulai besar. Kita tidak bisa menutupi apapun. Mereka akan mencari tahu.  Mungkin kita yang harus mulai lebih bijak. Dan lebih terbuka pada anak-anak”. Kata suami saya ketika anak-anak pergi. Ya, saya tahu kami harus lebih bijak. Juga barangkali harus lebih natural. Tapi entah bagaimana caranya, belum terpikir oleh saya. Oleh karenanya, saya hanya menjawab kalimat suami saya dengan senyuman.

Yang jelas sekarang saya berpikir bahwa anak-anak sangat mirip dengan Video Camera. Mereka merekam semua yang diucapkan dan dilakukan oleh orangtuanya. Merekam dan mencatatnya di dalam pikiran dan perasaan mereka. Apakah sebaiknya saya sebagai orangtua harus bersikap mirip artis? Hanya memperlihatkan sisi-sisi baiknya saja di depan Video Camera itu? Lengkap dengan make up dan accessories? Ataukah sebaiknya membiarkan Video Camera mereka merekam segala sesuatunya seperti apa adanya? Alami. Tanpa polesan make up dan dandanan yang berarti.

Saya membayangkan wajah saya yang bopeng-bopeng penuh bekas jerawat dan noda hitam kena sinar matahari. Namun demikian, saya tetap  berharap, bisa tetap tampil seperti apa adanya dengan  cukup baik dan tidak terlalu mengecewakan di depan Video Camera itu.

7 responses »

  1. Suka dengan kisah ini, mbak…betapa di depan anak-anak yang mulai dewasa kita memang harus hati2 dalam bersikap maupun bertindak. Tidak peril kelihatan terlalu sempurna karena itu malah membuat mereka bertanya-tanya…tapi berselisih pendapat ekstrem di depan mereka, juga tidak bijaksana…makasih sudah berbagi cerita ya😀

  2. Anak-anak bagaimana pun melakukan ‘mirroring’ dari yang orang tua mereka perbuat. Jadi memang alangkah baiknya kalau ‘pertengkaran’ seperti apa pun yang muncul, bisa disikapi dengan bijaksana.😀

    Cerita yang sangat menarik Mbak Made.

  3. wahaha anak2nya pinter. anak2 memang belajar dari apa yang dia lihat dari orang dewasa. saya seumur2 baru sekali liat orangtua saya berantem. lebih seringnya kalo bapak saya lagi kesel, emak saya justru makin godain sambil cengengesan usil.😆

  4. Jadi terbayang2 ada emak kehilangan induk di swalayan yg sedang ramai. Bplak-balik mencari, kemana ya anak2 dan suamiku..Hahaha..Mbak Dhani lucu banget membayangkan dirimu tersesat dalam supermarket begitu…

  5. Anak-anak bertumbuh dengan cepat ya Jeng dan menjadi ‘partner setara’ dalam keluarga, video camera keluarga semua jadi pelaku sekaligus kameramannya ya, ikutan belajar dari postingan ini. Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s