Sejuta Inspirasi Dari Sulur.

Standard

Bagi seorang pekerja seni, mencari inspirasi, mendapatkannya dan mengaplikasikannya pada karya seninya adalah sebuah rutinitas. Inspirasi bisa datang darimana-mana. Dan tak bisa dipungkiri, inspirasi terbaik selalu datang dari alam. Alam telah menyediakan pattern-pattern yang mempesona di setiap hal yang kita temukan. Pada  biji bunga matahari, pada bunga brokoli, daun pakis muda yang bergulung, pada indahnya nyanyian burung dan sebagainya. Semuanya bisa kita nikmati keidahannya secara langsung, ataupun kita ambil inspirasinya untuk kita aplikasikan kembali ke dalam seni manusia. Jejak mahakarya Sang Seniman Agung, pencipta Alam Semesta ini.

Salah satu jejak seni alam yang saya temukan sangat inspiratif kali ini adalah Sulur. Sulur dari tanaman rambat keluarga mentimun ( Cucurbitaceae) yang kebetulan tumbuh di tembok kali di belakang rumah saya. Sulur sendiri adalah alat bantu bagi tumbuhan merambat untuk memperkuat status rambatannya dengan cara memegang benda di dekatnya dengan kuat (pagar, ranting tanaman lain) agar tidak meleyot jatuh. Barangkali masih ingat pelajaran di sekolah dulu, bahwa sulur bergerak atas reaksi sentuhan  dari benda yang berada di dekatnya (tigmotropisme). Sebagai akibatnya, sulur ini membentuk pola-pola indah yang  sangat mempesona saat kita melihatnya.

Sebuah sulur yang sangat indah.  Jatuh menjuntai dengan lembut ke bawah, kemudian menekuk dengan extreem sebelum kemudian membentuk spiral empat lingkaran mendatar yang sangat indah. Saya menyukai pola lingkaran sulur ini yang menyerupai mata burung.

Sulur yang ini, juga menjuntai ke bawah dengan sangat indahnya. Dimulai dengan gerakan terjun ke bawah, lalu gerakan memutar yang meninggalkan  kesan seperti huruf double “Ee” yang  indah. Tergantung apa yang ada imajniasi kita. Sebagai ibu rumah tangga yang bekerja di dapur, sulur inipun mengingatkan saya akan alat pengocok kuning telor yang digunakan oleh Kompyang saya (nenek buyut) pada jaman dulu.

Berikutnya adalah sulur yang juga sangat saya sukai,karena bentuk sulur ini mengingatkan saya akan rambut seorang teman saya yang sangat cantik dengan rambut indah selalu dikriwil menjuntai seperti sulur ini.  Cantik bak rambut bidadari. Barangkali ia membutuhkan waktu berpuluh-puluh menit  dipagi hari untuk duduk di depan meja riasnya.

Sulur ini sangat saya sukai. Memandangnya membuat saya teringat akan keindahan masa remaja. Begitu belia. Begitu ceria dan penuh akan optimisme hidup.

Siapa bilang hidup harus selalu teratur? Terlalu teratur membuat hidup menjadi terasa sangat  monotone dan kurang variasi. A kind of boring!. Sulur ini seolah sedang mengungkapkan  protesnya terhadap aturan-aturan yang membelenggu. Ia menunjukkan gayanya sendiri. Yang beda dan terasa sedikit ‘rebellion’. It’s ok to be not ok…

Saya juga sangat menyukai sulur yang ini. Memandangnya berlama-lama, membuat saya merasa seolah diperlihatkan akan sebuah contoh tentang kerukunan hidup. Live life in a cluster. Hidup bersama, tanpa harus saling menyakiti satu sama lainnya.

27 responses »

  1. Dalam hal terkecil di lingkungan kita sekali pun, ternyata kita masih saja bisa melihat keagungan Tuhan.😀

    Tulisan yang mencerahkan Mbak.😀

  2. Perhiasan, lukisan dan karya seni lain banyak yg terisnsiprasi oleh sulur. Saat saya masih di desa, sulur yg paling sering saya temui adalah sulur labu siam (jipang) karena sering sekali disayur bersama buahnya.

  3. saya juga suka mengamati sulur, kebetulan ada pohon markisa yang merambat di pohon mangga di depan rumah. Saya suka berada di bawahnya, mengamati sulur-sulurnya, membandingkan bentuknya, memetik lalu merangkainya dan dijadikan mainan untuk anak-anak🙂

  4. Jadi ingat pada sayur pucuk labu yg suka saya makan. biasanya sulurnya saya buang. siapa kira bisa jadi pembangkit ide kreatif seorang Mb Dhani🙂

    • Iya.. sulur labu, terutama kalau sudah tua seratnya mengeras dan nggak nyaman kalau dimakan. makanya kita buang ya Mbak. tapi kalau masih muda sih sebenarnya empuk juga sih he he.

      Tapi sulur memang indah kan Mbak? he he cari teman..

  5. Pingback: Flora Giribangun | RyNaRi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s