Nyala Api Dan Pemantiknya.

Standard

Saya melihat sebuah pemantik api tergeletak di rak buku, ketika sedang berbenah. Saya coba nyalakan. Rupanya pemantik api itu sudah rusak. Maka sayapun membuangnya ke tempat sampah. Barangkali gas butana yang digunakan sebagai sumber energynya sudah habis.

Saat membuangnya ke tempat sampah, barulah untuk pertamakalinya saya memikirkan bagaimana sebuah pemantik api bekerja. Dan betapa pentingnya fungsi pemantik api itu dalam kehidupan kita sehari-hari.  Pemantik api kita nyalakan saat kita membutuhkan api. Api untuk untuk menyalakan lilin, menyalakan rokok bagi para perokok, membakar sampah, membuat bara guna membakar besi baja untuk membuat parang dan cangkul  dan sebagainya. Bahkan di dalam kompor dapur kitapun terdapat pemantik untuk menyalakan api yang dibutuhkan untuk memasak. Untuk setiap nyala api, selalu dibutuhkan pemantik.

Kalau dipikir-pikir, nyala api sangat mirip dengan semangat hidup di dalam diri kita. Menyala dengan terang benderang. Sesekali membesar dan membakar. Namun tak jarang juga meredup dan bahkan mati tertiup angin. Ada orang yang selalu memiliki nyala api yang berkobar mirip si jago merah  yang melalap atap rumah dan segala sesuatu di sekelilingnya tanpa ampun. Ada orang yang memiliki nyala api  sedang sedang saja bak api di pembakaran sampah yang cepat besar dan kemudian cepat mati meninggalkan asap putih yang memedihkan mata. Yang lainnya ada juga yang memiliki nyala api kecil  yang tenang dan lebih teratur hingga akhir hayatnya, mirip dengan cahaya lilin yang dimanfaatkan untuk menerangi ruangan.

Berbeda beda. Namun setiap orang membutuhkan nyala api semangat agar tetap bertahan hidup. Namun apa sebenarnya yang menjadi pemantik api semangat di dalam diri kita? Bagaimana kita  harus menjaga nyala api semangat hidup kita agar tidak mudah mati hanya karena hembusan angin kecil dalam kehidupan kita? Pertanyaan itu seperti berdengung di dalam kepala saya.

Tentu saja saya tak mampu menjawabnya secara akurat. Banyak hal mungkin saja menjadi pemantik bagi setiap semangat di dalam diri seseorang. Cinta, ambisi, harga diri, perasaan tak mau kalah  dan sebagainya, sangat mungkin menjadi pemicu bagi seseorang untuk bersemangat melakukan sesuatu. Namun saya pikir Cinta sesungguhnya adalah salah satu pemantik api semangat yang paling positive dan paling berpengaruh di dalam kehidupan manusia. Banyak orang  terpicu semangatnya karena cinta.  Termasuk saya sendiri.

Saya ingat ketika pertama kali benar-benar jatuh cinta kepada  seseorang, akhir pekan terasa sangat panjang. Saya sangat semangat untuk datang pagi-pagi ke sekolah. Walaupun hanya memandang pintu kelasnya saja sudah terasa senang. Atau hanya sekedar melihat sepatunya dari kejauhan, rasanya sudah sangat berbunga-bunga.  Hidup terasa lebih indah. Lebih semangat belajar, lebih semangat menggambar, lebih semangat menulis, lebih semangat berolah raga, lebih semangat berkesenian dan sebagainya. Nyala api semangat yang tinggi, karena ingin menunjukkan kepadanya, bahwa saya memiliki kwalitas  yang baik dan layak untuk dipilihnya,  lebih dari hanya sekedar menarik secara fisik. Itulah cinta, sang pemantik api semangat hidup. Walaupun pada akhirnya, pria yang menjadi pemantik api hidup saya itu tidak memilih saya juga. Apa boleh buat. Tapi tidak apalah, setidaknya pria itu pernah membakar semangat di dalam diri saya. Saya tetap berterimakasih dan tetap menghormatinya.

Demikian juga ketika saya menemukan cinta di fragment kehidupan saya selanjutnya. Selalu cinta hadir untuk memberikan saya semangat  hidup terus dan terus.  Cinta membuat saya rela mengorbankan hidup saya dan mengambil resiko atasnya. Saya bersemangat dan terus bersemangat menjalani kehidupan saya. Sehingga tidak ada sebuah kesusahanpun yang terasa benar-benar susah.

Terlebih lagi ketika punya anak. Hidup terasa di dalam pelangi yang penuh warna. Warna yang indah dan sumringah. Apapun bersedia kita lakukan demi anak. Bekerja lebih giat, agar bisa mendapatkan uang untuk membeli susunya, membayar  makanan, pakaian, mainan dan sebagainya hingga membawanya ke dokter.  Tetap semangat, walaupun harus terus begadang dan sangat kurang tidur  demi bisa  menyusui dan merawatnya saat sakit. Semuanya dilakukan dengan semangat yang tinggi. Penuh kesediaan  diri untuk berkorban demi kebaikan dan kebahagiaan buah hati kita. Unconditional love!!!. Sungguh cinta yang tanpa syarat yang membuat nyala api semangat kita tak pernah pudar.

Karena cinta ada di sekitar kita. Diantara keluarga dan sahabat-sahabat kita, sebenarnya tidaklah sulit bagi kita untuk tetap membuat hidup kita tetap sumringah penuh nyala api semangat.  Saya pikir, jika kita mengingat mereka yang kita cintai setiap saat,  jalin komunikasi dan kedekatan yang suportive dengannya, maka dengan sendirinya api semangat kita akan menyala. Dan dengan demikian kita juga tetap bisa mengambil peranan sebagai pemantik api semangat mereka juga.  Karena memang bukan hal yang tidak mungkin, bahwa sesungguhnya kita  adalah sumber pemicu bagi beberapa orang lain untuk tetap semangat dan berkreasi. Sepanjang itu adalah sesuatu yang positive, lalu mengapa kita tidak bantu agar api semangatnya tetap menyala dengan baik?

Mari kita menjaga nyala api semangat di dalam diri kita dan sekaligus  menjadi  pemantik yang positive bagi orang-orang yang kita cintai juga.

4 responses »

  1. sudah beberapa hari ini saya sedang bersemangat membuatkan pedang pedangan dari kayu untuk anak tercinta.. untuk menunjang aktifitasnya yg sekarang dia ikuti..
    satu jadi minta lagi di buatkan yang lain, model mengacu pada gambar di inet. katanya harus sama persis… ungtung saya masih inget masalah skala dan hasilnya lumayanlah tidak begitu melenceng dari gambar hehe…

    setuju Made cinta jadi dasar penyemangat dalam hidup….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s