Show Me The Meaning Of Being Lonely…

Standard

Lapangan itu sepi. Tidak ada kaki-kaki kecil yang berlari mengejar bola. Tidak ada riuh rendah teriakan dan sorakan dari bibir-bibir mungil yang riang gembira menyemangati permainan. Hanya sebuah bola kotor oleh debu teronggok di pojok lapangan. Sejak bulan Ramadhan, aktifitas anak-anak di lapangan itu sangat berkurang dan nyaris tidak ada. Memandang lapangan itu dari sudut halaman rumah, terasa kesepian merangkak diam-diam ke dalam hati saya. Alangkah sepinya waktu.

Sepi. Ada banyak moment yang membuat kita merasa sangat sepi. Di perumahan,saat menjelang hari raya Idul Fitri, orang-orang pada mudik, pulang ke kampung halamannya masing-masing. Suasana perumahan terasa mendadak sepi. Bagi ibu rumah tangga, kesepian adalah saat si Mbak yang membantu di rumah dan si Mas tukang sayur langganan tiba-tiba tidak ada. Tidak terdengar celoteh riang si Mbak di sudut dapur, maupun di ruang mesin cuci. Sepi terasa menyerbu saat melihat tumpukan piring-piring kotor  di bak cuci, ataupun tumpukan baju kering yang belum terseterika. Berharap si Mbak segera datang kembali.

Kesepian mungkin juga berarti bagi sang pencinta yang menunggu sepotong pesan dari kekasihnya nan tak kunjung tiba. Wahai sang penakluk hati, dimana gerangan kau berada? Apa yang sedang kau rasakan dan pikirkan? Mengapa Tuhan tak mengijinkan aku bersamamu? Dan berjuta ketidakpahaman, keraguan dan kekhawatiran. Berbagai upaya ia lakukan  untuk menampik pikiran buruknya, dan harapan akan cinta tetap berpihak kepada dirinya. Namun kesepian  tetap jua merasuk ke dalam lorong-lorong hatinya yang panjang dan berliku. Beribu doa yang tulus bagi kebahagiaan dan kebaikan kekasihnyapun tak habis ia panjatkan.

Demikian juga kesepian  berarti bagi sang perantau yang terenggut oleh nasib, terpaksa dipisahkan dari keluarga yang dicintainya. Berada ratusan kilometer jaraknya dari orang-orang yang mencintainya dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Kesepian melanda saat melihat bulan purnama yang mengambang di langit malam. Kesepian juga berkumandang di setiap detak jam dinding yang bergerak tanpa letih. Semua mengingatkannya kembali akan kidung-kidung purba  yang menghias hatinya. Akankah waktu memulangkan kembali  semua kehangatan yang dulu pernah menjadi miliknya?

Kesepian juga mungkin berarti bagi seseorang yang  berada di puncak karirnya. Dimana setiap orang mengelu-elukan dan mendekatinya hanya untuk mendapatkan sympathy guna  kenaikan gaji dan pangkat darinya. Tiada teman sejati yang berteman penuh kemurnian dengan dirinya. Kepalsuan dan kepura-puraan mengelilingi dan mendominasi kehidupannya. Ketulusan seolah terdepak tak berdaya begitu saja. Kehampaan melanda hatinya bak tembok-tembok beton yang berdiri kaku di jalan layang penuh kemacetan. Kesepian di dalam dunianya yang ramai.

Kesepian. Dan kesepian. Masih banyak bentuk kesepian lainnya lagi yang melanda hati manusia. Kesepian terkadang merusak diri dan jiwa, jika kita membiarkannya membuat sarang-sarang negative-nya di hati kita.  Kesedihan dan keputus-asaan. Kecemburuan dan syak wasangka. Semuanya memberi pupuk bagi alang-alang liar yang tumbuh di hati kita. Namun sesungguhnya kesepian juga bisa kita ambil hikmah positive-nya.

Kita bisa memanfaatkan keadaan sepi ini dengan melakukan aktifitas yang berguna dan sekaligus mampu membunuh rasa kesepian. Misalnya dengan membongkar dan menata ulang kembali rak buku, mencoba resep masakan baru, belajar karate, belajar merajut cardigan atau melakukan hal-hal menyenangkan lainnya yang sudah lama tidak kita lakukan.

Kesepian memberi kita ketenangan untuk melakukan perenungan diri dan kontemplasi.Menyadari segal hal yang telah kita lakukan. Memilah mana yang baik dan buruk. Barangkali ada tindakan maupun pekataan kita yang tanpa sengaja telah menyakiti hati seseorang atau membuat perasaan orang lain kurang nyaman. Memohon ampun kepadaNya agar segala kesalahan yang kita perbuat bisa dimaafkan. Persis seperti yang biasa dilakukan burung merpati menelusuri dan mematuki  bulu-bulunya untuk memastikan tidak ada parasit ataupun jamur yang tumbuh diantara bulu-bulu indahnya.

Jadi sepi tidak selalu harus membuat kita merasa kesepian, jika kita berusaha memandangnya dari sudut positive.

17 responses »

  1. selama puasa ini saya sampe ngerasain gelisah karena suasana yang bener2 sepi. seolah satu kota ini collapse.😕 tapi saat akhir pekan atau malam minggu ada ramai2 lagi walau gak serame hari biasa. gimana besok kalo udah pada mudik. sementara saya sama keluarga gak mudik. mungkin bisa diantisipasi dengan jalan2 sendiri kali ya.

  2. Wah perenungan yg sangat dalam ttg kesepian Mb Dani. Jadi sepi itu terputusnya kontak batin kita dari sesuatu yg biasanya membuatbya sibuk ya. Dan setuju sekali kesepian membuat kita bisa kontemplasi. Kesepian juga yg memampukan jiwa kita tumbuh🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s